Berita  

Penataran Daring serta Tantangan Sosial Anak Sekolah

Penataran Daring: Ilmu di Layar, Sosial di Hati – Menguji Anak Sekolah

Penataran daring, atau pembelajaran jarak jauh, telah menjadi tulang punggung pendidikan modern, terutama pasca-pandemi. Fleksibilitas, aksesibilitas, dan adaptasi teknologi adalah beberapa keunggulan tak terbantahkan yang ditawarkannya. Namun, di balik efisiensinya, muncul tantangan krusial yang kerap terabaikan: dampak sosial pada anak sekolah.

Bagi anak-anak dan remaja, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan juga medan utama untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional. Interaksi tatap muka dengan teman sebaya dan guru, momen-momen spontan di sela pelajaran, hingga kegiatan kelompok, adalah fondasi penting dalam membangun empati, kolaborasi, kemampuan berkomunikasi, dan bahkan identitas diri.

Ketika pembelajaran beralih sepenuhnya ke layar, banyak dari kesempatan berharga ini terenggut. Anak-anak mungkin merasa terisolasi atau kesepian, kehilangan pengalaman belajar mengatasi konflik sosial, membaca bahasa tubuh, atau merasakan dinamika kelompok secara langsung. Kemampuan mereka untuk bersosialisasi secara luring bisa terhambat, menciptakan "jeda sosial" yang berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis dan emosional jangka panjang.

Oleh karena itu, penataran daring menuntut kita untuk lebih dari sekadar transfer ilmu. Peran orang tua, guru, dan sekolah menjadi krusial dalam menciptakan inisiatif proaktif: mendorong interaksi virtual yang terstruktur, memberikan ruang untuk proyek kolaboratif, atau bahkan memfasilitasi pertemuan tatap muka terbatas yang aman.

Penataran daring adalah alat yang powerful. Namun, keberhasilannya harus diukur tidak hanya dari capaian akademis, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga dan menumbuhkan kecerdasan sosial anak. Mari pastikan layar tak menjadi dinding pemisah, melainkan jembatan menuju perkembangan sosial yang utuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *