Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
MATA AIR

Teringat Bu Fat

Ilustrasi: (Foto Dhodi Syailendra/ Kabare.id)

Oleh: Reza V. Maspaitella

Setiap menjelang  perayaan 17 Agustus, banyak pedagang musiman yang menggunakan gerobak keliling menjual bendera merah putih berbagai ukuran, bendera renteng merah putih, hingga umbul-umbul merah putih. Lengkap dengan tiang bendera maupun tiang umbul-umbul dari bambu yang dicat merah putih.

Ada pedagang keliling  yang kreatif, mereka melengkapi gerobaknya dengan tape dan speaker (salon) yang mengumandangkan lagu-lagu perjuangan. Sehingga menggugah perasaan dan menarik minat pembeli. Di samping itu, lagu-lagu perjuangan itu untuk menghibur diri sendiri yang sedang melawan panas sepanjang menyusuri lorong-lorong Ibukota.

Tidak berhenti sampai di situ. Di lampu-lampu merah Ibukota, juga banyak orang menjajakan aksesoris berbentuk sepasang bendera merah putih berukuran mungil untuk dipajang di dalam kaca mobil. Sementara untuk sepeda motor, juga disediakan bendera merah putih seukuran buku tulis.

Dari  berbagai pemandangan itu, membawa saya teringat pada Bu Fatmawati, yang akrab dipanggil Bu Fat. Beliau adalah salah satu istri Presiden pertama Soekarno, berasal dari Bengkulu. Beliaulah yang menjahit bendera pusaka Merah Putih, yang dikibarkan untuk pertama kalinya, hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945, sekitar pukul 10.00 pagi, di Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Setelah Bung Karno,  didampingi Bung Hatta --  dua serangkai proklamator, membacakan Teks Proklamasi, atas nama bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan Indonesia ke seluruh penjuru dunia.

Mengingat usia bendera merah putih jahitan Bu Fat yang dikibarkan setiap tanggal 17 Agustus di halaman  Istana Merdeka, beberapa tahun belakangan hanya ditunjukkan secara simbolis, sedangkan yang dikibarkan adalah replikanya dari kain sutra. Kini bendera pusaka yang menjadi salah satu saksi sejarah kemerdekaan RI,  disimpan di Monumen Nasional. Sementara mesin jahitnya, masih tersimpan di “museum” atau Rumah Ibu Fatmawati Soekarno berbentuk rumah panggung dari kayu, yang terletak di Jl. Fatmawati 10, Bengkulu. Mesin jahit merek Singer itu warnanya tidak lazim, merah menyala, dipajang di sudut ruangan dengan latar belakang  foto-foto hitam putih yang bernilai sejarah.

Dari dokumentasi foto pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air), hasil karya fotografer Frans Mendur, nampak Bu Fat mengenakan kerudung, sementara Bung Karno mengenakan peci hitam, baju dan celana serba putih, senada dengan Bung Hatta (tanpa peci).

Ibunda Guntur, Mega, Rahma, Sukma, dan Guruh, itu nampak cantik dan anggun dengan penampilannya yang khas: mengenakan jarik, kebaya dan kerudung. Serasi dengan penampilan Bung Karno yang karismatik dengan pakaian kebesarannya jas warna putih bersaku empat, dipadu celana dengan warna putih pula, peci hitam, kaca mata hitam, sepatu hitam, membawa tongkat Komando di tangan.

Di atas kanvas maestro Basoeki Abdullah, Bu Fat tidak hanya tampil seperti benar-benar hidup dengan kelembutan, keramahan, kuat dan memesona, tapi juga kerudung yang dikenakannya tidak hanya penanda religius, sekaligus penanda kultural kebanyakan perempuan Indonesia.

Entah mengapa setiap kali kita menatap wajah Bu Fat, kita merasakan kedamaian dan kesejukan seorang “ibu kita”. Hari ini, di tanah air kita, banyak sekali “Bu Fat” yang telah menjadi bagian dari pelahir dan pendidik anak-anak bangsa. Mereka senantiasa “mengerudungi” hatinya dengan ajaran-ajaran kebenaran, kejujuran, atau secara umum budi pekerti luhur. 

 

Salam Mata Air

 

 

*Tulisan ini pernah dimuat Majalah Kabare edisi Agustus 2017.

Kabare.id

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post