Dari Majelis Kuno ke Suara Rakyat: Sejarah Singkat Parlemen
Parlemen, jantung demokrasi modern, adalah lembaga yang sering kita dengar. Namun, perjalanan dan evolusinya dari sekadar perkumpulan kuno hingga menjadi pilar utama pemerintahan saat ini adalah kisah panjang yang penuh intrik dan perjuangan.
Akar Kuno dan Benih Awal
Konsep majelis yang mewakili rakyat atau membatasi kekuasaan penguasa bukanlah hal baru. Sejak zaman kuno, berbagai peradaban memiliki bentuk-bentuk dewan atau pertemuan. Yunani kuno memiliki "Boule" dan "Ekklesia" tempat warga membahas urusan negara, sementara Kekaisaran Romawi memiliki Senat yang berpengaruh.
Namun, cikal bakal parlemen modern seperti yang kita kenal sekarang sering dikaitkan dengan Inggris. Pada abad pertengahan, raja-raja Inggris sering memanggil "Great Council" atau "Witenagemot" yang terdiri dari bangsawan dan rohaniwan untuk meminta nasihat atau persetujuan, terutama untuk urusan pajak atau perang.
Magna Carta dan Kelahiran Parlemen Inggris
Titik balik penting terjadi pada tahun 1215 dengan ditandatanganinya Magna Carta. Meskipun awalnya hanya ditujukan untuk melindungi hak-hak bangsawan dari kekuasaan absolut Raja John, dokumen ini meletakkan prinsip fundamental bahwa bahkan raja pun tunduk pada hukum, dan bahwa persetujuan dewan diperlukan untuk memungut pajak baru.
Seiring waktu, dewan ini berkembang. Pada abad ke-13, perwakilan dari kota-kota dan wilayah (Commons) mulai dipanggil bersama bangsawan dan rohaniwan. Inilah embrio dari Parlemen Inggris, yang kemudian berkembang menjadi dua majelis: House of Lords (bangsawan dan rohaniwan) dan House of Commons (perwakilan rakyat).
Perjuangan Kekuasaan dan Supremasi Parlemen
Hubungan antara monarki dan parlemen di Inggris tidak selalu harmonis. Abad ke-17 diwarnai oleh konflik sengit, termasuk Perang Saudara Inggris, yang puncaknya adalah Revolusi Gemilang (Glorious Revolution) pada tahun 1688. Revolusi ini mengukuhkan supremasi parlemen atas monarki melalui Bill of Rights (1689), yang secara definitif membatasi kekuasaan raja dan menjamin hak-hak parlemen.
Menyebar ke Dunia dan Evolusi Demokrasi
Dari Inggris, gagasan parlemen sebagai lembaga legislatif yang mewakili rakyat menyebar ke seluruh dunia, terutama melalui kolonialisme dan revolusi kemerdekaan. Setiap negara mengadaptasinya sesuai konteks lokal, menghasilkan variasi seperti sistem bikameral (dua majelis) atau unikameral (satu majelis).
Perkembangan penting lainnya adalah perluasan hak pilih. Awalnya, hanya segelintir orang (pria kaya dan bangsawan) yang bisa memilih. Namun, melalui perjuangan panjang, hak pilih diperluas hingga mencakup seluruh warga negara dewasa, tanpa memandang gender, ras, atau status sosial. Ini menandai evolusi menuju demokrasi representatif sejati, di mana parlemen menjadi cerminan nyata dari kehendak rakyat.
Kesimpulan
Dari majelis kuno yang informal hingga lembaga legislatif yang kompleks dan berkuasa, sejarah parlemen adalah kisah tentang perjuangan untuk membatasi kekuasaan, menyalurkan suara rakyat, dan membentuk masyarakat yang lebih adil. Parlemen, dengan segala dinamikanya, tetap menjadi pilar utama demokrasi, menjamin akuntabilitas kekuasaan dan mewujudkan kedaulatan rakyat.