Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Uniphore Siap Mendominasi Layanan Percakapan Berbasis Kecerdasan di Indonesia

Uniphore, otomatisasi layanan percakapan dari India siap untuk mendominasi pasar Asia Pasifik termasuk Indonesia pada tahun 2020.

JAKARTA – KABARE.ID: Layanan percakapan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan cepat mengubah interaksi layanan pelanggan di berbagai industri termasuk perbankan, layanan keuangan, ritel, e-commerce, layanan kesehatan, dan lainnya.

Uniphore, Conversational Service Automation (Otomatisasi Layanan Percakapan) dari India siap untuk mendominasi pertumbuhan global dengan fokus yang kuat pada Asia Pasifik termasuk Indonesia pada tahun 2020.

Ravi Saraogi, Co-founder and President of Uniphore APAC mengatakan, Uniphore dapat merubah model layanan pelanggan yang sudah ketinggalan zaman dengan kecerdasan buatan berbasis suara dan otomatisasi.

“Uniphore menghadirkan layanan otomatisasi percakapan, analitik, dan keamanan percakapan. Uniphore dapat memprediksi bahasa, emosi, dan niat penelpon secara real time dengan lebih dari 100 bahasa di dunia, termasuk beberapa dialek,” ujar Ravi Saraogi melalui video conference di Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Baca juga: Presiden Jokowi Ingin Wajah Indonesia Ditampilkan di Hannover Messe dan World Expo Dubai

Saat ini, Uniphore memiliki tiga layanan utama, yakni conversation automation & analytics (auMina), conversation assistant (akeira), dan conversation security (amVoice).

auMina merupakan agent call center yang memiliki kemampuan untuk mencari informasi pelanggan, mendengarkan keinginan pelanggan dan berinteraksi secara real time. Teknologi ini mempu mendekteksi emosi pelanggan, menganalisis kepuasan pelanggan, dan mengarahkan pelanggan untuk menggunakan produk atau jasa yang dibutuhkan.

“Teknologi auMina tentu sangat berguna bagi perusahaan yang membutuhkan data pelanggan namun tidak ingin menghabiskan waktu dan biaya untuk mendapatkannya,” jelas Ravi Saraogi.  

Teknologi lainnya yaitu akeira, sebuah agent digital yang bekerja bersama call center untuk meningkatkan produktivitas dan pengalaman pelanggan. Teknologi ini dapat membantu pelanggan mencari informasi secara cepat dan menyelesaikan masalah secara real time.

“Sebagai contoh, saat Anda menghubungi call center untuk mencari informasi biasanya akan diarahkan untuk menekan tombol 1, 2, 3 dan seterusnya. Misalnya tombol 1 untuk informasi saldo, tombol 2 untuk layanan pembayaran, tombol 3 untuk layanan transfer, dan lain sebagainya. Dengan teknologi akeira, pelanggan cukup mengatakan apa yang diperlukan dan mesin akan memberikan solusi, sehingga memangkas waktu yang diperlukan,” jelas Ravi Saraogi.

Baca juga: Semarang Punya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Pertama

Terakhir, amVoice adalah sistem otentikasi pelanggan atau verifikasi identitas yang aman dengan menggunakan biometrik suara manusia. Teknologi ini mampu menangkap lebih dari 30 parameter suara seseorang, termasuk frekuensi yang tidak terdengar oleh telinga manusia.

“Kami telah menguji sistem amVoice dengan banyak seniman profesional yang mampu menirukan suara orang, hasilnya sistem amVoice tidak dapat dikelabuhi. Kenapa sistem tidak bisa terkecoh? karena setiap suara manusia tercipta berbeda, mirip sidik jari, bahkan lebih rumit dari itu,” ujar Ravi Saraogi.

Karena tidak dapat dipalsukan, lantas bagaimana jika pemilik otentikasi sedang dalam keadaan sakit, sehingga suaranya berubah. “Jika pemilik otentikasi dalam keadaan sakit ringan seperti flu dan batuk, sistem masih bisa membaca karena kemiripan verifikasinya tinggi. Namun jika pemilik otentikasi dalam keadaan sakit berat, seperti operasi pita suara yang menyebabkan suaranya berubah, maka sistem tidak dapat memberikan verifikasi,” jelas Ravi.

Baca juga: Presiden Jokowi Minta Pengusaha Muda Indonesia Dilibatkan dalam Proyek BUMN

Industri customer service, menurut Ravi Saraogi berada di bawah tekanan yang luar biasa untuk memberikan penyelesaian masalah yang lebih cepat kepada pelanggan. Namun mereka justru menghabiskan waktu untuk mengakses data pelanggan dan tidak memiliki wawasan yang mumpuni.

Alhasil, layanan pelanggan menjadi buruk, penyelesaian masalah pada panggilan pertama rendah, pelanggan tidak puas, biaya per panggilan dan risiko gesekan terjadi lebih tinggi. Sebagai gambaran, sebuah perusahaan di Singapura pada tahun 2015 merugi hingga US$ 26 miliar karena buruknya pengalaman pelanggan. Tercatat, lebih dari 52 juta jam terekam setiap harinya oleh contact center di seluruh dunia.

"Di Indonesia, Uniphore saat ini sudah menangani beberapa perusahaan perbankan dan asuransi. Kedepannya kami akan merambah industri telekomunikasi, karena ini sangat besar pasarnya. Di Indonesia kami saat ini sedang melakukan penjajakan dengan perusahaan telko," kata Ravi. (bas)  

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post