Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Uniknya Danau Asin Satonda di Nusa Tenggara Barat

Suasana matahari terbit di atas Danau Satonda. Foto: Istimewa

Danau Satonda memiliki kadar asin melebihi air laut di sekitarnya dan menyebabkan hampir semua jenis moluska musnah. Konon air asin di danau ini berasal dari air mata penyesalan Raja Tambora.

JAKARTA - KABARE.ID: Ada  tempat indah tersembunyi di Provinsi Nusa Tenggara Barat, namanya Pulau Satonda. Letaknya di lepas pantai utara Pulau Sumbawa dan masuk dalam wilayah Kabupaten Dompu, sekitar tiga kilometer dari Selat Sanggar di Laut Flores. Secara administratif berada di wilayah Desa Nangamiro di Kecamatan Pekat.

Pulau Satonda terbentuk dari letusan Gunung Satonda, belasan ribu tahun silam. Gunung berapi Satonda disebutkan sebagai gunung api purba. Konon berusia lebih tua daripada Gunung Tambora, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pulau ini.

Pulau ini menarik perhatian para ilmuwan dan peneliti baik dari dalam maupun luar negeri, karena terkait dengan letusan fenomenal Gunung Tambora pada 15 April 1815 atau sebelum meletusnya Gunung Krakatau pada 1883. Letusan Gunung Tambora mengguncang beberapa bagian dunia, memuntahkan debu, dan mencemari atmosfer bumi selama bertahun-tahun. Bahkan merobek lapisan ozon yang tipis.

Pulau Satonda memiliki danau tepat di tengah-tengah pulau. Luasnya 335 ha dengan kedalaman mencapai 86 meter. Berdasarkan hikayat yang berkembang, disebutkan bahwa danau di tengah pulau itu adalah air mata penyesalan dari Raja Tambora.

Raja murka karena pinangannya kepada seorang perempuan ditolak mentah-mentah. Raja tak tahu bahwa perempuan yang ingin diperistrinya itu adalah ibu kandungnya sendiri, lantaran ketika kecil si raja pernah hilang. Murkanya raja kepada perempuan yang belakangan adalah ibunya sampai-sampai membuat Sang Kuasa berang. Ia membuat Gunung Tambora meletus dan menimbulkan tsunami raksasa serta memisahkan daratan menjadi pulau-pulau kecil, salah satunya Satonda. 

Kadar Asin Tinggi

Foto: Ilmu Geografi dot Com

Stephan Kempe dari Jerman dan Josef Kazmierczak asal Polandia yang merupakan profesor biologi Eropa sengaja menyinggahi Satonda untuk meneliti danau tersebut pada November 1984. Ketika itu tengah digelar Dutch Indonesian Snellius II Expedition. Penelitian keduanya berlanjut pada 1989 dan 1996.

Keduanya memandang, Danau Satonda merupakan fenomena langka karena airnya yang asin dengan tingkat kebasaan (alkalinitas) sangat tinggi dibandingkan dengan air laut umumnya. Mereka lalu mencoba merekonstruksi sejarah pembentukan danau dan ekosistemnya. Kempe dan Kazmierczak berpendapat, asin Satonda muncul bersamaan dengan terbentuknya kawah akibat letusan gunung purba Satonda lebih dari 10.000 tahun lalu.

Aslinya, danau itu berisi air tawar yang dibuktikan dari deposit gambut di bawah endapan menyerupai mineral laut di pinggir danau. Danau itu lalu dibanjiri dengan air laut yang merembes melalui celah dinding kawah yang runtuh. Pada waktu itu, permukaan air laut 1 meter-1,5 meter lebih tinggi dibandingkan saat ini. Namun, ketinggian laut secara perlahan menyusut. Penapisan air laut melalui dinding kawah pun melambat. Sekarang, ketinggian air danau relatif stabil, yang menandai tidak ada lagi hubungan dengan air laut.

