Berita  

Program Pemudaan Perkotaan Ancam Tempat Bermukim Penduduk Miskin

Kota Modern, Warga Terpinggir: Ironi Pemudaan Perkotaan

Program pemudaan perkotaan sering digadang sebagai visi masa depan kota yang lebih modern, indah, dan fungsional. Namun, di balik gemerlap janji-janji tersebut, tersimpan sebuah ironi pahit: ancaman serius terhadap tempat bermukim penduduk miskin.

Bertujuan untuk meningkatkan estetika, infrastruktur, dan daya saing ekonomi, proyek-proyek ini sering melibatkan pembangunan ulang kawasan kumuh, penciptaan ruang hijau, serta pengembangan pusat komersial dan pariwisata. Sayangnya, proses "pemudaan" ini kerap memicu fenomena gentrifikasi. Ketika sebuah area ditingkatkan nilainya, harga tanah dan properti melonjak, diikuti oleh kenaikan biaya sewa dan kebutuhan hidup. Penduduk berpenghasilan rendah yang telah lama tinggal di sana, mendadak tidak mampu lagi bertahan. Penggusuran, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui tekanan ekonomi, menjadi tak terhindarkan.

Akibatnya, ribuan keluarga kehilangan rumah, mata pencarian, dan jaringan komunitas yang telah mereka bangun puluhan tahun. Mereka terpaksa pindah ke pinggiran kota yang lebih jauh, seringkali tanpa akses memadai terhadap fasilitas dasar dan pekerjaan. Ini bukan hanya masalah tempat tinggal, melainkan juga pengikis identitas, kesenjangan sosial yang melebar, dan krisis kemanusiaan yang tersembunyi.

Pemudaan perkotaan seharusnya tidak mengorbankan warga paling rentan. Penting untuk mengintegrasikan pendekatan pembangunan yang lebih inklusif dan berpihak pada rakyat. Ini termasuk penyediaan perumahan layak huni yang terjangkau, program relokasi yang adil, dan pelibatan aktif komunitas dalam setiap tahap perencanaan. Hanya dengan begitu, kemajuan kota dapat dirasakan oleh semua, bukan hanya segelintir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *