Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Kerajinan yang Hampir Punah

SIlaung Mawatik

Keinginan melestarikan budaya Kalimantan semakin menjadi-jadi saat sebuah museum di Austria memamerkan silaung mawatik penutup kepala anyaman bambu berbentuk segi enam. Itu adalah kerajinan khas suku Dayak Tahol yang hampir punah. Bahkan, masyarakat suku Tahol banyak yang tak tahu jejak tradisi

Jakarta - Tanpa pikir panjang, Yayasan Total Indonesia kemudian merumuskan program revitalisasi suku Dayak Tahol. Pertama-tama, mereka menentukan tim ahli yang ditugaskan meneliti serta memelajari nilai-nilai budaya di suku Dayak Tahol. Hasilnya cukup mengejutkan. Silaung mawatik merupakan topi yang biasa dipakai suku Dayak Tahol untuk upacara adat, seperti pernikahan dan perayaan pesta panen.

Berpijak penemuan itu, diketahui bahwa siluang mawatik memiliki motif khas bernama Mata Punai. Motif itu dibuat dengan prinsip seperti warna mata, hitam dan putih. Sementara warna merah digunakan sebagai penghias yang mempercantik.

“Setelah itu, mereka menelaah cara pembuatan silaung mawatik. Yayasan mulai mencari perajin yang bersedia terlibat dalam program revitalisasi ini. Barulah kami kembali ke suku Dayak Tahol dan melatih mereka,” kata Agus Djamhoer, kepala Yayasan Total Indonesia.

Pelatihan tersebut merupakan tahap awal, pengenalan kembali terhadap budaya leluhur sebelum mulai memproduksi. Pelatihan juga diselenggarakan untuk memberikan standar terhadap kualitas kerajinan yang layak jual. Selanjutnya, warga diajarkan untuk berinovasi pada motif dan lainnya.

Agar kebudayaan ini tetap lestari, Yayasan Total Indonesia berusaha menyelipkan manfaat ekonomi sebagai tambahan motivasi. Itu berarti Yayasan Total Indonesia juga memikirkan pasarnya. “Selama ini, Yayasan Total Indonesia bekerja sama dengan koperasi Total dan beberapa sentra penjualan di Balikpapan, Jakarta, dan Bali. Kami menitipkan hasil produksi ke situ dan mereka yang menjualnya,” ucap Agus.

Dengan kata lain, Yayasan Total Indonesia berupaya memadukan pelestarian budaya kerajinan tradisional dengan pengembangan kegiatan, yang gilirannya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para perajin. Yayasan Total Indonesia menyadari bahwa kegiatan mengasuh para pelaku budaya ini tidak dapat berlangsung selamanya. Pada waktunya, akan mandiri dan mulai melestarikan sendiri kebudayaan mereka.

Selain suku Dayak Tahol, Total sampai kini juga telah memotivasi dan membina suku pedalaman lainnya untuk melestarikan seni anyaman khas mereka. Seperti suku Dayak Lundayeh, Dayak Aoheng, Dayak Tenggalan, Dayak Kenyah, dan suku Paser. Yayasan ini juga turut serta dalam pelestarian tari Jepen. Tari Jepen, yang berasal dari bahasa Arab, Zapin, artinya gerakan kaki. Kebudayaan masyarakat pesisir Kalimantan Timur ini nyaris senasib dengan silaung mawatik. Di era sekarang ini, Jepen semakin sulit ditemukan. Yayasan Total Indonesia berinisiatif mendokumentasikan pakem tari Jepen dan mengumpulkannya.

Teks: FA Herru; Foto: Dhodi Syailendra

  1. Avatar
    EG3gHqWb Thursday, 06 October 2016

    I'm impressed by your writing. Are you a professional or just very knogledweable?

KOMENTAR

Popular Post