Politik Milenial: Bukan Apatis, Tapi Kritis & Strategis
Seringkali dicap apatis, generasi milenial (lahir 1981-1996) justru merupakan kekuatan politik yang tak bisa diabaikan. Mereka tidak pasif, melainkan memiliki cara dan perspektif unik dalam memandang serta terlibat dalam arena politik.
Berbeda dari generasi sebelumnya yang terpaku pada partai politik atau forum formal, milenial cenderung terlibat melalui kanal digital. Media sosial menjadi mimbar utama mereka untuk menyuarakan aspirasi, menggalang dukungan, dan mengkritisi kebijakan. Mereka lebih tertarik pada isu spesifik—seperti perubahan iklim, kesetaraan sosial, hak asasi manusia, atau tata kelola pemerintahan yang bersih—dibandingkan loyalitas buta pada ideologi partai.
Keterlibatan mereka didorong oleh nilai otentisitas, transparansi, dan keinginan akan perubahan nyata. Namun, mereka juga skeptis terhadap birokrasi yang lamban, janji-janji kosong, dan korupsi. Frustrasi ini seringkali melahirkan gerakan akar rumput yang digerakkan secara organik, menunjukkan kekuatan kolektif di luar struktur tradisional.
Milenial telah membuktikan bahwa politik bukan hanya tentang bilik suara, tapi juga tentang narasi, aktivisme digital, dan tuntutan akuntabilitas. Mereka mewakili pergeseran paradigma politik, memaksa partai dan pemimpin untuk beradaptasi dengan dinamika baru. Mengabaikan suara mereka berarti mengabaikan masa depan demokrasi.











