Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Doed Joesoef, meninggal dunia, Selasa (23/1/2018), pukul 23.55 WIB. 
BISNIS

Jalan Sukses Seorang Pemimpi

Sidik W. Martiwidjojo, Pelukis

Maestro yang sejak 1950 telah melukis dengan gaya chinese painting merupakan pelukis pertama Indonesia yang bisa pameran di Louvre, Paris Perancis.

Jakarta - Saat itu, pelukis dari 40 negara membawa 600 karya  untuk dipamerkan di Louvre Internationals Arts di Carrousel du Louvre, Paris, Perancis. Setiap pelukis hanya boleh menampilkan satu karya. Hanya Sidik W. Martiwidjojo yang menampilkan 21 karya. Bahkan di ajang bergengsi seni rupa yang digelar pada 11-14 Desember 2014 itu, Sidik mendapatkan ruang sendiri untuk memamerkan karyanya. “Saya bawa 21 karya. Saya yang baru pertama kali ikut, bisa dan mendapat ruang tersendiri dalam ajang itu. Tema yang saya ambil adalah ‘Pencerahan dari Timur’ atau ‘Enlighten Orientalism,” ujarnya.

Baginya, manusia harus bermimpi. Mimpi bisa menjadi kenyataan kalau mau melangkah. “Waktu akan pameran di Louvre, 2-3 hari sebelumnya, seseorang yang jadi sponsor bilang tidak jadi beli lukisan. Kelenger tidak? Lalu ada seseorang yang senang lukisan bilang kepada saya, ‘ini ada dana setor saja ke Louvre’. Saya jadi bisa pameran. Padahal tiga hari sebelumnya kepalaku sudah ngelu (pening),” kenangnya sambil tertawa.  

Selain berani bermimpi, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 24 September 1937, ini benar-benar pekerja keras yang penuh keyakinan. “Saya berani melangkah. Kalau tidak ada langkah pertama, tidak akan tercapai.” Prinsip seperti ini yang membuatnya berani pameran di luar negeri. Seperti ketika pameran di China. Sebagian orang menganggapnya gila. Karena, dengan gaya lukisan chinese painting (guo hua), dia berani pameran di negeri asal gaya lukisannya.

Pelukis yang kini tinggal di Yogyakarta telah banyak menggelar pameran. Paling tidak, sejak 1998 lebih dari 20 pameran tunggal dan beberapa pameran bersama. “Ketika menggelar pameran di National Art Museum of China (NAMoC), saya beberapa kali mendapat penghargaan,” ujarnya.

Antara lain karya bertema ‘Bunga Phoenix’ dengan media cat hitam putih. Lukisan ini dianggap sebagai Lukisan Tiongkok Mutu Terbaik dalam kompetisi seni lukis dan kaligrafi Tiongkok sedunia di Beijing pada 2001 dan di Nanjing pada 2002. Kemudian piagam penghormatan 10 Besar Seni Budayawan pada forum diskusi ilmiah ‘Masyarakat Kecil dan Makmur di Beijing’ pada 2006 dari Pusat Pemuda Partai Tiongkok. Karena dianggap berhasil melakukan pembaruan dalam seni budaya Tiongkok. Padahal, Sidik satu-satunya orang dari luar Tiongkok.

“Saya  juga diangkat sebagai peneliti pada Pusat Penelitian Seni Republik Rakyat Tiongkok di Beijing dan sebagai pengajar tamu (guest professor) di Eastern International Art College of Zhengzhou University of Light Industry pada 2007,” jelasnya.

Sadik memaparkan perjalanan kariernya dan mencermati dunia lukis saat ini. Banyak yang dikemukakannya meski dalam keadaan kurang sehat ketika berbincang dengan Della Yuanita dari Kabare di Jogja.

 

Mengapa menekuni chinese painting?

            Saya dari kecil senang melukis dan melihat chinese painting. Kalau melihat rasanya tenang. Saya juga otodidak belajar sastra dari ayah, Phe Hwie Kwan. Ayah yang mengenalkan saya kepada buku-buku karya pelukis maestro Tiongkok, Qi Pai She.
            Tahun 1960-an saya mengajar di sekolah China. Tapi setelah Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI) sekolahnya ditutup dan tidak boleh ada sesuatu berbau China oleh pemerintah waktu itu. Semua karya saya dibakar dan dihancurkan. Tetapi masih ada satu lukisan chinese yang saya pajang di rumah. Semua teman mengingatkan untuk itu, karena bisa ditangkap kalau menyimpannya.

 

Sampai tahun 1990-an saya vakum. Lalu kembali ke Jogja, dan mulai bangkit. Tahun 1966 di Malang, 1967 di Jakarta dan 1990 kembali ke Jogja kemudian mulai berkarya.

 

Setelah itu, kapan mulai pameran?

Pameran pertama tahun 1998 di Griya Kencana, Jogja. Tahun 2004 berpameran di Hotel Phoenix, Jogja. Pameran ini membawa semangat dan menggugah untuk mencari sesuatu yang lebih, tetapi bukan uang. Saya mencari sesuatu yang lebih berguna. Ada kepuasan batin manakala lukisan diapresiasi para pengunjung pameran, apalagi dibeli.

            Tahun 2005 berpameran di Galeri Nasional Jakarta. Kemudian ke China tahun 2005 dan berpameran di Millenium, sebuah galeri yang mahal. Banyak yang bilang saya gila berpameran di sana. Chinese painting, kok, berpameran di China. Waktu itu ada kurator dari China. Dia menilai karya saya berbeda dari yang lain.

Kemudian dia mengajak berpameran di National Museum of China (NAMoC). Tahun 2007 saya diundang pameran di NAMoC. Dibuka oleh Ketua Parlemen China dan Wakil Duta Besar Indonesia, Pak M. Umar. Kemudian saya diundang sebagai anggota peneliti di NAMoC.

           

Kabarnya Anda pernah mengalami mental jatuh?

Tahun 2008, istri saya sakit, dan setahun kemudian meninggal. Saya agak down ketika itu. Sampai tahun 2012, teman-teman memberi semangat untuk kembali berkarya.

Tahun 2014 saya mengajukan untuk pameran di Louvre Internationals Arts di Carrousel du Louvre, Paris, Perancis, pada 11-14 Desember 2014. Saat itu, ada 40 negara dengan 600 karya yang ikut pameran lukis. Saya mendapatkan juara painting goldprize. Penghargaan emas untuk karya lukis berjudul "Jalan".

Pada ajang pelukis tersebut, ada 40 negara yang ikut. Setiap pelukis hanya boleh menampilkan satu karya. Sedangkan saya yang baru pertama kali ikut, bisa menampilkan 21 karya dan mendapat ruang tersendiri dalam ajang itu. Tema yang saya ambil adalah "Pencerahan dari Timur" atau "Enlighten Orientalism". Karya itu dibuat sejak 2004.
           

Setelah lebih seratus tahun di ajang pelukis internasional tersebut, baru ada pelukis asal Indonesia yang turut serta. Bagaimana menurut Anda?

Saya berharap pameran ini bisa menginspirasi pelukis-pelukis Indonesia untuk bisa pameran di Louvre. Sekadar informasi, ‘Louvre Internationals Arts Exhibition’ digelar oleh Asosiasi Seniman Nasional Perancis (SNBA). Ajang yang telah berlangsung 126 tahun ini merupakan festival tahunan di dunia seni rupa internasional. Saya satu-satunya pelukis yang bisa masuk Louvre setelah lebih dari seratusan tahun ajang itu berlangsung.

 

Karya-karya Anda banyak bercerita tentang apa?

Banyak bercerita tentang lanskap dan pemandangan. Dibuat menggunakan tinta cair. Di Carrousel du Louvre, Paris, Perancis, karya yang mendapat penghargaan lukisan berjudul “Jalan”. Sebetulnya jalan itu adalah alam. Alam semesta adalah jalan menuju ke depan. Kita semua berjalan. Kalau orang tidak berani berjalan, maka tidak akan sampai tujuan. Setiap karya ada filosofinya. Filosofi menunjukkan kematangan dari karya. Jadi tidak asal melukis bagus, melainkan ada makna di balik itu semua.

 

Belakangan ini karya apa yang sedang dibuat?      

Tahun 2015 saya belum bisa berkarya, karena kondisi kesehatan. Saya pernah jatuh dan sakit. Tapi saya semangat untuk berbuat lebih.       

 

Berapa banyak karya Anda?

Karya saya sudah ribuan. Karya masterpiece ada puluhan, salah satunya ‘Burung Phoenix’.  

 

Bisa diceritakan cara Anda melukis?

Waktu melukis, saya bukan seorang pelukis. Saya adalah lukisan itu sendiri. Lukisan bisa hidup kalau kita menjiwai, manunggaling jiwo lan lukisan (menyatunya jiwa dalam lukisan). Curahkan semua ke lukisan, sehingga lukisan itu betul-betul menjadi sesuatu kehidupan.

Seperti Leonardo da Vinci dengan Monalisa-nya. Cantiknya dimana? Tetapi lukisan itu seperti hidup, ada jiwanya. Van Gogh dengan lukisan ‘Sepatu’. Waduh, mesti sepatu itu buat jalan kaki ratusan kilometer sampai meyek-meyek. Itu yang membuat orang tersentak. Begitu juga Salvador Dali. Dia menunjukkan alam ini ada yang kuasa. Dia bisa menuangkan bagaimana lukisan kapal itu betul-betul begitu mencekam seolah-olah sendirian.

 

Siapa pelukis favorit Anda?

Saya menyukai karya Affandi. Dia memiliki identitas. Setiap karyanya memiliki makna mendalam. Saya juga menyukai Hendra Gunawan dan Widayat.

Dalam melukis, kita harus punya identitas sendiri, jangan meniru. Saya angkat topi dengan Affandi, Hendra, Widayat. Mereka tidak meniru.

 

Dari banyak lukisan Anda, mana yang menurut Anda sangat bagus?

