Pencak Silat: Dari Nusantara ke Panggung Dunia
Pencak Silat, seni bela diri asli Nusantara, bukan sekadar olahraga, melainkan warisan budaya yang kaya nilai filosofi, spiritual, dan seni. Berawal dari praktik pertahanan diri dan ritual adat di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand bagian selatan, dan Filipina selatan, perjalanan Pencak Silat menuju kancah global adalah kisah adaptasi dan pelestarian.
Awalnya menyebar melalui jalur perdagangan, migrasi, dan penyebaran agama di Asia Tenggara, praktiknya terbatas di kalangan komunitas diaspora dan pencari ilmu bela diri tradisional. Namun, titik balik signifikan terjadi pada paruh kedua abad ke-20 dengan pembentukan organisasi payung seperti Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (PERSILAT). Ini membuka jalan bagi standardisasi gerakan dan penyelenggaraan kejuaraan internasional, termasuk di SEA Games dan Asian Games, memperkenalkan Pencak Silat sebagai cabang olahraga prestasi.
Di luar gelanggang kompetisi, Pencak Silat juga merambah dunia akademik dan kebudayaan. Berbagai perguruan dan pusat pelatihan muncul di Eropa, Amerika, dan negara-negara Asia lainnya, menarik minat akademisi, praktisi bela diri, hingga seniman. Pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2019 semakin mengukuhkan posisinya sebagai khazanah dunia yang patut dilestarikan. Popularitasnya juga didongkrak melalui film dan media, memperkenalkan keindahan gerak dan filosofinya kepada audiens global.
Kini, Pencak Silat tidak lagi hanya milik satu bangsa, melainkan telah menjadi disiplin global yang dipelajari dan dikembangkan oleh ribuan praktisi dari berbagai latar belakang budaya. Transformasinya dari tradisi lokal menjadi fenomena dunia adalah bukti kekayaan dan adaptabilitasnya, menjadikannya salah satu warisan budaya Nusantara yang paling dinamis di panggung internasional.