Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Doed Joesoef, meninggal dunia, Selasa (23/1/2018), pukul 23.55 WIB. 
Wisata & Kuliner

Di Tomohon, Bunga Mekar dari Rumah sampai Kuburan

Ningsih di kios bunganya Ningsih Florist. (Foto: ysh)

Di Tomohon, Sulawesi Utara, masyarakatnya memperingati Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, penuh suka cita. Tak ketinggalan, bunga-bunga segar pun “bermekaran” mulai dari rumah-rumah, gereja hingga kuburan.

TOMOHON-KABARE.ID : “Kalau Natal dan Tahun Baru begini, omset kami bisa sekitar Rp.70 jutaan,” ujar Ningsih dengan wajah semringah, meski kota bunga itu pada beberapa hari terakhir tahun 2017 hingga awal tahun baru 2018 silih berganti antara mendung, gerimis, hujan dan terang.

Perempuan ramah pengelola Ningsih Florist itu berdagang karangan bunga di kiosnya yang terletak di kawasan Kakaskasen II Tomohon Utara, tepatnya di tepi Jalan  Raya Tomohon-Manado, Sulawesi Utara. Kios bunga itu hanya satu dari seratusan kios bunga, yang berderet di kiri kanan ruas jalan protokol itu,  dengan aneka nama, baik menggunakan bahasa Indonesia, ataupun campuran Indonesia Inggris. Meskpiun namanya berbeda-beda, nyaris jenis bunga yang dijual sama, bunga lokal  misalnya krisan, aster, gladiol, lavender, anthurium, hingga yang didatangkan dari Bandung seperti mawar, dan casablanca. 

Jangan salah di antara kios-kios bunga yang bertebaran di penghujung hingga awal tahun itu, ada yang tetap, ada yang musiman. Ningsih Florist termasuk sepuluhan kios/toko bunga tetap di Tomohon, disamping Titha Floris, Kembang Fonny, Kembang Bonita, Ilomata Floris, dll.

“Kios kami merupakan usaha turun temurun, mulai dari orang tua, hingga saat ini saya yang mengelola,” kata Ningsih disela melayani pembeli; sepasang nona deng nyong yang datang dengan mobil gagah, dan pakaian perlente dan modis. “Kios ini langganan keluarga kami,“ ujar pembeli bunga itu.

Ningsih menjual karangan bunga, mulai dari harga paling murah Rp.25.000 hingga Rp. 800.000. Bunga yang paling murah itu, rata-rata untuk buah tangan masyarakat kelas bawah saat pergi ke kubur. Akan tetapi, tidak sedikit bunga-bunga yang dipajang di “rumah abadi 2X1 meter” itu, sebuah buket dengan bunga-bunga mahal seperti mawar, casablanca dipadu dengan krisan dan ester. Buket dengan hiasan bunga-bunga mahal seperti itu, di kios Ningsih dibanderol Rp. 800.000. Jangan lupa, pilihan semakin mampu seseorang, tentu akan semakin memilih bunga-bunga yang cocok untuk status sosial dan ekonomi mereka.

Pada saat Natalan warga Tomohon ziarah kubur sambil membawa bunga. (Foto: ysh)

 

Kehidupan masyarakat Tomohon, kata Ningsih, tidak dapat dipisahkan dari “bahasa bunga”. Baik dalam keadaan suka cita maupun duka cita. Saat suka cita, misalnya saat ada yang melahirkan, menikah, naik jabatan, kelulusan sekolah/kuliah, ulang tahun dan lain-lain, orang akan memberikan ucapan antara lain dengan bunga. Bahkan  saat duka cita pun bunga turut hadir baik sebagai ucapan turut bela sungkawa, maupun hiasan di sekitar ruangan peti jenasah, hingga dibawa serta oleh almarhum/almarhumah  hingga ke liang kubur. Biasanya bunga-bunga itu, dipilih yang berwarna putih. 

Tentu saja bentuk karangan bunganya berbeda-beda. Ada dalam bentuk bunga buket, bunga meja, bunga papan, bunga pernikahan, bunga perayaan, bunga duka cita, hingga bunga ziarah kubur. “Saya mengerjakan semua itu. Saat pelukis Sonny Lengkong meninggal, saya yang mendekor bunganya,” ujar Ningsih yang selalu tampil dalam even tahunan Tomohon Internasional Flower Festival (TIFF), setiap bulan Agustus.

 

Krisan dari Pasuruan   

Penulis bersama pemilik kebun bunga Marten Manua dan istri. (Foto: Dok ysh)

 

Sentra bunga lokal di Tomohon, ada di Kakaskasen. Selasa (2/1/2018), penulis mengunjungi salah seorang petani bunga di Kakaskasen, Marten Manua, yang kebetulan sehari-hari sebagai karyawan Dinas Kesehatan. Di ladang bunganya yang cukup luas itu, ia sedang menanam bunga krisan yang baru berusia dua minggu, dan satu setengah bulan. Selain itu ada bunga gladiol.

Ia cerita bahwa Natalan dan Tahun Baru, memang puncak-puncaknya permintaan bunga segar. Akan tetapi, sebagai petani bunga, ia terus menanam, terutama bunga krisan warna kuning, putih, merah dan ungu muda. Dari penanaman bibit sampai panen membutuhkan waktu sekitar 100 hari.

Kebun bunga gladiol di Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara. (Foto: ysh)
Kebun bunga krisan di Kakaskasen, Tomohon. Bibitnya dari Pasuruan, Jawa Timur. Ini baru usia 1,5 bulan. (Foto: ysh)

 

Menanggapi kios-kios bunga yang masih saja mendatangkan bunga dari luar (Bandung), Marten menjelaskan karena bunga-bunga itu (casablanca, dan mawar) memang tidak ada di Tomohon. Bunga yang cocok di tanah dan iklim Tomohon itu seperti anggrek kelapa (Phajus Thankervillae), krisan, aster, lavender, gladiol, dan anthurium. 

Di antara bunga-bunga itu, yang asli Tomohon anggrek kelapa yang tumbuhnya di hutan, namun cukup sulit di budidayakan di ladang di luar hutan. Karena itulah, angrek ini tidak turut serta menghiasi karangan bunga Natal maupun Tahun Baru.

Krisan asli Tomohon. (Foto: ysh)

 

Sementara bunga krisan, yang asli Tomohon, menurut Marten bunganya kecil hingga sedang, warna kuning dan putih. Sedangkan yang banyak ia budidayakan untuk di pasok di kios-kios bunga di Tomohon, adalah bunga krisan dari Nogkojajar, Pasuruan. Warna bunganya putih, kuning dan ungu muda. Setiap 1 m2, menghasilkan 100 pohon krisan. Setiap satu pohon, terdiri dari beberapa kuntum bunga. Ia mengaku setiap kali panen bisa memetik jutaan rupiah dari kebun bunga di belakang rumahnya yang sejuk dengan latar belakang Gunung Lokon. (ysh)

Marten Manua bersama istri dan karangan bunganya. (Foto: ysh)

 

 

 

Ditulis dari Tomohon, oleh Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

Popular Post

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR