Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Jumat (3/4), 1.986 orang di Indonesia Positif Covid-19, 134 orang sembuh, dan 181 meninggal.
BISNIS

Terbarkan Cinta untuk Anak Indonesia

Titiek Puspa bersama Duta Cinta

Lebih dari 20 tahun, Titiek Puspa tidak lagi bermusik dan menciptakan lagu untuk anak-anak. Dirinya merasa terpanggil justru setelah dirasakan karunia Tuhan begitu besar untuknya.

Jakarta - Titiek Puspa kembali ke pentas hiburan. Tetapi bukan dirinya yang tampil. Ia lebih suka mendorong anak-anak muda. Wanita yang ketika kecil sakit-sakitan ini mengaku sudah segan untuk tampil solo di panggung. Dia malah membentuk kelompok Duta Cinta, semacam girlband dan boyband  sejak akhir 2014. Proyek itu seluruhnya rampung akhir 2015, setelah melalui proses latihan dan rekaman.

“Saya berencana memperkenalkan album Duta Cinta ini pada Maret 2016. Doakan saja agar Indonesia bisa banyak cinta. Doakan juga agar anak-anak Indonesia bisa mengenal akar budayanya, dan mulai mencintai bangsanya,” harap wanita kelahiran Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, 1 November 1937.

Kondisi anak-anak muda yang lebih memilih lagu-lagu cinta orang dewasa ketimbang untuk orangtua, keindahan alam dan bangsa sendiri, yang mendorongnya untuk kembali ke panggung hiburan. Padahal, dunia showbiz sudah lama ditinggalkan, sejak menderita kangker serviks tahun 2009. Berbagai macam pengobatan dilakukan, dari resep dokter sampai herbal. Ke rumah sakit dan perawatan di Singapura juga sudah. Tetapi hasilnya nihil. Kesembuhannya ternyata hanya dengan meditasi yang diajarkan seorang ahli.

Eyang Titiek, begitu  ia suka disapa, meniti karier tahun 1954. Dimulai setelah ikut bintang radio nasional. Sejak itu, lebih 61 tahun berada di panggung hiburan. Mulai menulis lagu sekitar 1963-1964. “Saya tidak pernah menghitung karya yang sudah dibuat. Saya bukan orang yang pintar mendokumentasikan karya. Bagi saya, album bukan tujuan,” ucap wanita awet muda yang telah memiliki 15 cucu dan 5 cicit.

Sore itu, Titiek Puspa banyak bercerita tentang kondisi anak-anak Indonesia. Dia khawatir anak-anak Indonesia hanya mengenal lagu-lagu cinta orang dewasa, yang patah hati dan menyendiri.

Seharusnya, anak-anak dibawa ke hal-hal positif, cinta rasa syukur terhadap Tuhan, orangtua, bangsa dan negara.

Dalam perbincangan yang penuh gagasan itu, Titiek mempersilakan Kabare mencicipi rujak aceh. Rautnya nampak segar dan bercerita dengan ceria di kediamannya, apartemen di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan.  

 

Apa kabar Eyang?

Baik. Tuhan memberikan saya anugerah luar biasa dengan memberikan kehidupan hingga saat ini. Saya menyadari, tugas saya di dunia masih banyak. Kesembuhan dari kanker seakan menyadarkan saya agar menginspirasi generasi penerus Indonesia untuk lebih berbudaya. Tidakkah Anda menyadari bahwa anak Indonesia kehilangan identitasnya; mereka tidak punya karakter dan kebanggaan terhadap bangsa ini. Lihat saja bagaimana K-Pop dan lagu-lagu barat lebih digemari.

Sementara itu, anak kecil kehilangan panutan. Sepertinya lagu-lagu di Indonesia hanya soal cerita picisan. Percintaan, rindu-rinduan, patah hati, dan perasaan galau, menjadi tema besar lagu-lagu yang ada di Indonesia. Itu tidak salah kalau dikonsumsi orang dewasa. Orang dewasa pun sepertinya bakal terkikis jiwanya apabila disuguhkan tema-tema picisan. Jangan heran kalau orang Indonesia jadi pesimistis dan melihat dunia itu serba gelap.

 

Apa yang Eyang Titiek khawatirkan?

Saya terlalu khawatir anak-anak Indonesia tidak mengenal jati dirinya, tak tahu akar budaya, bahkan makanan asli Indonesia saja tidak tahu. Mereka lebih mengenal budaya luar negeri dibanding bangsa sendiri. Hal-hal yang mereka pelajari dari internet, televisi, berasal dari luar negeri. Akibatnya mereka mengalami disorientasi, krisis kepercayaan diri, tidak tahu asal usulnya.

