Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Doed Joesoef, meninggal dunia, Selasa (23/1/2018), pukul 23.55 WIB. 
BISNIS

Mendidik Mandiri dan Berkepribadian

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan

Anies Baswedan yang kini sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan termasuk perumus konsep Revolusi Mental. Konsep ini ternyata membuat pasangan calon presiden dan wakil presiden Jokowi-JK lebih bersinar di masyarakat. Kini, masyarakat mencari jawab pelaksanaan Revolusi Mental.

Jakarta - Merombak sistem pendidikan di Indonesia tidak semudah membalikan telapak tangan. Tahun awal masa jabatan yang seyogyanya bisa digunakan untuk mereformasi konsep pendidikan malah dihabiskan untuk memperbaiki persoalan internal kementerian. Anies mengatakan, itu adalah proses Revolusi Mental yang harus dilewatinya.

Anies mengklaim berhasil mereformasi birokrasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan memberikan sejumlah perbaikan layanan birokrasi ke masyarakat. Anies meRevolusi Mental bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan. Seperti apa langkah Anies dalam mewujudkan Indonesia yang berpendidikan, berbudaya, dan berbudi pekerti?

Di sela-sela kegiatannya membuka pameran jalur rempah di Museum Nasional, 16 Oktober lalu, tim Kabare menemui Anies. Berikut petikan wawancara dengannya.

 

Revolusi Mental itu sebenarnya apa?

Perubahan mindset dalam seluruh aspek. Perubahan mindset ini dengan cara yang cepat. Misalnya laporan yang dibuat birokrasi. Biasanya laporannya adalah apa yang sudah dikerjakan. Dengan Revolusi Mental, menjadi bukan apa yang sudah dikerjakan, tetapi apa yang sudah diraih. Beda sekali apa yang sudah diraih dengan apa yang sudah dikerjakan. Revolusi Mental sejatinya penegasan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Intinya adalah ajakan untuk berani melakukan perubahan, mulai dari cara berpikir, bertindak, sampai gaya hidup agar selaras dengan nilai kejuangan dan berorientasi kemajuan.

 

Konkretnya perilaku seperti apa?

Perilaku yang berorientasi menuju manusia baru yang berkomitmen moral, berintegritas, kompeten, dan semangat bekerja keras.

 

Kalau dalam bidang pendidikan seperti apa?

Saya ingin menegaskan, berbicara Revolusi Mental adalah juga soal perubahan cara pandang bahwa kekayaan terbesar bukan kekayaan alam, melainkan manusianya. Memerhatikan kualitas manusia berarti memperkuat pendidikan.

Tentu pemerintah terus dan makin mendorong aktif upaya peningkatan mutu dan pelayanan melalui berbagai program. Namun, masyarakat, pengusaha, profesional, pegiat pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya perlu juga terlibat aktif dalam isu-isu pendidikan.

 

Apa ada perubahan paradigma dunia pendidikan seiring Revolusi Mental?

Tentu ada perubahan. Menjadikan pendidikan mandiri dan berkepribadian.

 

Dari sisi kurikulum bagaimana?

Berbicara Revolusi Mental sebenarnya jangan melihat kurikulum saja. Karena pendidikan mencakup aspek non kurikulum. Dari sisi kurikulum tentu berbasis karakter dari kearifan lokal serta menumbuhkembangkan bakat masing-masing anak. Itu yang sedang kami dorong. Melalui program ekskul atau non kurikulum, kami sisipkan nilai-nilai lokal. Dengan demikian, generasi muda akan lebih mengenal budaya dan karakter bangsanya.

 

Revolusi Mental dari aspek budaya?

Selama ini,  kita terlalu fokus pada kesadaran budaya darat. Padahal negeri kita adalah kelautan. Nilai-nilai kearifan bahari atau maritim seperti terlupakan. Ini yang akan direvolusi. Perubahan konsep budaya darat menjadi pemahaman penuh tentang konsep kemaritiman. 

 

Apa peran pemerintah dalam Revolusi Mental di bidang kebudayaan?

Paling penting adalah menciptakan iklim yang sehat untuk tumbuh kembangnya kreasi kesenian dan kebudayaan. Dengan iklim yang sehat, pelaku kebudayaan bergairah untuk menghasilkan karya-karya terbaiknya. Pelaku kebudayaan perlu terus didorong untuk bahu-membahu mengokohkan pilar-pilar budaya Indonesia. Kunci majunya kebudayaan adalah keterlibatan para pelaku kebudayaan. Intinya kerjasama, keterlibatan, kepedulian adalah nilai-nilai yang terkandung dalam semangat gotong royong, yang tidak lain adalah Pancasila.

 

Revolusi Mental dalam kaitannya dengan pelestarian budaya?

Kita harus berbicara dari kelestarian menjadi pengembangan. Mental seperti ini yang akan kita revolusi, bukan hanya melestarikan tetapi juga mengembangkan budaya. Ketika mengekpresikan tradisi, kita ingin lestari dan mengembangkan. Kita tidak ingin stagnan di abad 18 terus, atau abad 19. Karena ekspresi abad 19 merupakan hasil pengembangan abad 18, abad 17, dan 16.

Selama ini, kita hanya berpikir melestarikan saja. Sekarang kita ubah, harus melestarikan dan mengembangkan. Perspektif baru menjadi tantangan budayawan dan seniman, bagaimana membuat kebaruan-kebaruan atas hal-hal yang kita lestarikan.

Misalnya di Kemendikbud, saya ingin peraihan menjadi konsentrasinya. Misalnya tentang museum. Pertanyaannya, berapa orang yang datang ke museum; siapa saja yang diundang. Jadi lebih dari sekadar memberikan tempat, yakni mengundang semua orang  untuk datang.

 

Apakah mengubah mindset pengembangan kebudayaan susah?

Mudah dan susah itu relatif sekali. Besar dan kecil itu ada ukurannya. Tetapi kalau mudah dan susah, itu perasaan Anda.

Teks: Mada Mahfud; Foto: Dhodi Syailendra

Popular Post

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR