Terjebak Keterbatasan: Suara Hati Disabilitas Minta Akses Penuh!
Di tengah geliat pembangunan dan modernisasi, satu kelompok masyarakat masih sering terpinggirkan: penyandang disabilitas. Keluhan akan minimnya sarana dan prasarana yang mendukung aksesibilitas mereka di fasilitas umum maupun swasta biasa terus mengemuka, menjadi cerminan realita pahit yang jauh dari inklusif.
Dari trotoar tanpa jalur pemandu, pintu masuk tanpa ramp, toilet tanpa pegangan, hingga transportasi publik yang tidak adaptif; daftar keterbatasan ini seolah tak berujung. Akibatnya, jutaan penyandang disabilitas dihadapkan pada tantangan berat setiap hari, membatasi mobilitas, partisipasi sosial, hingga kesempatan untuk mandiri. Sebuah kunjungan ke pusat perbelanjaan, kantor pemerintahan, atau bahkan fasilitas kesehatan yang seharusnya melayani semua, bisa berubah menjadi perjuangan penuh frustrasi.
Keterbatasan ini bukan hanya masalah teknis, melainkan cerminan dari kurangnya kesadaran, perencanaan yang tidak inklusif, dan penegakan regulasi yang lemah. Padahal, aksesibilitas adalah hak asasi, bukan sekadar fasilitas tambahan. Ketika fasilitas dasar tidak tersedia, penyandang disabilitas secara efektif dikecualikan dari kehidupan bermasyarakat, menghambat potensi mereka dan merugikan kemajuan kolektif.
Sudah saatnya keluhan ini tidak lagi menjadi narasi yang berulang. Diperlukan komitmen serius dari pemerintah, sektor swasta, dan seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan lingkungan yang benar-benar inklusif. Dengan desain universal, penegakan aturan yang tegas, dan perubahan pola pikir, kita bisa memastikan bahwa tidak ada lagi yang ‘terjebak’ oleh keterbatasan, melainkan semua dapat bergerak bebas dan berpartisipasi penuh. Aksesibilitas bukan pilihan, melainkan keharusan untuk peradaban yang lebih manusiawi.