Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Wuat Wa'i, Tradisi Unik Masyarakat Manggarai NTT 'Patungan' Biaya Kuliah

Foto: Kemenparekraf RI

Masyarakat di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur memiliki tradisi 'patungan' untuk biayai anak desa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi.

Jakarta, KABARE.ID  - Ada kearifan lokal di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terbilang unik. Masyarakat di daerah tersebut memiliki tradisi 'patungan' untuk biayai anak desa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi.

Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat di Pulau Flores itu disebut Wuat Wa'i. Wuat Wa'i disebut sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Manggarai dalam tolong menolong di dunia pendidikan.

Dalam perayaan Wuat Wa'i, masyarakat Manggarai secara bergantian akan membawa sumbangan baik dalam bentuk materi uang maupun sumbangan moral berupa doa dan nasihat bagi anak yang hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Secara etimologis, Wuat Wa'i berasal dari dua kata dalam bahasa Manggarai, yakni Wuat artinya mengutus dan Wa'i artinya kaki.

Secara harfiah, Wuat Wa'i artinya mengutus kaki. Namun jika diartikan secara lebih mendalam, Wuat artinya membekali dan Wa'i artinya, berjalan jauh. Jadi, Wuat Wa'i artinya membekali seseorang untuk berjalan jauh atau merantau.

Tradisi Wuat Wa'i berisi pesta perayaan yang diselenggarakan sebuah keluarga inti dan dihadiri keluarga besar, tokoh masyarakat, pengusaha, dan masyarakat umum.

Dijelaskan dalam laman Pusat Layanan Pendidikan (Puslapdik Kemendikbudristek), perayaan ini diadakan oleh sebuah keluarga ketika seorang anaknya hendak merantau ke luar daerah untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Rangkaian Tradisi Wuat Wa'i

Dalam tradisi Wuat Wa'i, para tokoh masyarakat, tetua desa dan tamu undangan memberikan bekal berupa doa, wejangan, dan bantuan biaya yang diberikan secara gotong royong atau patungan.

Anak yang mau merantau akan memohon doa restu agar perjalanan ke tanah rantau dapat memberikan perubahan bagi kehidupannya sendiri dan juga kehidupan keluarga.

Seorang anak juga akan didoakan dengan sebuah harapan yaitu "Sesek sapu kole mbaru, sesek panggal kole tana," yang artinya keluarga dan masyarakat yang hadir mengharapkan keberhasilan dari seorang anak dalam melanjutkan studi.

Serta "Uwa haeng wulang, langkas haeng ntala," artinya, berkembanglah menggapai bulan, bertumbuhlah tinggi menggapai bintang di langit.

Selain memberikan nasihat, doa, dan bantuan material, tradisi Wuat Wa'i juga diramaikan dengan pemotongan hewan kurban berupa ayam jantan berwarna putih. Ayam jantan putih melambangkan kesucian, ketulusan, dan kekosongan.

Kosong artinya belum memiliki apa-apa di dalam dirinya. Hal itu karena dalam tradisi Wuat Wa'i itu ada peribahasa go'et, yakni "Porong lalong bakok du lakom, lalong rombeng du kolem" yang bermakna semoga pergi dengan tak membawa apa-apa, dan pulang harus membawa keberhasilan.

Berapa Biaya Kuliah yang Terkumpul dari Tradisi Wuat Wa'i?

Berapa dana yang terkumpul dari 'patungan' tersebut? dalam jurnal penelitian oleh Fransiskus Seda & Maria Dominika Niron berjudul Wuat Wa'i: Model Gotong Royong Masyarakat Manggarai dalam Pembiayaan Pendidikan di Perguruan Tinggi, dana yang terkumpul bisa mencapai hingga ratusan juta.

Dalam beberapa perayaan Wuat Wa'i, ditemukan bahwa dana yang berhasil dikumpulkan berkisar antara Rp 15 juta sampai Rp 100 juta. Jumlah yang fantastis.

Tradisi Wuat Wa'i disebut sebagai tradisi gotong royong yang positif dari masyarakat. Di mana setiap elemen masyarakat akan bahu membahu untuk membantu anak-anak mereka ke tingkat perguruan tinggi. (pal/pal)

 

Sumber: Antara

baskoro dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post