Politik etnis

Etnisitas di Panggung Politik: Pedang Bermata Dua

Politik etnis merujuk pada fenomena di mana identitas kelompok etnis menjadi basis utama untuk mobilisasi, representasi, dan persaingan politik. Ini adalah realitas yang kompleks, seringkali menjadi pedang bermata dua bagi stabilitas dan kemajuan suatu bangsa.

Inti dari politik etnis adalah bagaimana afiliasi kesukuan atau ras dimanfaatkan untuk menggalang dukungan politik, membentuk aliansi, atau bahkan memicu polarisasi. Motivasinya beragam: dari perebutan sumber daya (ekonomi, jabatan, kekuasaan), perjuangan pengakuan identitas, hingga respons terhadap ketidakadilan historis. Dalam sistem demokrasi, hal ini dapat termanifestasi dalam pembentukan partai berbasis etnis atau penggunaan isu etnis dalam kampanye elektoral.

Di satu sisi, politik etnis dapat menjadi saluran penting bagi kelompok minoritas atau terpinggirkan untuk menyuarakan aspirasi mereka, memastikan representasi yang adil, dan memperjuangkan hak-haknya. Ia bisa menjadi motor penggerak keadilan sosial dan pengakuan keberagaman.

Namun, di sisi lain, potensi destruktifnya tak kalah besar. Ia dapat memperuncing divisi sosial, memicu konflik antarkelompok, menghambat meritokrasi karena preferensi etnis, dan bahkan mengikis identitas nasional demi loyalitas primordial. Ketika dieksploitasi untuk kepentingan sempit, politik etnis berisiko merapuhkan kohesi sosial dan menciptakan lingkungan politik yang tidak inklusif.

Mengelola politik etnis memerlukan kebijaksanaan dan pendekatan yang inklusif. Negara harus berperan aktif dalam memastikan keadilan distributif, melindungi hak-hak semua kelompok, dan mempromosikan narasi persatuan yang melampaui sekat-sekat etnis. Tujuannya adalah menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *