Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Komunitas JAF Bermimpi Bangun Hutan di Tengah Kawasan Industri Majalengka

Foto: JAF Indonesia

Jatiwangi Art Factory (JAF) bermimpi membangun hutan di lahan seluas 8 hektar yang berada di tengah kawasan industri Jatiwangi, Majalengka. Mimpi itu bermula dari kegelisahan mereka melihat proses industrialisasi yang terjadi begitu cepat di kawasan tersebut.

JAKARTA, KABARE.ID - Apa saja investasi yang saat ini sudah Anda miliki? Saham, rumah, emas? atau investasi oksigen demi menciptakan bumi yang lebih sejuk?

Jatiwangi Art Factory (JAF) yang berbasis di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, menggulirkan gagasan bernama Perusahaan Hutan Tanaraya (Perhutana). Komunitas ini bermimpi membangun hutan di lahan seluas 8 hektar yang berada di tengah kawasan industri Jatiwangi. Mimpi itu bermula dari kegelisahan mereka melihat proses industrialisasi yang terjadi begitu cepat di kawasan tersebut.

“Kami ingin mengintervensi wilayah yang ditargetkan jadi kawasan industri untuk dijadikan hutan. Kenapa hutan? Kami pikir, kayaknya seru kalau Jatiwangi yang sangat panas ini punya hutan. Hingga kemudian muncul ide Perhutana,” ujar Pandu Rahadian dari JAF dalam siaran pers, Kamis (14/7/2022).

Pandu mengakui bahwa JAF tidak punya banyak pengetahuan soal hutan. Mereka tidak paham cara membangun hutan dari nol maupun tentang tanaman yang sebaiknya ditanam di sana. Karena itu, mereka menggandeng Hutan Itu Indonesia (HII) dan Yayasan Tunas Nusa yang berbasis riset perkotaan.

Seperti membangun rumah, hutan juga perlu dirancang dengan baik agar benih yang ditanam bisa tumbuh subur. Dalam mendesain hutan pun mereka akan melibatkan banyak orang.

Desain tersebut, menurut Ramalis Sobandi, urban expert dari Yayasan Tunas Nusa, akan bercerita tentang sistem tata air yang baik bagi hutan. Awalnya lahan itu berupa sawah yang bersebelahan dengan sungai, komplek perumahan, dan perkampungan, dan nantinya menjadi hutan.

“Hutan perlu didesain dengan baik. Agar menyerap sebanyak-banyaknya aspirasi dari masyarakat, kami berencana meluncurkan kompetisi desain di Hari Hutan Internasional pada Agustus nanti. Kenapa bentuknya kompetisi? Karena, melalui kompetisi, Perhutana akan mendapatkan alternatif-alternatif desain hutan terbaik,” katanya. 

Bagi sebagian orang, hutan seluas 8 hektar mungkin terasa kecil. Tetapi, tujuan besarnya, menurut Pandu, adalah untuk menularkan ide seperti ini, sehingga bisa diduplikasi di banyak wilayah dan komunitas.

“Kami berharap akan ada banyak hutan seluas delapan hektar lain di tempat berbeda, terutama di perkotaan yang lahannya sempit. Sebenarnya, ketika bicara soal program Perhutana, kami tidak bicara soal Jatiwangi saja, melainkan ke skala global. Ide ini sebenarnya juga diadopsi oleh beberapa jaringan kami di berbagai negara,” katanya.

Menciptakan hutan yang rindang dari nol memerlukan waktu tidak sebentar. Ramalis menjelaskan, urbanisasi menghapus dua jenis lahan, yaitu pertanian dan konservasi. Karena itu, Perhutana harus dibangun berupa food forest.

“Manusia merupakan makhluk yang mengonsumsi beragam makanan. Sehingga, membuat hutan yang isinya beragam tanaman pangan akan cocok dengan nature kita. Perhutana harus dibangun dengan produktivitas pangan yang tinggi untuk menjaga ketahanan pangan yang lebih baik daripada sawah tadah hujan, sekaligus mengembalikan kebiasaan makan kita agar tidak hanya berbasis nasi,” jelasnya.

“Hutan itu akan dijadikan hutan adat dan dikelola oleh masyarakat setempat yang menjadikan hutan itu sebagai sumber oksigen, sumber air, dan sumber pangan,” kata Andrian Pramana, Spesialis Media dan Komunikasi HII.

Ramalis menambahkan, hutan adat di Jatiwangi ini berbeda dari hutan adat lain. Karena merupakan hutan yang ditumbuhkan, maka keterlibatan masyarakat sekitar bukan hanya dalam hal pemanfaatan, melainkan sejak hutan itu ditumbuhkan. Inilah kenapa inisiatif tersebut menjadi sangat penting. (*)

baskoro dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post