Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Ziarah untuk Mas GM "Oom Pasikom" Sudarta

GM Sudarta dengan karyanya tentang tikus-tikus (koruptor). (foto: ysh)

Pada saat sakit tahun 2010, ia mengaku telah melihat cakrawala (kematiannya). Maka sejak itulah, ia semakin menghargai waktu, sisa usia, untuk berkarya dan ibadah, sebagai rasa syukur pada Allah.

KABARE.ID : Setelah delapan tahun kemudian, GM Sudarta (73), kartunis Kompas "Om Pasikom" mengembuskan nafas terakhir, Sabtu (30/6/2018) pagi, pukul 08.45 WIB.

Lahir di Klaten 20 September 1945. Tamatan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta ini, sebagian besar usianya didedikasikan untuk kartun/karikatur hingga menjadi kartunis terkemuka Tanah Air, yang diakui dunia internasional. Tepatnya sejak 1967, atau 51 tahun yang lalu, hingga menutup mata, cukup banyak penghargaan yang diterima dari dalam maupun luar negeri. Antara lain Hadiah Kalam Kencana dari Dewan Pers Indonesia (1977), Honorary Mention Award dari House of Humor, Gabrovo, Bulgaria (1981), dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Kartunis Terbaik (1982),  hadiah Jurnalistik Adinegoro dan Thropy dari PWI (1984-1987).  Best Cartoon of Nippon (2000) dan Gold Prize Tokyo No Kai, kompetisi kartun internasional (2004).  

Hasratnya yang begitu besar pada dunia kartun, tidak peduli sakit, ia terus berkarya. Misalnya pada tahun 2010 itu. Meski terkapar di RS Panti Rapih Yogyakarta,  sambil tiduran ia terus bekerja membuat kartun untuk Kompas. Ucapannya yang terus mengiang di telinga saya, "Walaupun saya terkapar, Oom Pasikom harus tetap segar bugar." Meski ia sudah memakai kaca mata tebal, tetap membutuhkan kaca pembesar untuk mengerjakan detil kartunnya. Jari jemariya begitu lincah memainkan spidol guna menuangkan kritik serta humor di atas kertas. Seputar ketegangan Indonesia-Malaysia, gara-gara  polisi jiran itu menahan tiga petugas patroli laut Indonesia, di perairan Indonesia.

Lukisan GM Sudarta yang membuat anak kembarnya lari. (foto: dok ysh)

 

Sakit  Mas GM atau Mas Darta saat itu, karena terserang "virus Jepang"  (baca Hepatitis C) pada saat bertugas  mengajar kartun beberapa tahun di Universitas Seika Kyoto, Jepang. Ditambah jatuh dari kamar mandi hingga tulang kaki kirinya harus dioperasi.

Setelah sembuh, tubuhnya menjadi kurus kering. Kemudian ia menjadikan tubuhnya itu sebagai subject matter untuk dilukis di atas kanvas. Rambutnya acak-acakan, mengenakan baju kebesarannya hitam-hitam, dan tangan kanannya memegang Oom Pasikom yang tersenyum. Kontras! Ketika putri kembarnya yang saat itu bersekolah di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, melihat karyanya, langsung lari ketakutan. Seperti diketahui, selain membuat kartun, Mas GM juga aktif melukis, dan cukup sering ikut pameran.   

GM Sudarta tetap berkarya meskipun sedang opname. (foto: Deni )

 

Kritik Gaya Jawa

Kartunis yang sejak kecil suka mencorat-coret dinding dan bercita-cita menjadi masinis kereta api itu, semasa hidupnya telah melampaui era Presiden Soeharto yang represif, hingga era Presiden Jokowi saat ini dengan kondisi masyarakatnya yang liberal. Melalui Oom Pasikom -- dalam film dimainkan Butet Kertaradjasa-- dengan maskot lelaki tua mengenakan jas tambalan, topi golf dan sepatu lancip, dengan sabar ia melontarkan kritik dibalut humor. Mengenai berbagai persoalan bangsannya, negerinya, juga dunia. Dengan kritik gaya Jawa : "ngono yo ngono, ning ojo ngono", arti harafiahnya begitu ya begitu, tapi jangan begitu.

Untuk itu, dalam menyampaikan kritik, tidak langsung tunjuk hidung, melainkan dengan cara Jawa : jalannya melingkar. Atau istilah kartunis Dr Priyanto (alm), Mas GM “bermain secara berputar”. Justru dengan resep itu, ia tetap kreatif dan bertahan di masa Orde Baru yang represif, hingga Era Reformasi yang bebas.

Pada pameran tunggalnya 2007 di Bentara Budaya Jakarta, Mas GM merasa dirinya (Oom Pasikom) sebagai Don Quixote.  "(Rasanya) sia-sia, karena hampir 40 tahun (diucapkan tahun 2007-Red) saya membuat kartun tentang korupsi, kesengsaraan rakyat, kemiskinan, birokrasi, tidak hilang tapi makin amburadul, tak ada perbaikan. Malahan korupsi makin banyak dan terang-terangan. Birokrasi makin terang-terangan amburadulnya. Penderitaan rakyat tak terperhatikan, TKW sengsara ... Sehingga saya berpikir : kalau begini terus ya kita ini kayak Don Quixote".

Salah satu kartun Mas GM, yang menjadi cover Visual Arts. (foto; dok ysh)

 

Sementara Pak Jakob Oetama menilai kritik Oom Pasikom itu sarat humor seperti adegan goro-goro dalam wayang kulit. Mengajak kita menertawakan diri sendiri, dan kartun tidak bisa mengubah pendapat seseorang. Tentu saja Mas GM sependapat. "Kita menyampaikan misi perbaikan saja”.

Pada pameran kartun tahun 2017, merayakan 50 tahun "Oom Pasikom", saya mengajukan pertanyaan : berat mana berkarya di masa Orde Baru, reformasi, dan pascareformasi sekarang. "Sama beratnya," jawabnya. Di masa Orde Baru, ia dituntut kreatif dan hati-hati. Supaya bisa menohok, kartunnya dibuat dengan jalan melingkar, sesuai falsafah Jawa : ngono yo ngono ning ojo ngono.  Adapun beratnya sekarang ini, kartun harus berhadapan dengan masyarakat dan pejabat yang (mulai) imun dengan kritik. Selamat tidur panjang Mas GM. Semoga Oom Pasikom tetap bertahan hidup dengan caranya sendiri.

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

  1. Avatar
    David Monday, 02 July 2018

    Selamat jalan om sudarta, istirahatlah dengan damai, semoga om sudarta diberikan yg terbaik di persinggahanya sekarang, semoga kelak lahir kembali kartunis-kartunis muda, selamat jalan om.

KOMENTAR

Popular Post