Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Doed Joesoef, meninggal dunia, Selasa (23/1/2018), pukul 23.55 WIB. 
Komunitas

Erasmus Huis Tampilkan Pengaruh Budaya Kopi dalam Sebuah Pameran

Ilustrasi: Peracik kopi. (Instagram)

Pameran kopi bertajuk "Sejarah Kopi atau Sebuah Cerita Papan Tulis" ini dikatakan dapat mengungkap cerita di balik komoditas yang paling banyak diperdagangkan di dunia yang mempengaruhi budaya, ekonomi dan lingkungan manusia.

JAKARTA-KABARE.ID: Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jakarta menggelar pameran kopi bertajuk "Sejarah Kopi atau Sebuah Cerita Papan Tulis" pada 8-21 Januari 2018.

Dari informasi yang diterima Kabare.id, Senin (8/1), pihak penyelenggara menuturkan, setiap cangkir kopi yang dibeli dan diminum diyakini dapat menghubungkan dengan kumpulan cerita tersembunyi di seluruh dunia.

Pameran ini juga dikatakan sebagai kesempatan terbaik bagi semua pecinta kopi untuk mengetahui perjalanan kopi di Erasmus Huis. Sekaligus mengungkap cerita di balik komoditas yang paling banyak diperdagangkan di dunia yang mempengaruhi budaya, ekonomi dan lingkungan manusia.

Pameran ini merupakan co-produksi Erasmus Huis di Jakarta dan Hortus Botanicus Amsterdam. Pameran buka setiap hari, kecuali pada hari Minggu.



Peduli seni budaya di Indonesia

Erasmus Huis adalah pusat kebudayaan Belanda di Jakarta yang rutin menggelar pertunjukan seni budaya, seperti acara musik akustik, pameran-pameran dan pemutaran film.

Perunjukan yang ditampilkan tidak hanya seputar budaya Belanda, tetapi juga memberikan ruang bagi seni dan seniman Indonesia.

Ketertarikan dan sikap menghargai budaya Indonesia ini tentu saja sebagian berkaitan dengan ikatan historis antara kedua negara. Di samping itu, Indonesia menjadi sumber inspirasi bagi sejumlah seniman Belanda, sehingga menghasilkan pertukaran seniman dan kelompok. Ini merupakan latar belakang didirikannya Erasmus Huis pada 1970.

Lembaga yang dibuka oleh Pangeran Bernhard ini awalnya menempati sebuah rumah di Jalan Menteng Raya 25 di Jakarta. Di tempat itu digelar berbagai kegiatan budaya seperti ceramah, diskusi, pameran, konser, pemutaran film dan kursus bahasa Belanda (kini berada di bawah Erasmus Taalcentrum) dengan tokoh-tokoh penting dari dunia budaya Belanda dan Indonesia.

Pada tahun 1981 Erasmus Huis menempati gedung di sebelah bangunan baru Kedutaan Besar Belanda di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Di gedung baru ini, program Erasmus Huis mulai mendapatkan bentuk. Erasmus bekerja sama erat dengan sekolah musik, sekolah seni, museum, galeri serta lembaga budaya lainnya di Indonesia.

Dengan berjalannya waktu, Erasmus Huis berkembang menjadi sebuah pusat kebudayan yang penting bagi iklim budaya di Jakarta dan di luarnya. (*)

Baskoro Dien

Popular Post

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR