Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Tour de Bintan 2019 Rangsang Peserta Menikmati Indahnya Alam Bintan

Tour de Bintan 2019 rangsang peserta menikmati indahnya alam Bintan. (Foto-foto: Kemenpar RI)

Gelaran Tour de Bintan 2019 mampu merangsang ratusan peserta untuk menikmati indahnya alam Bintan.

BINTAN-KABARE.ID: Rute yang ditempuh yakni menjelajah kawasan Bintan Lagoon Resort, dengan titik start dan finish di Bintan Lagoi. Para peserta berlomba di dua kelas, yakni Grand Fondo (GF) Country dan GF Discovery. Jarak tempuh masing-masing 108 Km dan 55 Km, Minggu (31/3).

Pada kelas GF Country, peserta diajak menjelajah alam Bintan dengan segala kekhasannya. Hutan-hutan kecil dengan hamparan belukar, sedikit perkebunan karet di beberapa titik, serta kelok sungai air payau yang tampak tenang berpagar mangrove.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani menyatakan, ada beberapa hal menarik yang bisa dinikmati peserta, salah satunya gurun pasir dan telaga biru di Desa Busung, Kecamatan Sri Koala Lobab. Destinasi nomadic ini sebenarnya adalah kawasan pertambangan bauksit yang disulap dan dimanfaatkan warga setempat, sehingga menarik untuk dikunjungi.

 

"Kawasan pertambangan ini demikian luas, sehingga tampak seperti gurun pasir di Timur Tengah. Apalagi, pengelola juga menghadirkan karakter onta dan kuda, sehingga menjadi spot foto favorit bagi pengunjung," ujarnya dalam keterangan resmi Kemenpar, Selasa (2/4/2019).

Untuk mendapatkan keseruan foto dengan karakter onta, pengunjung lokal dikenakan tarif Rp5 ribu per orang. Sementara bagi turis asing, biasanya diminta Rp10 ribu per orang. Pengunjung umumnya tidak keberatan, terlebih bagi para millenial yang terbiasa update foto di media sosial.

 

Asdep Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati menambahkan, gurun pasir berada di satu kawasan dengan telaga biru. Keduanya sama-sama terbentuk tanpa sengaja dari aktivitas pertambangan. Penduduk lokal menyebut, awalnya yang tertampung di bekas galian hanyalah air hujan yang mengendap, berlumut, hingga akhirnya menciptakan gradasi warna hijau.

"Untuk telaga biru, pengelola juga sudah menyiapkan jembatan kayu yang menjorok ke tengah sebagai spot selfie, termasuk sepeda air dengan karakter bebek-bebekan. Fasilitas lain, tentunya ada warung-warung kecil sebagai tempat rehat atau sekadar membeli minum," ucapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, nomadic tourism adalah gaya berwisata baru di mana wisatawan dapat menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu destinasi wisata dengan amenitas yang portable dan dapat berpindah-pindah. Selain itu, gaya berwisata ini pun sangat cocok bagi suatu destinasi wisata yang sangat potensial namun daya dukung amenitas masih rendah.

 

"Yang dimaksud nomadic tourism adalah wisata temporer baik akses maupun amenitasnya yang akan diterapkan untuk menjangkau destinasi alam potensial di kepulauan,” ujar Menpar Arief.

Lebih lanjut, Menteri Asal Banyuwangi ini menyebutkan bahwa nomadic tourism terhitung mudah dan murah. “Hanya perlu ada atraksi pariwisata yang menarik, maka pengadaan akses dan amenitas bisa dilakukan dengan menggunakan bahan baku yang bisa dipindah," tandasnya. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post