Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Sejarah Si Pitung, Jagoan Asal Betawi yang Melegenda

Ilustrasi: pixabay.com/ mohamed_hassan

Sejarah Si Pitung cukup melegenda karena sosoknya yang punya pengaruh penting terutama pada abad-19 saat masa kekuasaan Belanda di Batavia.

JAKARTA, KABARE.ID -- Nama Si Pitung bagi orang Betawi sudah tidak asing lagi. Sosoknya dikenal sebagai jagoan bela diri, perampok ulung, bahkan ada juga yang menganggapnya pahlawan nasional.

Terlepas dari apa pun cara orang mengenalnya, sejarah Si Pitung cukup melegenda karena sosoknya mempunyai pengaruh penting terutama pada masa kekuasaan Belanda di Batavia.

Ada yang menyebut Si Pitung anak pinggiran Batavia komplotan bandit. Tapi ada pula cerita yang lain mengatakan Si Pitung adalah pahlawan karena selalu menolong orang yang tertindas.

Lantas siapa sebenarnya sosok Si Pitung yang melegenda itu?

Menurut sejarawan Belanda Margreet van Till dalam In Search of Si Pitung: The History of Indonesian Legend, cerita maupun sosok Si Pitung ini memang benar adanya dan bukan mitos belaka.

Mengutip laman Historia, Si Pitung yang nama aslinya Ahmad Nitikusumah merupakan anak laki-laki dari pasangan Pinah dan Piung asal Kampung Rawa Belong, Jakarta, dengan karakter pemberani.

Dahulu sekitar abad ke-19, Rawa Belong disebut ommelanden yang berarti pinggiran Batavia. Saat itu, kawasan ini telah dikenal padat penduduk.

Si Pitung dibesarkan dengan latar pendidikan di sebuah pondok pesantren perguruan Hadji Naipin sehingga ia mampu mengaji dan berkepribadian baik.

Kabarnya Si Pitung mulai melakukan aksi perampokan pada 1892-1893. Tapi hal itu dilakukan dengan alasan. Pemicunya adalah kejadian perampokan saat menyerang keluarganya.

Mulanya Si Pitung selalu membantu sang ayah menjual kambing. Hingga suatu hari ada komplotan bandit Belanda dan Tionghoa yang merampok uang dari hasil berjualan kambing ayahnya.

Kesal dan sakit hati karena perbuatan para bandit, Pitung pun mempelajari bela diri demi melawan bandit-bandit tersebut sampai akhirnya ia berhasil menemukannya.

Atas kejadian itu Pitung mulai banyak mengenal komplotan bandit. Akan tetapi, pandangan orang terhadap dirinya jadi berubah seakan Si Pitung termasuk golongan bandit.

Padahal niat Si Pitung menguasai bela diri menjadi seorang jagoan desa bukan semata-mata menjadi sosok yang ingin ditakuti.

Melainkan ingin bisa melawan para bandit yang sekaligus tuan tanah Belanda yang kerap menindas warga miskin lemah dengan tindakan semena-mena.

Kemampuan bela diri Si Pitung pada akhirnya cukup membuat waswas para tuan tanah. Kemudian sekitar tahun 1892 Si Pitung melakukan aksi perampokan.

Kabarnya rumah yang dirampok itu merupakan kediaman Hadji Sapiudin yaitu tuan tanah asal Bugis, Sulawesi Selatan.

Aksi perampokan tersebut menyebar luas sampai dimuat dalam surat kabar Hindia Olanda pada 10 Agustus 1892.

Peristiwa ini bukanlah terjadi satu-dua kali. Pitung kerap merampok rumah tuan tanah lain untuk mengambil hasil rampasan mereka dan membagikannya kembali ke warga miskin.

Hampir semua tuan tanah sudah mengenal Si Pitung bahkan ketika mereka mengalami perampokan, namanya selalu diincar dan diburu polisi.

Si Pitung juga dianggap pemberontak sehingga orang-orang Belanda ingin dirinya ditumpas seakan-akan mereka ini tidak bergerak bebas dalam menindas orang-orang kecil.

Sampai pada akhirnya Si Pitung benar-benar tewas tertembak peluru emas milik kepala kepolisian karesidenan Batavia A.M.V Hinne.

Kisah Si Pitung pun mulai diabadikan warga sekitar ke dalam bentuk lenong yaitu kesenian teater tradisional Betawi.

Sosok Si Pitung digambarkan sebagai pemuda gagah berani, tampan, baik hati, dan andal bela diri. Kemudian kisah itu diadaptasi ke dalam film berjudul Si Pitoeng pada 1930.

Salah satu tempat bersejarah yang menjadi bekas jejaknya yaitu Museum Rumah Si Pitung di kawasan Kampung Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara.

Rumah tersebut diyakini sebagai kediaman saudagar Hadji Sapiudin yang pernah dirampok Si Pitung. Bangunannya juga masih khas berupa rumah panggung.

Pada 1999, rumah tersebut dijadikan bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999 dan diberi nama Rumah Si Pitung.

Itulah sejarah Si Pitung yang dijuluki sebagai jagoan bela diri karena aksinya yang kontroversial namun kisahnya tetap abadi bagi warga Betawi. (avd/fef)

 

Sumber: CNN Indonesia

baskoro dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post