Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Angka Skrining Rendah Sebabkan Tingginya Keterlambatan Penanganan Kanker Serviks di Indonesia

Ilustrasi: Roche Indonesia

Kanker serviks menjadi salah satu kanker berisiko tinggi bagi perempuan. Selama 2019 hingga 2021, Kementerian Kesehatan mencatat hanya 2,8 juta pasien melakukan skrining kanker serviks padahal jumlah perempuan di Indonesia mencapai 133,54 juta orang.

JAKARTA, KABARE.ID – Kanker serviks menjadi salah satu penyakit yang dapat menyerang perempuan dari berbagai jenjang usia dan menempati peringkat kedua sebagai jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan Indonesia.

Meski termasuk jenis kanker yang mematikan, risikonya dapat dicegah dengan pemeriksaan secara terpersonalisasi sejak dini atau skrining kanker serviks. Sayangnya, masyarakat masih menemui hambatan dalam melakukan deteksi dini risiko kanker serviks, mulai dari biaya hingga akses ke layanan kesehatan yang belum memadai.

Menurut survei global Roche, 60 persen masyarakat global masih menghadapi hambatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dengan berbagai alasan seperti kurangnya informasi, faktor biaya, hingga ketakutan terhadap hasil tes yang positif. Hal ini menjadi hambatan-hambatan dalam melakukan deteksi dini suatu penyakit.

“Pada kanker serviks yang terlambat dideteksi, angka harapan hidup pasien dapat turun menjadi kurang dari 20 persen. Karenanya, akses yang lebih luas untuk deteksi dan perawatan kanker serviks yang inovatif menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas kesehatan perempuan,” kata Director, Country Manager Diagnostics, Roche Indonesia Ahmed Hassan, dalam diskusi virtual, Kamis (19/5/2022).

Pada 2020, WHO mencatat sebanyak 21.003 kasus kematian perempuan di Indonesia karena kanker serviks, yang disebabkan oleh infeksi virus Human Pappilomavirus Genital (HPV). Penularan dapat terjadi salah satunya melalui hubungan intim, meskipun tanpa gejala, infeksi dapat berlanjut beberapa tahun setelah terpapar virus HPV.

“Perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual rentan terhadap risiko penularan virus HPV. Pada tahap ini, deteksi dini sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya keterlambatan penanganan pada kanker serviks,” kata Ketua Dewan Penasihat Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia Prof. Dr. dr. Andrijono, SP.OG(K)-Onk.

Ada tahapan-tahapan teknis dalam mendeteksi virus HPV melalui tes HPV DNA, seperti skrining pra kanker untuk mengidentifikasi risiko sebelum munculnya gejala, kolposkopi untuk menindaklanjuti tes skrining kanker serviks yang abnormal, dan konfirmasi adanya kanker melalui pengambilan sel dari leher rahim untuk pemeriksaan laboratorium, jelas dr. Andrijono. (*)

baskoro dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post