Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Wayang Topeng, Tradisi Persembahan Hingga Hiburan

Foto: Kemenparekraf RI/ Pesona.Travel

Wayang Topeng merupakan tradisi masyarakat Jawa sejak jaman Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin oleh Raja Gajayana sekitar abad ke 8 M.

JAKARTA – KABARE.ID: Topeng waktu itu terbuat dari batu dan merupakan bagian dari acara persembahyangan. Kemudian pada masa Raja Erlangga, topeng dikonstruksi menjadi kesenian tari.

Topeng yang digunakan menari waktu itu untuk mendukung fleksibilitas si penari karena sulit untuk mendapatkan riasan (make up). Untuk mempermudahnya, maka para penari tinggal mengenakan topeng di mukanya.

Saat kekuasaan Kertanegara di Singasari, cerita wayang topeng digantikan dengan cerita-cerita Panji yang mengisahkan kepahlawanan dan kebesaran kesatria-kesatria Jawa, terutama masa Jenggala dan Kediri.

Pada saat agama Islam masuk di Jawa, wayang adalah salah satu media dakwah. Cerita Menak merupakan tanda masuknya Islam di tanah Jawa dan cerita Menakjinggo adalah cerita Menak yang dikonstruksi oleh keraton Mataram yang juga tentang ajaran Islam.

Baca juga: Tato Mentawai, Identitas dan Tanda Kedewasaan Suku Mentawai

Sunan Kalijaga pada masa Kerajaan Demak telah menciptakan topeng yang mirip dengan wayang Purwa ada tahun 1586. Topeng oleh Raden Wijaya digunakan sebagai media rekonsiliasi antara Kediri, Singosari, dan Majapahit dalam merebut kekuasaan.

Kekhasan lain dari Wayang Topeng adalah pahatan karakter wajah pada topeng kayu yang memiliki warna lebih beragam dan mencolok. Warna-warna tersebut mempunyai makna masing-masing.

Warna merah melambangkan karakter pemberani. Warna kuning melambangkan kesenangan atau sifat ceria. Warna hijau melambangkan kesuburan atau kedamaian. Warna biru atau hitam melambangkan sifat bijaksana.

Kekhasan lain terletak pada 15 elemen topeng yakni mata, alis, hidung, bibir, kumis, jenggot, jambang, rambut, hiasan, urna, jamang, cula, sumping, isen-isen, dan warna. Setiap elemen inilah yang akan membentuk tokoh khas Malangan seperti Panji Asmorobangun, Dewi Sekartaji, Raden Gunungsari, Bapang Jayasentika, dan Klana Sewandana.

Kini wayang topeng Malangan masih disuguhkan tidak hanya pada acara budaya tetapi juga acara pribadi seperti pernikahan dan acara-acara pemerintahan. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post