Saya rasa semua karya bagus. Tapi ada puluhan yang saya rasa bagus, tergantung penilaian orang. Banyak yang sudah laku. Uangnya buat biaya hidup dan berkarya serta pameran lagi.

Saya cenderung tidak memilih satu aliran tertentu. Melukis berdasarkan keinginan saja. Kalau saya ingin melukis realis, ayo; surealis, boleh. Tetapi sebagai seniman harus memiliki ciri khas atau identitas sendiri.

 

Lukisan Anda yang paling mahal?

Lukisan saya paling mahal itu tidak dijual. Itu yang dapat medali.  Tidak pernah akan saya jual. Lukisan hitam putih, ukurannya besar: 7 meter x 2 meter.

 

Mediumnya apa?

Kertas bambu. Kertas itu bisa meresap sampai ke pori-porinya. Lukisan akan hancur kalau kertasnya hancur. Kalau kanvas harus direstorasi, beberapa puluh tahun harus direstorasi kembali. Lukisan Monalisa itu sudah beberapa kali direstorasi.

 

 

Bagaimana pemeliharaan karya?

            Kalau lukisan oil painting bisa ditumpuk. Kalau lukisan saya medianya kertas, pewarnaannya cat air. Mudah pemeliharaannya daripada kanvas. Asal jangan ditaruh di tempat lembab. I Nyoman Gunarsa melihat karya saya mengatakan kertasnya tipis banget dan mudah sobek. Kalau kanvas harus direstorasi, kertas tidak.

 

Berapa banyak pameran lukisan yang telah Anda gelar?

Jika dirunut sejak reformasi di Indonesia tahun 1998, saya telah menggelar lebih 20 pameran tunggal dan beberapa pameran bersama. Antara lain, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; Langgeng Gallery, Magelang; Nadi Gallery, Jakarta; The China Millenium Monument, Beijing; National Art Museum of China (NAMoC), Beijing; Liu Haisu Art Museum, Shanghai; Fuzhou National Gallery, Fuzhou; Huafu Tiandi, Shanghai.

           

Dari semua pameran itu, apakah ada penghargaan yang diterima?

Ketika menggelar pameran di NAMoC dan China, saya beberapa kali mendapat penghargaan. Antara lain karya “Bunga Phoenix” dengan media cat hitam putih sebagai Lukisan Tiongkok Mutu Terbaik dalam kompetisi seni lukis dan kaligrafi Tiongkok sedunia di Beijing (2001) dan Nanjing (2002).

Kemudian piagam penghormatan 10 Besar Seni Budayawan pada forum diskusi ilmiah "Masyarakat Kecil dan Makmur di Beijing" pada 2006 dari Pusat Pemuda Partai Tiongkok. Karena dianggap berhasil melakukan pembaruan dalam seni budaya Tiongkok. Sidik satu-satunya orang dari luar Tiongkok.

Saya  juga diangkat sebagai peneliti pada Pusat Penelitian Seni Republik Rakyat Tiongkok di Beijing dan sebagai pengajar tamu (guest professor) di Eastern International Art College of Zhengzhou University of Light Industry pada 2007.

 

Siapa seniman muda yang rising star sekarang ini?

Sebetulnya banyak yang bagus. Hanya saya mohon mereka jangan mencari instan (gampangan).

 

Kenapa seniman muda di Indonesia sulit berkembang?

            Seniman muda sulit untuk berkembang karena berorientasi ke materi. Saya hanya berpesan kepada seniman-seniman muda, jangan hanya berorientasi pada materi. Banyak seniman muda yang bagus dan memiliki nama, tapi karena para kolekdol (kolektor yang hobi memperjual-belikan karya) dan senimannya masih butuh uang sehingga orientasinya ke materi. Tapi itu dimaklumi, kembali lagi ngono yo ngono ning ojo ngono.

Pada akhirnya hal ini berdampak pada kondisi seni rupa Indonesia. Kondisi yang terjadi saat ini sebetulnya agak kacau. Banyak seniman yang bagus dan hebat, tapi terbelenggu kebutuhan materi.

 

Bagaimana pandangan Anda dengan fenomena lukisan palsu?

            Sebetulnya lukisan palsu juga baik untuk meramaikan khazanah seni. Tidak baiknya dimanfaatkan untuk jual beli para kolektor. Saya anjurkan supaya seni itu ditandatangani atas nama diri sendiri. Biarpun agak mirip dengan yang palsu, tapi yang asli ada tanda tangan pelukisnya.

 

Harapan untuk seni rupa Indonesia?

            Pesan dan harapan kepada pelukis muda agar konsentrasi untuk seni. Jangan pernah merasa puas diri. Kita harus berjuang. Saya selalu bersemangat mencintai. Cinta itu penting. Seseorang yang mencintai sesuatu, apa pun akan diberikan, nyawa pun diberikan. Kalau mencintai seni rupa, kamu akan mengabdikan dan memberi yang terbaik demi kemajuan seni itu sendiri.

Teks: La Ode Idris; Foto: Jefry Hanafiah, Dhodi Syailendra

Popular Post

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR