Dahaga di Ujung Batas: Perjuangan Air Bersih Publik Pinggiran Kala Kemarau
Musim kemarau tiba, membawa serta tantangan klasik bagi jutaan jiwa di Indonesia: kelangkaan air bersih. Terutama bagi masyarakat di "publik pinggiran"—daerah pedesaan terpencil atau permukiman yang jauh dari pusat kota—perjuangan untuk mendapatkan setetes air bersih menjadi realitas pahit yang tak terhindarkan.
Bukan sekadar fenomena alam, krisis air di wilayah ini adalah akumulasi dari berbagai faktor. Secara geografis, banyak daerah pinggiran yang memang sulit dijangkau jaringan pipa PDAM. Sumber air alami seperti sumur dangkal atau mata air pun cepat mengering saat musim gersang melanda. Diperparah lagi dengan perubahan iklim yang membuat pola hujan makin tidak menentu dan intensitas kemarau semakin panjang. Minimnya investasi dalam infrastruktur air bersih yang memadai turut memperparah kondisi.
Dampak kelangkaan air bersih ini menjalar ke berbagai aspek kehidupan. Kesehatan adalah taruhan utama; sanitasi buruk dan konsumsi air tidak layak memicu penyakit diare, kulit, hingga stunting pada anak. Aktivitas ekonomi, khususnya pertanian, lumpuh total, mengancam mata pencarian dan ketahanan pangan. Perempuan dan anak-anak seringkali harus menempuh perjalanan jauh dan membuang waktu berharga hanya untuk mengangkut air, mengorbankan pendidikan dan produktivitas.
Kisah dahaga publik pinggiran ini adalah cermin ketimpangan yang mendesak perhatian serius. Ini bukan hanya tentang kekeringan, melainkan tentang hak dasar manusia atas air bersih yang belum terpenuhi. Masa gersang mungkin akan berlalu, namun jeritan dahaga mereka harus menjadi pengingat untuk solusi berkelanjutan dan merata.