Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Menangkap Wujud Putri Mandalika di Festival Bau Nyale

Patung Putri Mandalika saat hendak menceburkan diri ke laut. (Foto: adaeventsasia.com)

Festival Bau Nyale memiliki ‘story telling’ yang kuat. Yakni pesta rakyat untuk mengenang legenda Putri Mandalika, putri raja Lombok yang konon berparas cantik jelita.

LOMBOK TENGAH-KABARE.ID: Legenda masyarakat punya nilai tersendiri bagi wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebut saja Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Candi Prambanan di Sleman, Danau Toba di Sumatera Utara, dll.

Legenda-legenda tersebut terkadang dibalut dengan festival yang dapat menghibur masyarakat sekaligus memperkaya wawasan tentang budaya yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah Festival Pesona Bau Nyale, yang akan digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika pada 20 Februari 2018 mendatang.

Festival ini diangkat dari cerita rakyat, tentang legenda Putri Mandalika, putri raja Lombok yang konon berparas cantik jelita. Kecantikannya tersohor hingga negeri seberang, sehingga banyak yang ingin melamarnya, termasuk dari kalangan kerajaan hingga masyarakat biasa.

Putri Mandalika yang risau akhirnya membuat keputusan untuk mengundang seluruh pangeran serta rakyat untuk bertemu di Pantai Kuta Lombok. Pertemuan tersebut diyakini terjadi pada tanggal 20, bulan ke-10 menurut perhitungan bulan Sasak tepatnya sebelum Subuh.

Undangan tersebut tentu disambut oleh seluruh pangeran beserta rakyatnya. Sesuai janjinya, Putri Mandalika bersedia untuk dinikahi oleh semuanya. Dia kemudian berdiri di sebuah batu di pinggir pantai.

Namun setelah mengatakan niatnya, Sang Putri meloncat ke dalam laut. Seluruh rakyat dan pangeran yang mencarinya tidak menemukannya. Setelah beberapa saat akhirnya datang sekumpulan cacing berwarna-warni yang menurut masyarakat dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

 

Nilai budaya yang tinggi

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal menuturkan, Festival Bau Nyale adalah event tahunan masyarakat Sasak di Kabupaten Lombok Tengah yang memiliki nilai budaya yang tinggi dengan atraksi yang unik. Masyarakat dan wisatawan berburu sejenis cacing laut yang oleh masyarakat setempat disebut Nyale. Cacing tersebut diyakini hanya keluar satu tahun sekali dan muncul di sepanjang pesisir selatan Pulau Lombok.

"Bau sendiri artinya berburu. Jadi masyarakat dan wisatawan di sini berburu Nyale yang unik tersebut," ujar Faozal seperti diberitakan media sosial Kemenpar Rabu (10/1).

Ia menjelaskan, Nyale akan muncul sekitar hari ke 19-20 pada bulan ke-10 dan ke-11 awal tahun Penanggalan Sasak. Penentuan tanggal Bau Nyale tersebut juga setelah melalui kesepakatan para tokoh adat.

Di setiap tanggal itu pula cacing nyale keluar dari pantai tersebut. Hingga kini, tiap tanggal itu, nyale datang dan ditangkap warga. Cacing itu oleh warga sebagian ditaburkan ke sawah dan sisanya diolah menjadi lauk pauk. Seperti pepes, sambal nyale hingga masakan bersantan.

"Kadang-kadang, warga percaya cacing nyale juga bisa dijadikan sebagai obat beberapa jenis penyakit," tambahnya.

Festival Bau Nyale juga akan diisi dengan berbagai acara lainya. Seperti Presean, Bersih Pantai, Parade Budaya, Surfing, Voli Pantai, dan Lomba Swafoto menggunakan kamera handphone. Selain itu juga bakal ada Kampung Kuliner, Pemilihan Putri Mandalika, Pagelaran Budaya, dan Hiburan lainnya. (bas)

 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post