 

Apa yang membuat hati Eyang miris?

Saya sangat prihatin terhadap nasib anak-anak. Para pejabat pemerintah yang seharusnya memikirkan keberlangsungan nasib generasi penerus, malah asyik bertengkar bahkan korupsi. Mereka berebutan mau menang dan menguasai sendiri. Jadi anak-anak melihat hal buruk dari kehidupan yang dicontohkan para penerus bangsa.

Makanya saya membentuk Duta Cinta. Duta itu berarti utusan. Cinta, karena saya ingin menyebarkan cinta ke anak-anak Indonesia. Cinta di Indonesia sudah mulai dilecehkan, ditertawakan, dan jadi tameng. Manusia tanpa cinta adalah setan. Cinta adalah karunia terbesar manusia.

 

Kapan Duta Cinta dibuat?

Duta Cinta dibentuk tahun 2014. Saya sebarkan niat membuat proyek cinta untuk Indonesia melalui internet. Ada 80 anak mengajukan diri. Beberapa dipanggil untuk ikut audisi. Akhirnya terpilih delapan anak berbakat.

 

Pemilihan berdasarkan apa?

Awalnya saya tanya, mereka bisa apa saja. Lalu saya minta mereka mendemonstrasikan kemampuannya. Setelah disaring, terpilihlah mereka. Setelah mereka terpilih, saya bikin kursus menyanyi, menari, dan akting. Saya memang menyewa para ahli untuk menjadi guru, tetapi saya tetap mengawasi. Anak-anak itu tetap saya bimbing, tidak dilepas begitu saja. Karena mereka akan menjadi Duta Cinta. Saya juga memberikan mereka pelajaran budi pekerti.

 

Mengapa budi pekerti harus menjadi salah satu pelajaran?

Karena saya merasa hal tersebut sudah hilang dalam diri anak-anak Indonesia. Anak-anak masa kini tidak tahu soal budi pekerti. Saya tidak menyalahkan mereka, tetapi memang kita sebagai orangtua tidak memberikan penekanan terhadap budi pekerti. Bahkan pelajaran budi pekerti sudah hilang, begitu juga pelajaran tentang berkebangsaan atau nilai-nilai Pancasila.

Saya katakan, apabila kalian ingin dihormati maka hormati semua orang. Dengan menghormati orang berarti mereka membagi cinta. Mereka saling berbagi hal positif. Apabila kalian ingin dicintai, maka tebarkan virus cinta pada siapa saja.  

Pelajaran cinta dan menghargai orang-orang yang berjasa dalam kehidupan, tak harus orangtua, bisa juga guru, pahlawan kemerdekaan, hingga orang-orang sekitar mereka. Pokoknya membuat mereka punya tanggung jawab, punya rasa, punya kepedulian terhadap bangsa dan negara.

 

Dalam performanya, Duta Cinta seperti apa?

Mereka akan menyanyi, berakting dan menari. Layaknya boyband dan girlband. Tetapi mereka memiliki misi menyebarkan cinta. Saya melakukan itu karena saya masih punya utang pada Tuhan, anak-anak Indonesia dan bangsa. Saya melakukan ini supaya anak Indonesia kembali ke akarnya.

Sadar tidak, kebanyakan anak Indonesia menyanyikan lagu barat. Jarang melihat anak-anak menyanyikan lagu Indonesia, apalagi lagu kebangsaan.

 

Lagu apa saja yang akan dibawakan?

Lagu baru yang saya buat: Aku Bangga Jadi Anak Indonesia, Cintailah Cinta, Hono Hini, Cibung Cibung. Arransemen musik dalam album ini juga tidak sembarang. Saya ajak Addie MS untuk Cintailah Cinta, Tohpati untuk Kau dan Aku Indonesia, Andi Rianto untuk Lagu untuk Bunda dan Hendry Lamiri untuk Cibung Cibung, Untung untuk Aku Bangga Jadi Anak Indonesia yang nadanya rock dangdut.

 

Saya sengaja menampilkan dangdut, karena 80% orang Indonesia menikmati dangdut. Ini agar pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan mudah oleh mereka yang ada di daerah. Saya ingin anak-anak daerah bisa menikmatinya. Begitu juga anak-anak yang di kota, bisa mencintai budaya Indonesia.

 

Apakah dapat kontrak dari televisi untuk proyek ini?

Kebanyakan televisi masih mengejar rating. Saya tidak ingin memaksa memasukan proyek Duta Cinta. Saya hanya akan mengusahakan lagu ini menjadi lagu anak-anak Indonesia. Biar cinta bertebaran di benak anak-anak Indonesia.

