Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Ahmad Tohari Kecanduan Menulis

Ahmad Tohari. (Foto Kabare.co/ Baskoro Dien)

Ahmad Tohari, sastrawan dan budayawan lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Karya monumentalnya, "Ronggeng Dukuh Paruk" sudah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan diangkat dalam film layar lebar berjudul "Sang Penari".

JAKARTA-KABARE.CO: Ahmad Tohari penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan novel dan kumpulan cerita pendek. Beberapa karya fiksinya antara lain trilogi "Ronggeng Dukuh Paruk" telah terbit dalam edisi Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris.

Ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976). Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa.

Ahmad Tohari menulis dengan gaya realisme,  menurutnya ia harus mengalami sesuatu yang nyata dalam hidup yang kemudian baru direkayasa menjadi sebuah karya sastra. Seperti cerpen yang berjudul “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” yang terinspirasi dari sekelompok anak gelandangan yang sedang makan mi bersama.

Ahmad Tohari saat menjadi pembicara di acara Lokakarya cerpen Kompas. (Foto Kabare.co/ Baskoro Dien)

Proses kreatif karya Ahmad Tohari tidak terlepas dari respon terhadap peristiwa besar tahun 1965. Ia mengatakan saat itu suasananya sangat ‘dahysat’, banyak pembunuhan, penculikan, kekerasan dan tidak sedikit rumah-rumah dibakar. Semua orang pada saat itu tahu apa yang terjadi tapi semuanya seakan hanya bisa diam.

Ia mengaku saat itu masih anak SMA kelas dua dan belum berani untuk mengungkap masalah yang terjadi di negerinya. Tapi dalam benaknya ada sebuah keyakinan, bahwa jika penulis tidak ada yang berani menulis kejadian ini maka semua penulis berada dalam dosa besar. Menurutnya kalau bukan dirinya, lalu siapa lagi yang akan menulis. Dari situ ia mulai bertekad untuk menulis dengan modal nekat.

Menurutnya saat mulai menulis, rasa tanggung jawab yang ia rasakan mulai terlampiaskan. “Jadi saya beranikan diri menulis kenyataan dengan pertempuran batin melawan ketakutan dan berhadapan dengan kekuatan militer. Untung saat itu ada ‘Dewa Penolong’ bernama Abdurrahman Wahid.

Benar saja, saat buku pertamanya terbit Ahmad Tohari langsung dipangil oleh pihak militer di pusat intelejen di Jl Darmawangsa. Ia mengaku saat itu diinterogasi hingga merasa sangat tertekan. Hingga akhirnya sebuah pertanyaan yang menyelamatkan hidupnya keluar. “Apakah saudara mampu menjamin bahwa saudara bukan komunis? Saat itu saya bilang Abdurrahman Wahid, setelah itu saya dilepaskan”.

Cita-cita Ahmad Tohari sebetulnya bukan menjadi penulis. Ia hanya suka membaca sejak SD, dan pada kelas 3 SMP ia sudah kehabisan buku bacaan. Saat itulah terbangun dunia fiksi di kepalanya dan mulai iseng menulis, hingga akhirnya menjadi kecanduan menulis. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post