Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Menyebarkan Cinta Angklung

Tim angklung SMA Hang Tuah 1, Jakarta.

Menumbuhkan cinta terhadap seni dan budaya tak semudah membalikan telapak tangan. Ada proses pengenalan, latihan rutin, dan semangat berkompetisi agar menampilkan karya seni terbaik. Di negara maju, tahapan tersebut dimulai sejak pendidikan dini.

Jakarta - Tidak pernah ada kata terlambat. Begitulah yang diyakini Astra Honda Motor (AHM) saat membuat program sekolah binaan angklung. Tujuannya, ingin menghidupkan angklung sekaligus membuatnya terdengar lumrah di keseharian generasi muda.

Mengapa angklung?  Menurut Deputy Head of Corporate Commmunication Astra Honda Motor Ahmad Muhibbuddin, angklung memiliki filosofi mendalam. Salah satunya filosofi kebersamaan.

Ahmad menjelaskan, untuk memainkan angklung membutuhkan anggota minimal 15 orang dan maksimal 30 peserta. Ia menjadi tak bernilai jika hanya dimainkan satu orang. “Harmonisasi nada angklung baru tercipta jika dimainkan bersamaan. Tanpa ada kebersamaan tak ada artinya, inilah nilai-nilai yang ingin ditanamkan ke generasi muda lewat angklung,” kata Ahmad.

Angklung juga harus dimainkan secara disiplin dan penuh kesabaran. Disiplin karena untuk memulainya harus mengikuti aba-aba sang jendan. Setiap pemain harus sabar menunggu waktu yang tepat untuk menggoyangkan angklung.

“Kalau kita melestarikan angklung berarti menjaga nilai-nilai luhur tersebut. Lagipula, aneh rasanya jika angklung sudah diakui Unesco sebagai warisan dunia, tetapi generasi muda Indonesia tidak mengenalnya,” ucap Ahmad.

Namun, untuk menjaga warisan luhur itu tak bisa sembarangan. Setidaknya, AHM membutuhkan musisi profesional yang selama hidupnya kerasukan angklung. Maka diputuskanlah melibatkan Saung Angklung Udjo, Bandung, untuk memberikan pelatihan kepada para guru di sekolah Satu Hati.  Guru-guru yang telah terlatih itu kemudian menularkan keahliannya bermusik angklung kepada murid-murid sekolahnya.

Sekolah Satu Hati hanyalah istilah yang diperkenalkan AHM untuk sekolah-sekolah yang menjadi binaan perusahaan otomotif tersebut.  Sejak program sekolah Satu Hati digulirkan tahun 2013,  22 sekolah telah bergabung. Mereka di antaranya SD Negeri Sunter Agung 13, SMP Hang Tuah 3, SMP Gita Kirti 3, SMK Hang Tuah, SMK Mitra Industri Cikarang, SMAN 13, SMAN 18, SMAN 40, SMAN 41, SMAN 52, SMAN 72, SMAN 75, SMAN 80, SMAN 110, SMAN 115 dan SMAN 2 Cikampek.

“Sekolah binaan akan terus berkembang, tahun depan menjadi 27 sekolah,” kata Ahmad.

Dalam tahap awal, prioritas AHM adalah membina sekolah yang ada di sekitar perusahaan baik yang di Sunter Jakarta Utara maupun Cikarang Bekasi. “Setelah itu akan melebar ke sekolah-sekolah lain di berbagai daerah,” tutur pria yang ditugaskan menangani Corporate Social Responsibility(CSR) AHM itu.

Ahmad menegaskan ada tiga  pilar yang menjadi kepedulian AHM dalam membina siswa di sekolah Satu Hati yaitu kepedulian sosial, kepedulian lingkungan dan kepedulian budaya. Tiap sekolah harus menerapkan tiga pilar kepedulian jika ingin bergabung dalam sekolah Satu Hati.

“Tidak bisa satu-satu, harus dalam paket. Kita juga memberikan bantuan 30 set yang dibuat Saung Udjo ke tiap sekolah Satu Hati. Kostum juga kita berikan,” kata Ahmad

Untuk memotivasi para siswa bermain angklung, AHM menyelenggarakan kompetisi tiap tahun bertajuk Pasanggiri Angklung. Kompetisi 2015 berlangsung 28 Maret 2015 di SMAN 80 Jakarta dan dimenangkan SMK Mitra Industri Cikarangdan SMK Hang Tuah Jakarta Utara.

Tak sebatas itu untuk menambah kebanggaan para siswa dalam memainkan angklung, pemenang Pasanggiri Angklung juga ditampilkan di berbagai kegiatan yang diselenggarakan AHM dan seluruh Grup Astra lainnya. “Kita memiliki banyak event, baik peluncuran produk, penyambutan tamu, dan peresmian pabrik. Dalam acara itu angklung dari sekolah Satu Hati selalu kita tampilkan,” tutur Ahmad.

Pelan tapi pasti. Dalam dua tahun terakhir, angklung tak lagi jadi dongeng tradisional yang kerap dibisikan orangtua sebelum tidur. Angklung telah hadir sebagai musik keseharian. Terpenting, perasaan cinta terhadap angklung dan seni budaya Indonesia mulai bertumbuhan.

Teks: Mada Mahfud; Foto: Dhodi Syailendra

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post