Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Dua Kutub Bertemu di Galeri Nasional

Lukisan karya Masdibyo: Berdoa di Tengah Teror Jakarta, Sarinah 14 Januari 2016. (160 x 200 cm, Acrylic on canvas. 2016). (foto: Galeri Nasional Indonesia)

Dua kutub adalah sebuah tema pameran karya seni yang ditampilkan oleh dua perupa berbeda di Galeri nasional. Salah satu perupa berbicara mengenai kesendirian, kontemplatif, dan kekuatan tunggal. Sementara satunya lagi berbicara tentang komunalitas, keramaian dan kebersamaan.

JAKARTA-KABARE.ID: Dua seniman (perupa) yang memiliki latar belakang yang berbeda, yakni Masdibyo dari Tuban Jawa Timur dan Gigih Wiyono dari Sukoharjo Jawa Tengah menggelar pameran bersama bertajuk ‘Dua Kutub’ di Galeri Nasional Indonesia pada 10-21 Januari 2018.

Dalam siaran pers yang diterima Kabare.id, disebutkan secara genetika karya di dalam proses penciptaannya kedua perupa ini memiliki disiplin yang berbeda. Masdibyo lahir di pesisir selatan Pacitan, tumbuh dan sangat dekat dengan kultur nelayan. Sementara Gigih Wiyono lahir di pedalaman Jawa Tengah Bagian Selatan, tumbuh dan kental dengan dunia pertaniannya.

“Kutub memiliki arti harfiah sebagai ujung poros atau sumbu bumi, ujung batang magnet yang mempunyai sifat menarik (magnetik). Kami Dua Kutub Masdibyo dan Gigih Wiyono, hadir membawa pesan tentang kekuatan cinta,” tulis mereka.

Selain itu mereka juga mencoba menghadirkan spirit yang membawa energi perdamaian dan kasih sayang. “Tentang manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Tentang mikrokosmos dan makrokosmos, yin-yang, lingga yoni, vertikal-horizontal, positif negatif, kekuatan dan kelenturan dan lain sebagainya,” kata mereka.

Dalam pameran tersebut, Masdibyo menyajikan 30 lukisan bertarikh 2007-2017. Ia banyak membahas persoalan rakyat tentang kearifan lokal, cinta kasih, dan kelembutan. Sedangkan Gigih Wiyono menyajikan 23 lukisan dan 9 patung bertarikh 2013-2017, yang mencitrakan mitos, simbol, huruf-huruf Jawa dan motif-motif tradisi yang dihadirkan secara kontemporer.

“Dalam pameran berdua ini kami melebur dalam satu tema Dua Kutub, sebagai harmonisasi yang tersublim dalam karya-karyanya. Kehadiran kami sebagai bentuk ekspresi estetis, cinta kasih dan bahkan tentang kegelisahan,” katanya. (bas)

 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post