Soeharto: Arsitek Pembangunan, Bayangan Kontroversi
Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia, adalah sosok sentral yang membentuk lanskap politik dan ekonomi Indonesia selama lebih dari tiga dekade, dari tahun 1966 hingga 1998. Masa kepemimpinannya, yang dikenal sebagai Orde Baru, adalah periode penuh paradoks: pembangunan pesat di satu sisi, namun juga diwarnai otoritarianisme dan kontroversi di sisi lain.
Naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan tak lepas dari gejolak politik pasca peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), ia secara bertahap mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno, menandai dimulainya era Orde Baru.
Di bawah kendalinya, Orde Baru memprioritaskan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Program pembangunan lima tahun (Repelita) digulirkan, berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi, modernisasi infrastruktur, dan swasembada pangan. Indonesia bertransformasi dari negara agraris menjadi lebih industrialis, menarik investasi asing, dan meningkatkan taraf hidup sebagian besar rakyatnya. Soeharto dipuji sebagai "Bapak Pembangunan" yang berhasil mengangkat Indonesia dari keterpurukan ekonomi.
Namun, capaian tersebut dibayar mahal. Untuk menjaga stabilitas, Orde Baru menerapkan pendekatan yang sangat otoriter. Kebebasan sipil dibatasi, kritik dibungkam, dan pelanggaran hak asasi manusia kerap terjadi. Sistem politik didominasi oleh militer, dan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi semakin merajalela, terutama di lingkaran kekuasaan.
Krisis moneter Asia tahun 1997-1998 menjadi pemicu keruntuhan rezim Orde Baru. Gelombang demonstrasi besar-besaran menuntut reformasi dan pengunduran diri Soeharto, yang akhirnya ia lakukan pada 21 Mei 1998. Kejatuhannya menandai berakhirnya sebuah era panjang dan dimulainya babak baru demokrasi di Indonesia.
Hingga kini, warisan Soeharto tetap menjadi perdebatan. Ia dipuji karena membawa kemakmuran dan stabilitas, namun juga dikutuk karena praktik represif dan korupsi yang masif. Sosoknya adalah cerminan kompleksitas sejarah Indonesia, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam perjalanan bangsa.