Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Tingginya Tingkat Kerentanan Memicu Inovasi Keamanan Siber di Antara Perusahaan Global

Presiden Direktur Dimension Data Indonesia, Hendra Lesmana saat menjelaskan tentang laporan intelijen ancaman Siber Global 2019 yang dikeluarkan oleh NTT Security. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Data baru mengenai 'Cybermaturity' mengungkapkan sebuah temuan bahwa sektor-sektor yang paling sering menjadi target harus memiliki tingkat kewaspadaan yang paling tinggi untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.

JAKARTA-KABARE.ID: Dimension Data, integrator teknologi global dan penyedia layanan terkelola untuk IT hibrida, mengungkapkan Laporan Intelijen Ancaman Siber Global 2019 yang dikeluarkan oleh NTT Security. Dalam laporan itu, secara global, rata-rata tingkat kematangan keamanan siber mendapat nilai 1,45 dari 5 – peringkat yang ditentukan dengan pendekatan keamanan siber secara menyeluruh di organisasi melalui proses, metrik, dan perspektif strategis. Hal ini terjadi di saat kerentanan keamanan juga melonjak naik 12,5% dari 2017.

Sektor keuangan (1,71) dan teknologi (1,66) memiliki peringkat kematangan tertinggi dari sektor lainnya. Latar belakangnya didorong oleh posisi mereka yang tidak menyenangkan sebagai industri yang paling sering dijadikan target sasaran serangan siber. Masing-masing mendapatkan 17% dari semua serangan yang dicatat dalam 2018.

Dari triliunan log dan milyaran serangan, penelitian ini juga mengungkapkan berbagai jenis serangan yang paling umum yaitu serangan web yang memiliki peningkatan frekuensi sebanyak dua kali lipat sejak 2017 dan terhitung 32% dari semua serangan yang terdeteksi tahun lalu. Kemudian dilanjutkan dengan Pengintaian (16%) dan diikuti berikutnya serangan khusus layanan (13%) dan peretasan password (12%).

Neville Burdan, General Manager, Cybersecurity Dimension Data, mengatakan ada beberapa pekerjaan yang memang sudah harus dilakukan di semua sektor untuk membangun tingkat keamanan yang lebih kuat termasuk meyakinkan C-level organisasi mengenai pentingnya investasi strategis demi meningkatkan pertahanan keamanan siber mereka.

“Saat ini telah ada beberapa perkembangan yang menarik mengenai ancaman terprediktif dalam lingkup intelijen, dengan tingkat kolaborasi baru dan keterlibatan di seluruh rantai keamanan siber,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Kabare.id, Selasa (18/6).

Terlebih, kata Neville, adanya dukungan dari industri yang paling sering dijadikan target, karena mereka yang paling mungkin mencari bantuan untuk mengembangkan strategi mereka dan membangun program keamanan mereka. “Hal ini merupakan pertanda baik bagi perusahaan yang ingin mencapai tingkat keamanan yang tinggi dalam dunia maya,” ujarnya.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa manfaat lain dari penelitian ini, yaitu: Pertama, secara global, 35% serangan berasal dari alamat IP di AS dan Cina, diikuti oleh EMEA dan APAC.

Kedua, cryptojacking mewakili sejumlah besar aktivitas serangan yang tidak inginkan, Seringkali terdeteksi jumlah serangannya lebih banyak daripada gabungan semua malware lainnya, yang paling parah menyerang sektor teknologi dan sektor pendidikan.

Dan ketiga, pencurian kredensial meningkat terutama targetnya adalah kredensial yang tersimpan di cloud, sehingga perusahaan teknologi (36%), telekomunikasi (18%), dan layanan bisnis serta profesional (14%) terkena dampaknya.

Klik di sini untuk mengunduh Panduan Eksekutif Dimension Data tentang Laporan Intelijen Ancaman Siber Global yang dikeluarkan NTT Security. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post