Kampus Berpolitik: Antara Ideal dan Realita
Ketika berbicara tentang kampus, pikiran kita seringkali tertuju pada perkuliahan, riset, dan kegiatan akademik. Namun, di balik itu, ada denyut nadi lain yang tak kalah penting: politik kampus. Ia adalah arena yang unik, tempat mahasiswa belajar berorganisasi dan menyuarakan aspirasi, namun juga menyimpan potensi tantangan.
Politik kampus, terutama melalui organisasi mahasiswa seperti BEM atau himpunan, menjadi laboratorium nyata bagi pengembangan diri. Di sinilah mahasiswa mengasah kemampuan kepemimpinan, negosiasi, dan retorika. Mereka belajar menyusun strategi, berdebat secara konstruktif, dan menyuarakan aspirasi demi kepentingan bersama, baik itu terkait fasilitas kampus, kurikulum, hingga isu-isu sosial yang lebih luas. Ini adalah fondasi penting untuk membentuk agen perubahan dan pemimpin masa depan.
Namun, politik kampus juga memiliki sisi gelapnya. Ambisi yang berlebihan dapat mengarah pada perebutan kekuasaan semata, mengorbankan esensi idealisme mahasiswa. Polarisasi kelompok, konflik internal, hingga potensi intervensi kepentingan di luar kampus bisa menjadi jebakan yang mengaburkan tujuan awal. Ketika politik kampus bergeser menjadi ajang perebutan posisi tanpa visi, ia justru bisa merugikan iklim akademik dan persatuan mahasiswa.
Pada akhirnya, politik di kampus adalah cerminan miniatur kehidupan bernegara. Penting bagi setiap elemen kampus, terutama mahasiswa, untuk menyikapi arena ini dengan bijak. Menjaga idealisme, menjunjung tinggi etika, dan senantiasa berlandaskan pada nalar sehat adalah kunci. Politik kampus seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi, bukan sekadar medan perebutan kekuasaan. Ia adalah investasi berharga dalam membentuk generasi pemimpin yang cerdas, kritis, dan berintegritas bagi masa depan bangsa.