Prakerja Diperluas: Harapan Baru Pengangguran atau Sekadar Angka?
Program Kartu Prakerja, yang mulanya dirancang untuk meningkatkan kompetensi angkatan kerja, kini diperluas cakupannya. Dengan penyesuaian di era pasca-pandemi dan dinamika ekonomi terkini, muncul pertanyaan krusial: seberapa efisienkah program ini dalam memberikan solusi nyata bagi para pengangguran saat ini?
Potensi Efisiensi: Jaring Pengaman dan Peningkatan Skill
Di satu sisi, perluasan Prakerja menawarkan harapan. Program ini bertujuan membekali pengangguran dengan skill baru atau meningkatkan skill yang sudah ada, agar lebih relevan dengan tuntutan pasar kerja. Insentif finansial yang diberikan juga dapat menjadi penyangga sementara. Berbagai pilihan pelatihan daring dan luring diharapkan dapat diakses secara luas, menjangkau mereka yang kehilangan pekerjaan atau kesulitan mencari pekerjaan di tengah perubahan lanskap industri. Ini adalah upaya konkret pemerintah untuk tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga memberdayakan.
Tantangan Efisiensi: Relevansi dan Pasar Kerja
Namun, efisiensi Prakerja tidak lepas dari tantangan. Pertanyaan utama adalah relevansi pelatihan yang ditawarkan dengan kebutuhan aktual industri. Apakah skill yang diajarkan benar-benar sesuai dengan lowongan yang tersedia, ataukah hanya mengisi kuota pelatihan? Kualitas pelatihan yang bervariasi, ditambah dengan persaingan ketat di pasar kerja, seringkali membuat peserta yang telah menyelesaikan program tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Selain itu, nilai insentif, meskipun membantu, mungkin belum cukup signifikan untuk menopang hidup di tengah tingginya biaya hidup. Isu aksesibilitas digital bagi sebagian kalangan pengangguran juga masih menjadi kendala. Program ini cenderung berfokus pada peningkatan kapasitas individu, sementara penciptaan lapangan kerja secara makro membutuhkan kebijakan yang lebih komprehensif.
Kesimpulan
Kartu Prakerja yang diperluas memiliki potensi besar sebagai alat pemberdayaan dan jaring pengaman sosial. Namun, efisiensinya bagi pengangguran terkini akan sangat bergantung pada adaptasi yang terus-menerus terhadap dinamika pasar kerja, peningkatan kualitas dan relevansi pelatihan, serta sinergi dengan program penciptaan lapangan kerja lainnya. Tanpa evaluasi dan penyesuaian yang cermat, program ini berisiko menjadi sekadar angka partisipasi, alih-alih solusi transformatif yang nyata.