Ketika Pembentukan Karakter Berujung Derita: Lingkaran Kekerasan di Lembaga Sosialisasi
Berita kekerasan di lingkungan lembaga sosialisasi kembali mencuat ke permukaan. Ironisnya, tempat yang seharusnya membentuk karakter dan disiplin positif justru menjadi arena praktik kekerasan yang merusak. Fenomena "terjadi lagi" ini bukan sekadar insiden terisolasi, melainkan cerminan dari akar permasalahan yang dalam dan mendesak untuk ditangani.
Seringkali, praktik kekerasan bersembunyi di balik dalih "pembinaan mental," "penanaman disiplin," atau "tradisi" senioritas yang keliru. Alih-alih mendidik, metode ini justru menciptakan lingkaran setan trauma dan balas dendam, merusak mentalitas dan fisik para peserta didik. Dampaknya jauh melampaui luka fisik; trauma psikologis yang mendalam dapat menghantui korban seumur hidup, membentuk pribadi yang penakut, pendendam, atau bahkan pelaku kekerasan di kemudian hari. Ini jelas mengkhianati esensi dari lembaga sosialisasi itu sendiri.
Maka, sudah saatnya semua pihak membuka mata. Diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum dan metode pembinaan. Pengawasan ketat, sanksi tegas bagi pelaku, edukasi berkelanjutan bagi para pendidik tentang pendekatan positif, serta keberanian untuk membongkar budaya bungkam, adalah langkah mutlak. Kita harus memastikan bahwa pembentukan karakter terjadi melalui teladan, dialog, dan empati, bukan dengan pukulan dan derita. Lingkaran kekerasan ini harus diputus, demi masa depan generasi yang lebih sehat dan berintegritas.