Milenial & Politik: Melampaui Kotak Suara, Membangun Aksi Nyata
Generasi milenial, yang lahir antara awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an, kini menjadi kekuatan demografi yang signifikan dalam lanskap politik global. Berbeda dengan generasi sebelumnya, interaksi mereka dengan politik tidak selalu melalui jalur konvensional, melainkan membawa warna dan dinamika baru yang patut diperhatikan.
Salah satu ciri paling menonjol adalah pemanfaatan teknologi dan media sosial. Bagi milenial, platform digital bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga arena politik utama. Mereka menyuarakan pendapat, berdiskusi, mengorganisir petisi, hingga menggalang dukungan untuk isu tertentu secara masif. Ini menciptakan transparansi dan akuntabilitas baru, sekaligus menuntut respons cepat dari para pembuat kebijakan.
Berbeda dengan loyalitas partai yang kuat di generasi sebelumnya, milenial cenderung lebih terikat pada isu daripada ideologi partai. Isu-isu seperti perubahan iklim, kesetaraan sosial, hak asasi manusia, dan keadilan ekonomi menjadi pendorong utama keterlibatan politik mereka. Mereka mencari pemimpin yang otentik, memahami tantangan kontemporer, dan menawarkan solusi konkret, bukan sekadar retorika politik.
Meskipun sering dicap apatis, milenial sebetulnya menunjukkan tingkat skeptisisme yang tinggi terhadap institusi politik tradisional yang dianggap lamban atau korup. Namun, skeptisisme ini bukan berarti absennya keinginan untuk perubahan. Justru sebaliknya, mereka aktif mencari dan menciptakan jalur-jalur partisipasi baru, dari gerakan akar rumput hingga kampanye kesadaran komunitas, demi mewujudkan dampak nyata.
Singkatnya, politik generasi milenial adalah tentang partisipasi yang adaptif dan berorientasi pada dampak. Mereka mungkin tidak selalu hadir di TPS atau menjadi anggota partai, tetapi suara dan aksi mereka melalui jalur digital dan isu-isu fundamental telah secara signifikan membentuk narasi politik modern. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan arah masa depan demokrasi itu sendiri.