Nasionalisme di Lensa Berita: Antara Gelora Kebangsaan dan Tantangan Global
Di tengah derasnya arus informasi, kata "nasionalisme" kerap menghiasi halaman depan media, menjadi topik diskusi hangat, dan membentuk narasi berita. Bukan sekadar jargon, nasionalisme adalah denyut nadi kolektif suatu bangsa, semangat persatuan, dan kebanggaan akan identitas diri yang unik. Namun, bagaimana sebenarnya nasionalisme ini tercermin dalam pemberitaan kita sehari-hari?
Dalam banyak kesempatan, berita menyoroti nasionalisme sebagai kekuatan positif. Kita melihatnya dalam upaya mempertahankan kedaulatan negara di tengah gejolak geopolitik, dukungan terhadap produk dan inovasi lokal untuk memperkuat ekonomi bangsa, atau gerakan pelestarian budaya yang mengakar. Nasionalisme di sini adalah perekat sosial, pendorong kemajuan, dan sumber inspirasi untuk mencapai tujuan bersama. Ia mewujud dalam solidaritas saat bencana, kebanggaan atlet di kancah internasional, atau konsensus politik untuk kepentingan nasional.
Namun, lensa berita juga tak jarang menangkap sisi lain nasionalisme yang lebih kompleks, bahkan mengkhawatirkan. Ketika semangat kebangsaan bergeser menjadi eksklusivitas, berita mulai menyoroti retorika anti-asing, proteksionisme berlebihan yang merugikan, atau bahkan polarisasi internal yang mengancam persatuan. Dalam konteks global, nasionalisme yang sempit bisa menjadi penghambat kolaborasi dalam menghadapi isu lintas batas seperti perubahan iklim atau pandemi, di mana solusi membutuhkan kerjasama lintas negara.
Maka, berita tentang nasionalisme bukanlah sekadar laporan peristiwa, melainkan cerminan dari dinamika sebuah bangsa dalam menavigasi identitasnya di tengah dunia yang terus berubah. Memahami nuansa di balik setiap pemberitaan nasionalisme menjadi krusial. Ini membantu kita membedakan antara semangat kebangsaan yang membangun dan sikap sempit yang memecah belah. Nasionalisme akan selalu relevan, dan bagaimana ia dibingkai dalam berita akan terus membentuk persepsi kita tentang masa depan bangsa.