Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Komunitas Oasis Lombok Ubah Sampah Plastik Jadi Batu Bata

Foto: Dokumentasi Yayasan Anak Oasis di Desa Jagaraga, Kabupaten Lombok Barat.

Yayasan Anak Oasis di Desa Jagaraga, Kediri, Kabupaten Lombok Barat, memanfaatkan sampah plastik sebagai "ecobrick" untuk pengganti batu bata.

LOMBOK - KABARE.ID: Yayasan Anak Oasis di Desa Jagaraga, Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memanfaatkan sampah plastik sebagai "ecobrick" untuk pengganti batu bata.

Pelopor ecobrick sekaligus pendiri Yayasan Anak Oasis, Inge Hect, mengatakan program ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar peduli terhadap pengelolaan sampah dan lingkungan sekitarnya.

"Program ecobrick sudah berlangsung sekitar satu tahun, sebagian botol sudah disulap menjadi taman bunga, kursi, dan meja. Sekarang, botol ecobrick sudah mencapai 1.000 lebih, rencananya botol yang terkumpul akan kami jadikan sebagai pengganti batu-bata untuk dinding toilet," katanya, sebagaimana diberitakan ANTARA, Rabu (31/3/2021).

Botol ecobrick, kata dia, cukup kuat dan tahan lama sehingga bisa dijadikan sebagai pondasi untuk membuat toilet.

Secara teknis, kata Inge Hect, sampah plastik yang sudah dicuci dan dipotong kecil nantinya diisi secara padat ke dalam botol mineral 600 milimeter dengan berat minimal 200 gram.

Kegiatan ecobrick disebut juga sebagai program penukaran botol, metodenya mirip dengan bank sampah. Perbedaannya, bank sampah terbuka untuk umum sedangkan penukaran botol di sini hanya untuk anggota Yayasan Anak Oasis.

Setiap anggotanya bisa menukarkan botol ecobrick dengan berbagai jenis hadiah yang sudah disiapkan, seperti beras, minyak goreng, pakaian, parfum, dan sabun mandi.

"Jenis hadiah disesuaikan dengan jumlah botol yang ditukarkan," katanya.

Adapun tujuan lain dari ecobrick untuk memancing kesadaran dari ratusan anak Yayasan Oasis agar meninggalkan kebiasaan membuang sampah sembarangan yang selama ini masih diterapkan.

Selain itu, guna membantu perekonomian keluarga mereka dengan sistem penukaran botol di tengah berlangsungnya pandemi COVID-19.

Gujel, staf pembimbing di Yayasan Anak Oasis menjelaskan bahwa program ecobrick sangat membantu perekonomiannya.

Botol ecobrick yang sudah dibuat, kemudian ia tukar dengan beras dan minyak goreng. "Tujuh botol ecobrick bisa ditukar dengan lima kilogram beras," katanya menambahkan.

Penukaran botol dilaksanakan setiap satu pekan sekali, harinya tidak menentu. Setiap anggota hanya diperbolehkan membawa sembilan botol ecobrick. Itu dibatasi, agar anak lain kebagian untuk menukarkan botolnya.

"Stok hadiah terbatas, jadi harus sama rata," kata Gujel.

Menurut peserta didik di Yayasan Anak Oasis, Esti (17) dahulu sampah plastik yang ada di rumah dibuang ke sungai atau dibakar, sekarang dikumpulkan dan dimanfaatkan menjadi ecobrick.

"Ibu saya senang dengan program penukaran botol, bahkan ibu juga mencari sampah plastik ke tetangga," katanya.

"Saya baru tahu, kalau botol ecobrick bisa dimanfaatkan sebagai pengganti batu-bata dan saya antusias untuk berpartisipasi dalam pembuatan dinding toilet," demikian Esti. (*)
 

Sumber: ANTARA

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post