Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

KNIU Gelar Sayembara Nasional Membuat Buku Harian ala Jepang

Foto: Istimewa/ Infopublik.id

Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menggelar Sayembara Enikki Festa, yakni kompetisi kreatif tingkat nasional bagi anak usia 6-12 tahun.

JAKARTA - KABARE.ID: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menggelar Sayembara Enikki Festa, yakni kompetisi kreatif tingkat nasional bagi anak usia 6-12 tahun.

Ketua Harian KNIU Prof. Arief Rahman menegaskan bahwa tujuan utama sayembara adalah untuk mengembangkan kegiatan yang berfokus pada kegembiraan anak-anak, salah satunya dengan membuat Buku Harian Bergambar (BHB) atau Enikki.

“Kita berharap anak-anak bisa membagikan karyanya dengan teman-temannya, karena dalam membuat karya terjadi kreativitas. Kreativitas, dalam seni adalah driver (pengemudi) yang bisa mengembangkan potensi-potensi pembangunan berkelanjutan. UNESCO selalu mengatakan, bahwa culture is the driver and the enabler for sustainable development,” tegas Arief, seperti dikutip dalam rilis Kemendikbud di Jakarta, Selasa (2/3/2021).

‘Enikki’ dalam Bahasa Jepang berarti “Buku Harian Bergambar” (E: gambar, dan Nikki: catatan harian/ jurnal), di mana anak diajarkan menulis cerita harian dilengkapi gambar relevan yang menerangkan cerita tersebut. Tradisi ini dilakukan Jepang sejak lama. Sosialisasi dan koordinasi Enikki Festa ini berlangsung dari tanggal 1 – 3 Maret 2021 di Bekasi, Jawa Barat.

“Mudah-mudahan, sosialisasi ini membawa pertumbuhan pesat dan menularkan kekuatan pada seluruh masyarakat Indonesia supaya kita tidak selalu berpikir tentang uang dan pembangunan fisik, tapi yang paling penting adalah pembangunan emosi, moral, seni, dan budaya,” harap Arief.

Arief juga menyoroti persoalan literasi siswa Indonesia yang seringkali dikatakan rendah. “Literasi itu ‘kan literate. Hubungannya dengan membaca, kesusasteraan, dan bahasa. Mengapa ini rendah? Karena daya tariknya kurang. Mengapa daya tariknya kurang? Nomor satu adalah guru. Guru-guru tidak memperkenalkan dengan senang, tapi dia melihat itu sebagai pekerjaan saja. Padahal, dalam profesi pendidikan, yang paling penting adalah menciptakan suasana batin,” tegasnya.

Koordinator Education for Sustainable Development (ESD) KNIU, Ananto Kusuma Seta pun menambahkan bahwa tahun ini, unsur novelty alias kebaruan dan orisinalitas harus ditunjukkan. “Bagaimana program Enikki ini kita gunakan sebaik mungkin untuk mengangkat keberagaman Indonesia. Supaya ada branding dan bedanya antara Enikki Indonesia dengan Enikki dari negara lain,” ucap Ananto.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Nasional UNESCO Associated Schools Network (ASPNet), Hasnah Gasim mengatakan, penyelenggaraannya untuk tahun 2021-2022 berlangsung secara digital agar lebih aman di tengah situasi pandemi Covid-19.

Hasnah mengakui, sosialisasi KNIU hari ini bagi yang ditujukan untuk para guru dan kepala sekolah dalam rangka menjaring pendapat dan masukan dari para pendidik. “Karena mereka akan berperan. Kepala sekolah adalah ketuanya, tetapi ia tetap membutuhkan guru yang bisa diajak berkolaborasi,” jelas Hasnah.

Ketika dihubungi Jepang, Hasnah menegaskan bahwa Indonesia merencanakan menggelar sayembara secara daring. “Jepang setuju dan dia malah menjadikan kita contoh buat negara lain. Ini suatu kemajuan bagi indonesia, karena kita pionir membuat lomba sesuai prosedur Covid-19,” tambah Hasnah.

Hasnah juga menegaskan bahwa semua anak di Indonesia dapat mengikuti lomba ini. “Jadi, bukan hanya anak sekolah, tapi anak yang tidak sekolah tapi bisa melukis,” pungkas Hasnah.

 

Adapun informasi teknis lomba adalah sebagai berikut: 

Persyaratan Peserta
Peserta yang dapat mengikuti lomba ini adalah seluruh anak Indonesia berusia 6-12 tahun.

Persyaratan Karya
1. Karya Seni harus ASLI (Original) dan belum pernah dipublikasikan;
2. Karya Seni yang menyalin dari buku, komik, koran, dsb, atau karya seni yang telah dipublikasikan tidak boleh didaftarkan dan akan didiskualifikasi;
3. Karya Seni harus dibuat secara manual. Gambar harus dilukis dan dibuat oleh tangan peserta sendiri. Keterangan/deskripsi gambar harus ditulis tangan oleh peserta sendiri;
4. Karya Seni digital, atau diketik, atau tulisan kata diproses maka akan didiskualifikasi

Format Karya
Setiap karya dibuat di atas kertas ukuran A4 (297mm X 210mm) secara vertical.
2/3 halaman bagian atas untuk lukisan dan sisa 1/3 halaman bagian bawah untuk keterangan/deskripsi sebanyak 3-5 baris.

Pengiriman Karya
Setiap peserta diminta mengisi formulir pendaftaran dengan lengkap. Setiap peserta mengumpulkan hasil karya ‘enikki’-nya sebanyak lima lembar catatan harian berilustrasi dengan tidak bolak-balik. Hasil karya dan formulir dipindai dengan jelas dan baik, dan dikirimkan kepada panitia. Hasil karya dan formulir pendaftaran di-scan atau difoto dengan baik dan dikirimkan melalui surat elektronik pada: aspnetind@cbn.net.id dengan judul: ENIKKI2021 – NAMA LENGKAP – KOTA. Selain itu, peserta atau peminat juga dapat bertanya kepada panitia melalui alamat surel tersebut.

Jadwal Sayembara
Pendaftaran: Maret – Agustus 2021
Seleksi Nasional: September 2021 (tentative)
Seleksi Internasional: April 2022
Penyerahan Hadiah Pemenang Grand Prix di Jepang: Oktober 2022

Hadiah
Gran Prix berjumlah 24 karya seni (1 pemenang untuk setiap negara). Pemenang Gran Prix akan mendapat piagam dan diundang untuk datang ke Asia Study Tour di Jepang dengan 1 (satu) orang pendamping (total 2 orang). Biaya ditanggung penyelenggara (tentatif mengingat kondisi pandemi). Sementara pemenang regional dan nasional akan memperoleh piagam dan hadiah.

Informasi lebih lanjut, dapat diakses melalui laman resmi kniu.kemdikbud.go.id, serta media sosial Facebook facebook.com/kniukemdikbud, Twitter @kniukemdikbud, dan Instagram @kniukemdikbud dan situs resmi enikki.mitsubishi.or.jp/e/index.php. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post