Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Tim Olimpiade Biologi Indonesia Raih Empat Perak di IBO 2018

Tim olimpiade biologi Indonesia meraih empat perak di IBO 2018. (Kemendikbud)

Tim Olimpiade Biologi Indonesia meraih empat medali perak dalam ajang kompetisi International Biology Olympiad (IBO) ke-29 yang diselenggarakan di Iran pada 15-19 Juli 2018.

JAKARTA-KABARE.ID: Empat siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) mewakili Indonesia bersaing dengan 265 siswa dari 68 negara peserta IBO tahun 2018.

"Empat medali perak ini prestasi yang luar biasa. Anak-anak kita sudah berjuang, memberikan yang terbaik," ujar Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto, dalam keterangan di laman Kemendikbud, Selasa (24/7/2018).

Empat remaja yang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional itu adalah Aditya David Wirawan dari SMA Kristen 1 Petra Surabaya, Samuel Kevin Pasaribu dari SMA Unggul Del Sumatera Utara, Silingga Metta Jauhari dari SMA Negeri 8 DKI Jakarta, dan Syailendra Karuna Sugito dari SMA Semesta BBS Semarang.

Siswa peserta IBO tahun 2018 ini merupakan hasil seleksi berjenjang yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi hingga tingkat nasional pada 2017 di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pekanbaru, Riau.

Di sana, mereka turut didampingi oleh staf pengajar dari ITB, Universitas Surabaya, Tim Olimpiade Biologi Indonesia, dan Direktorat Pembinaan SMA, Kemendikbud.

Pada hari pertama (17/7), siswa Indonesia mengerjakan empat topik praktikum selama masing-masing 90 menit, yaitu:  biologi tumbuhan, biokimia dan biologi molekuler, biologi hewan, serta ekologi dan evolusi mikroba.

Selanjutnya, di hari kedua (19/7), para siswa mengerjakan dua set soal teori menggunakan komputer dengan total waktu pengerjaan selama enam jam. Seluruh tes dilakukan di kampus Shahid Beheshti University, Tehran, Iran.

Aditya David Wirawan (17), siswa kelas XI SMA Kristen Petra 1 Surabaya ini mengaku menyukai biologi sejak kecil. Menurutnya Biologi bukan hanya tentang menghafal materi, tetapi lebih kepada pemahaman.

Saat ditanya tantangan tersulit dalam IBO, siswa yang gemar membaca dan bermain rubik ini mengaku kesulitan dalam menyelesaikan soal praktikum pembedahan hewan.

Sementara rekannya, Syailendra Karuna Sugito (17), mengaku saingan terberat tim Indonesia adalah para siswa dari negara-negara Asia.

"Saingan terberat kebanyakan dari negara-negara Asia, seperti China, Taiwan, Thailand, Vietnam, India. Tahun ini kita gak dapat emas, tetapi tahun ini kita gak ada yang dapat di bawah perak," kata Syailendra.

Ahmad Faisal, salah satu pembimbing siswa, mengaku bahwa para pembimbing tidak mengalami kesulitan dalam menyiapkan siswa menghadapi olimpiade ini. Namun, kendala utama datang dari cuaca di Iran yang cukup ekstrim sehingga mempengaruhi kondisi kesehatan peserta.

"Siswa kita sempat ngedrop. Karena di sana cuacanya cukup panas dan kering. Jadi itu memengaruhi kondisi psikologisnya saat menghadapi ujian," ujar Ahmad Faizal.

Lebih lanjut, Faisal sepakat dengan kebijakan pemerintah yang mulai mendorong penggunaan higher order thinking skill pada pembelajaran dan penilaian hasil belajar di sekolah.

"Biologi, kan selama ini identik dengan hafalan. Padahal di olimpiade tidak ada hafalan. Semuanya analisis," katanya.

Menyinggung pengembangan sains di pendidikan menengah, menurut Faisal selain fasilitas laboratorium yang baik, kunci keberhasilan ada di guru yang mampu menerapkan pembelajaran inovatif.

"Yang awal adalah bagaimana menumbuhkan kecintaan siswa terhadap biologi. Dari situ kemudian bisa dipupuk. Siswa menjadi aktif, kemudian guru bisa mengajar dan membimbing siswa dengan baik," jelas Faisal. (bas)

 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post