Perubahan lingkungan air Danau Satonda memengaruhi juga spesies yang hidup di dalamnya. Kejenuhan dan alkalinitas air naik ke tingkat yang menyebabkan pemusnahan hampir semua jenis moluska, kecuali spesies gastropoda (keong/siput) tertentu, seperti Cerithium corallium. Jenis ini diduga menjadi subspesies endemik Satonda. Selain itu juga ditemui beberapa jenis ganggang.

Kazmierczak juga mengambil sampel mirip karang yang disebut stromatolit atau sembulan mikrobial, yaitu struktur terumbu yang tersusun oleh mikroba bakteri dan ganggang. Material stromalit berlimpah pada kurun prekambrium, atau sekitar 3,4 miliar tahun lalu. Struktur stromatolit dalam perkembangannya tidak pernah ditemukan lagi. Kehadiran stromatolit di Satonda menjadi sangat menarik karena menunjukkan danau ini memiliki lingkungan yang menyerupai lautan purba, prakambrium. Stromatolit di dunia modern hanya ditemukan di air dengan kadar salinitas sangat tinggi. Satonda bagi para ilmuwan menjadi model lingkungan kontemporer yang mencerminkan kondisi lautan pada zaman purba.

Letusan Tambora telah menghancurkan hutan di Satonda. Tiadanya pepohonan menyebabkan berkurangnya penguapan, air hujan pun banyak yang terkumpul di kawah. Itu menyebabkan lapisan air bagian atas menjadi lebih tawar. Pada saat yang sama, sebagian air yang lebih tua dan lebih asin tertekan ke bawah atau keluar danau melalui pori-pori bebatuan vulkanik yang terbuka.

Dengan tingkat keasinan yang tinggi ini menyebabkan hanya sedikit keragaman vegetasi yang tumbuh di sekitarnya. Salah satunya adalah Kalibuda, pohon endemik Satonda. Masyarakat di sekitar Satonda menyebut Kalibuda sebagai Pohon Harapan karena dipercaya mampu mengabulkan semua permintaan yang diajukan mereka yang memohon di sekitar pohon. Caranya dengan menggantungkan batu karang atau benda-benda lain seperti kain, sepatu, kaleng, dan bungkus rokok dengan cara diikatkan di batang Pohon Kalibuda.

Keindahan Terumbu Karang

Sumber: Liputan 6 dot Com

Tetapi tidak demikian dengan pemandangan bawah laut di perairan sekitar Pulau Satonda. Ada banyak titik penyelaman untuk menyaksikan terumbu karang cantik dan alami serta koleksi ribuan ikan hias aneka jenis. Pemerintah pun telah menetapkan pulau ini sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) pada 1999.

Di sini, di antara padatnya terumbu karang, dapat ditemukan banyak kima dengan jenis Acroporidae, Xenia sp, Favidae, Sarcophyton sp, Labophyton sp, Hetractris crispa, Nephtea sp, Capnella sp, Lemnalia sp, dan Astrospicularis sp. Selain itu terdapat bintang laut berwarna biru hingga yang berduri. Kima termasuk dalam kelas Bivalvia, kelompok hewan bertubuh lunak yang dilindungi sepasang cangkang bertangkup.

Bahkan hanya kurang dua meter dari bibir pantai berpasir putih kita bisa menemukan spot karang yang padat dan rumah bagi ikan-ikan cantik seperti kerapu, moorish idol, dan lionfish tak jarang ditemukan, bahkan nemo si ikan badut (clown fish) dapat dilihat bersembunyi di antara anemon.

Adapun jenis flora yang menjadi kekayaan laut sekitar pulau vulkanis ini adalah ketapang (Terminalia catappa), pandan laut (Pandanus tectorius), beringin (Ficus sp), waru laut (Hibiscus tiliaceus), nyamplung (Calophyllum inophyllum), Mentigi (Pempis sp) dan asam (Tamarindus indica).

 

Sumber: Indonesia.go.id

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post