Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Wayang Orang Sriwedari Sudah Ada Sejak 1910

Foto: Kemenparekraf RI/ Pesona.travel

Wayang orang Sriwedari merupakan salah satu kelompok kesenian yang tertua karena telah ada sejak tahun 1910, saat era pemeritahan Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X.

YOGYAKARTA – KABARE.ID: Gedung yang terletak di dalam bekas komplek taman kebon rojo Sriwedari itu menjadi tempat pentas para pemain wayang orang. Pentas itu dimainkan setiap malam mulai pukul 20.00 WIB hingga 22.00 WIB. Meski pentas setiap malam, tetapi lakon maupun judul yang dimainkan selalu berbeda.

Meskipun sudah berusia 108 tahun, wayang orang Sriwedari masih mempertahankan pakem dalam setiap pentasnya. Selain tetap mempertahankan penggunaan bahasa Jawa, untuk iringan menari para pemain wayang juga masih menggunakan iringan gamelan yang ditabuh para pengrawit.

Dikutip dari keterangan resmi Kemenparekraf, Selasa (3/12/2019), Koordinator Wayang Orang Sriwedari, Agus Prasetyo menjelaskan perkembangan kesenian wayang orang di Solo tidak bisa lepas dari Pura Mangkunegaran.

Pasalnya, cikal bakal wayang orang di Solo muncul saat masa Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkunegara I berkuasa. Saat itu wayang orang dipentaskan oleh para abdi dalem istana.

Baca juga: Kerajinan Getah Nyatu dan Identitas Suku Dayak

“Wayang orang di Mangkunegaran eksis dari Mangkunegara I hingga Mangkunegara VI. Tapi pada masa Mangkunegara VI mengalami krisis ekonomi. Setelah itu pentas wayang orang di Mangkunegara dihentikan. Para abdi dalem yang menjadi pemain wayang orang juga ikut dihentikan,” kata dia.

Setelah pentas wayang orang di dalam tembok istana Pura Mangkunegaran berhenti, para pemain wayang tersebut langsung membentuk grup wayang untuk pentas di kampung-kampung. Kemudian salah satu pengusaha Tionghoa bernama Gan Kam merekrut para pemain wayang Mangkunegara untuk pentas di luar tembok istana.

“Gan Kam menggelar pertunjukan wayang orang dengan panggung proscenium ala seperti opera di Barat. Penonton yang ingin menonton juga ditarik biaya,” jelasnya.

Setelah kesenian wayang orang kian digemari masyarakat, Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Paku Buwana X meminta pentas wayang orang untuk dipentaskan di Sriwedari yang pada waktu itu merupakan taman kebon rojo.

Baca juga: Rumah Tradisional Aceh Selalu Menghadap Kiblat

Pertunjukan wayang orang di Sriwedari itu pertama kali dipentaskan pada tahun 1910. Tahun tersebut ditetapkan sebagai peringatan berdirinya wayang orang Sriwedari. “Waktu itu memang wayang orang diberikan pentas di kebon rojo Sriwedari. Sejak tahun 1910 hingga saat ini pentas wayang orang Sriwedari masih eksis,” ujar dia.

Bahkan, keberadaan kelompok wayang orang Sriwedari pada saat itu menginspirasi munculnya grup-grup wayang orang baru di berbagai daerah di Jawa. Bahkaan, saking pesatnya jumlah kelompok wayang orang saat itu mencapai 60 grup.

“Yang menjadi cikal bakal munculnya kelompok-kelompok wayang orang lain itu adalah wayang orang Sriwedari. Jumlah kelompok wayang orang di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur itu sampai 60 kelompok,” sebutnya.

Agus menuturkan masa keemasan pentas wayang orang Sriwedari pada rentang tahun 1950-1970-an. Sedangkan mulai tahun 1980-an hingga 2000-an antusiasme masyarakat untuk datang mengalami penurunan  dan mulai kalah dengan berkembangnya televisi.

Baca juga: Nyadran, Tradisi Umat Muslim di Jawa Menjelang Datangnya Bulan Ramadhan

“Saat saya masuk dan bergabung dengan wayang orang Sriwedari tahun 2000, jumlahnya penonton sangat drop. Bahkan, saya pernah saat pentas tidak ada penonton yang hadir tapi kami tetap main meskipun tidak ada yang menonton,” ujarnya.

Kondisi tersebut kini lambat laun mulai berubah. Jumlah penonton yang hadir saat ini juga terus bertambah. Hal ini tidak lepas dari campur tangan Pemerintah Kota Solo yang terus mempromosikan dan menggalakkan untuk menonton kesenian tradisional tersebut. Kini antusiasme masyarakat untuk menonton mulai tinggi.

“Kini jumlahnya lumayan meningkat dibandingkan dulu. Apalagi kalau malam Minggu itu jumlah penonton bisa sampai 500 penonton. Tak hanya dari Solo, penonton yang hadir juga berasal dari luar Solo seperti Jawa Timur, Jakarta dan lainnya,” ujarnya.

Pertunjukan wayang orang Sriwedari kini lebih nyaman, pasalnya tempat duduk bagi penonton dibagi menjadi tiga kelas, yakni VIP, kelas 1 dan balkon. Untuk harga tiket yang dipatok untuk pertunjukan wayang orang cukup murah mulai dari Rp5000 hingga Rp10.000 per tiket.

“Harga tiket kelas VIP itu Rp 10.000 per tiket, kelas 1 Rp7.500 dan kelas balkon Rp5.000 per tiket. Sedangkan kapasitas tempat duduk di dalam gedung wayang orang Sriwedari itu mencapai 700 tempat duduk,” tandas Agus. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post