Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Warga Lereng Merbabu Gelar Tradisi Tungguk Tembakau

Foto: Istimewa

Warga Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali menggelar tradisi tungguk tembakau. Sebuah ritual untuk mengawali panen tembakau.

Boyolali, KABARE.ID - Warga Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali menggelar tradisi tungguk tembakau. Sebuah ritual untuk mengawali panen tembakau.

"Tradisi tungguk tembakau adalah prosesi ritual untuk memulai panen tembakau. Setiap tahunnya. Prosesi ini dilakukan terus-menerus oleh warga Desa Senden," kata Kaur Kesra Desa Senden, Puryanto, di sela-sela kegiatan tungguk tembakau Kamis (4/8/2022).

Kearifan lokal ini sudah berlangsung turun-temurun sejak zaman dulu. Saat para petani tembakau di lereng Gunung Merbabu itu akan panen, maka diawali dengan tradisi tungguk tembakau.

Hanya saja, jelas Puryanto, jika dahulu tungguk tembakau dilaksanakan warga secara individu atau sendiri-sendiri ketika akan mulai petik tembakau. Namun sejak tahun 2016 lalu, dilaksanakan secara bersama-sama dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi seperti festival budaya.

Tradisi tungguk tembakau dimulai dengan tirakatan di malam jelang panen. Tiap Dukuh di Desa Senden menyiapkan gunungan sedekah bumi. Lengkap dengan ingkung ayam dan tumpeng nasi. Ubo rampe itu kemudian dibawa ke pelataran pemakaman umum disebelah barat Dukuh Muntuk.

Selain tumpeng nasi lengkap dengan lauk pauk dan ingkung ayam, juga ada gunungan tembakau dan gunungan sayuran hasil bumi warga Desa Senden. Di pelataran pemakaman umum digelar prosesi doa-doa. Kemudian dilanjutkan prosesi petik tembakau.

Bupati Boyolali, M. Said Hidayat, yang hadir dalam tradisi tersebut, secara simboli memetik 17 lembar daun tembakau sebagai simbol dimulainya panen raya tembakau. Daun tembakau itu kemudian dijadikan satu dengan gunungan tembakau yang selanjutnya diarak turun ke kampung setempat.

Kirab gunungan tembakau diikuti gunungan lain termasuk tumbeng dan ubo rampe lainnya. Ratusan warga pun memadati lokasi acara yang berlangsung meriah.

Bupati dan rombongan lantas menuju rumah produksi usaha kecil mikro menengah (UMKM) Desa Senden. Sepanjang jalan, dipenuhi stand UMKM mulai dari sayur segar, olahan, hingga bibit sayur. Beragam tarian tradisional juga disuguhkan para siswa SD dan masyarakat.

Puryanto menambahkan, tradisi tungguk tembakau ini sudah dinanti-nanti warga setelah dua tahun ditiadakan karena pandemi COVID-19. Warga berharap, hasil panen tembakau tahun ini akan bagus dan berjalan lancar. Tradisi tungguk tembakau ke depannya juga terus dapat dilaksanakan sebagai sebuah potensi wisata budaya.

"Harapannya adanya tungguk tembakau, selain ini adalah kita berkumpul untuk memanjatkan doa bersama-sama, semoga panen berjalan lancar dan kedepannya diberikan hasil yang melimpah. Namun di sisi lain ada muatan untuk bagaimana kita mengemas sebuah promosi, potensi budaya yang ada di desa Senden ini agar terkabarkan keluar wilayah," harap dia.

Sementara itu Bupati Boyolali, M Said Hidayat, mengatakan tungguk tembakau merupakan kegiatan rutin tiap tahunnya. Harapannya hasil panen tembakau akan baik, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan warga dan petani. Selain itu, tradisi ini juga berupaya menjaga nilai budaya lokal masyarakat.

"Inilah upaya Pemerintah dan masyarakat menjaga kebersamaan rangkaian tradisi tumbuk tembakau. Ke depan akan kita jaga (tradisi tungguk tembakau). Selama petani mampu bertani dengan baik maka kesejahteraan meningkat, maka upaya penurunan kemiskinan bisa diwujudkan," kata Said. (apl/sip)

 

Sumber: Detik.com

 

baskoro dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post