Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Perang Obor, Tradisi Tolak Bala di Jepara

Peserta saling serang membawa obor saat tradisi perang obor di Desa Tegal Sambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, Senin (20/8/2018). (Antara Foto/ Yusuf Nugroho)

Tradisi Perang Obor rutin digelar setiap tahun oleh masyarakat Jepara sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen, rejeki melimpah, keselamatan, serta melestarikan tradisi nenek moyang.

JEPARA-KABARE.ID: Perang Obor atau disebut juga obor-oboran, merupakan salah satu upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara.

Obor pada upacara tradisional ini terdiri dari gulungan pelepah kelapa dan daun pisang yang sudah kering. Obor ini digunakan sebagai alat untuk saling menyerang sehingga terjadi benturan obor yang dapat mengakibatkan pijaran api yang besar, sehingga dinamakan Perang Obor.

Tradisi ini konon didasarkan atas legenda seorang abdi bernama Ki Gemblong yang dipercaya oleh Kyai Babadan untuk merawat dan menggembalakan ternaknya. Namun karena Ki Gemblong lalai, beberapa ternak tersebut sakit dan mati.

Kyai Babadan yang tidak terima kemudian memukul Ki Gemblong dengan obor dari pelapah kelapa. Ki Gemblong, lantas mengambil obor lainnya untuk membela diri. Benturan kedua obor tersebut kemudian menyebarkan percikan api hingga ke tumpukan jerami di kandang. Ternak yang awalnya sakit berusaha melarikan diri karena kandangnya terbakar.

Melihat ternaknya berlari seperti sehat kembali, Kyai Babadan dan Ki Gemblong menyudahi pertikaian. Kepercayaan terhadap api obor yang mampu mendatangkan kesehatan dan menolak bala inilah yang digunakan masyarakat setempat sebagai dasar pelaksanaan upacara Perang Obor.

Perang Obor masa kini

Peserta saling serang membawa obor saat tradisi perang obor di Desa Tegal Sambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, Senin (20/8/2018). (Antara Foto/ Yusuf Nugroho)

 

Dilansir dari Kumparan.com, untuk bisa berpartisipasi dalam perang obor, peserta mesti berusia 17 tahun ke atas, sehat jasmani dan rohani, serta tidak mudah emosi. Peserta hanya diperbolehkan untuk saling memukul obor bukan tubuh lawan, dan harus dari depan lawan.

Karena dilakukan pada malam hari, perang obor ini akan menampilkan keindahan bunga api yang memercik di tengah gelap malam. Pertarungan antar peserta pun jadinya malah terlihat indah seperti tarian.

Kedati saling hajar dengan bara api, para peserta tidak pernah terluka parah. Mereka biasanya hanya mendapat luka ringan yang bisa diobati dengan minyak khusus, yang dicampuran dengan aneka bunga dan minyak kelapa.

Sebelum sesi tarung obor dilakukan, ada beberapa rangkaian acara yang mesti dilakukan oleh masyarakat Jepara, seperti pembersihan makam, berdoa, dan makan bersama (dhahar kembul). Tradisi perang obor tidak hanya dilakukan secara terpisah, tetapi juga menjadi rangkaian acara sedekah bumi. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post