Bukannya saya melihat Indonesia kehilangan cinta. Tetapi ajaran cinta yang dipopulerkan para musisi kebanyakan cinta menye-menye, pesimistis, egois. Cinta yang berbicara hanya untuk satu orang, bukan untuk lingkungan apalagi bangsanya. Mereka tidak berbicara cinta yang universal. Padahal cinta seperti itu yang perlu dipahami anak Indonesia, bukan kegelapan cinta akibat patah hati atau kerinduan yang sangat pada seseorang.

 

Apakah semua lagu dalam album ini dibuat Eyang Titiek semua?

Tujuh dari delapan adalah lagu saya. Hanya satu yang dibuat teman, berjudul Lagu untuk Bunda. Lagu tersebut sebenarnya untuk saya. Tetapi ketika mendengarnya, saya tergetar dan ingin anak Indonesia menyanyikannya untuk orangtua mereka.

 

Kapan Duta Cinta diluncurkan?

Saya mulai membentuk mereka sekitar akhir 2014. Kemudian proses rekaman dan latihan, semuanya selesai akhir 2015. Sekarang saya sedang menunggu saat yang tepat. Insya Allah, mulai beredar pada Maret 2016. Doakan saja agar Indonesia bisa banyak cinta. Doakan juga agar anak Indonesia bisa mengenal akar budayanya, dan mulai mencintai bangsanya.

 

Sebagai legenda hidup musisi Indonesia, bagaimana pandangan Eyang Titiek dengan industri musik Indonesia?

Saya bangga dengan industri musik Indonesia. Dengan macam-macam genre menunjukkan kekayaan kreativitas orang Indonesia. Pilihan ada di tangan pendengar.

Sebagai musisi lawas, saya punya kewajiban untuk menyuguhkan lagu kepada anak Indonesia. Memang, saya melihat yang kurang itu lagu-lagu yang didedikasikan untuk anak Indonesia. Harus ada lagu yang membangun jiwa, memberikan cinta, mengingatkan betapa karunia Tuhan untuk Indonesia sangat luar biasa.

Berbuatlah sesuatu sesuai kemampuan. Kalau wartawan membuat berita positif yang membangun, saya membuat lagu untuk anak Indonesia. Apa yang terlahir dari karya merupakan hasil rangsangan atau imajinasi dari kekayaan seniman. Saya bangga dengan karya-karya seniman Indonesia.

 

Mengapa Eyang kembali begitu semangat?

Saya merasa bersalah karena sudah terlalu lama diam dan membiarkan anak-anak Indonesia kehilangan arah. Memang, sebagiannya disebabkan perusahaan rekaman tidak memberikan celah agar lagu positif untuk anak Indonesia dibuat. Tetapi saya paling bertanggung jawab karena tidak melakukan apa pun. Makanya, begitu sembuh dari kanker saya berdoa. Saya memohon kepada Tuhan untuk diberikan kekuatan bisa berbuat sesuatu untuk anak Indonesia.

 

Berapa lama Eyang tidak membuat lagu anak-anak?

Lama sekali, 20-30 tahun lalu. Mungkin terakhir kali yang Papiko itu.

 

Mengapa beberapa tahun ini lagu-lagu yang memiliki makna positif dan membangun jiwa anak-anak seperti ditinggalkan?

Salah satu penyebab anak-anak kehilangan lagu-lagu yang sesuai dengan mereka, karena perusahaan rekaman tidak ingin menjualnya. Bisnis (uang) lebih penting daripada bisnis hati. Saya melihat ada beberapa yang membuat visi untuk bisnis hati, tetapi  kurang gaungnya. Sekadar ada saja. Nah, saya ingin menggaungkan kembali lagu-lagu anak Indonesia. Sebenarnya anak-anak itu merindukan lagu-lagu yang membangunkan dunia mereka.

 

Ciri-ciri lagu yang bisa melegenda biasanya memiliki ciri-ciri seperti apa?

Lagunya mengena di hati;  antara lirik dan melodi kawin. Liriknya punya makna yang dalam. Alunan melodinya mengena di hati. Tidak perlu melodi yang susah, cukup yang mengena.

 

Bagaimana Eyang Titiek bisa menciptakan lagu yang penuh makna dan melegenda?

Semua lirik dan melodi seperti sudah ada di kepala dan hati. Saya bisa dengan cepat menciptakan lagu, yang memang sudah terekam di kepala. Jadi jangan ditanya hal tersebut. Saya pernah menciptakan lagu dalam hitungan menit di pesawat.

 

Mana yang lebih baik, penyanyi mengikuti pasar atau pasar mengikuti penyanyi?

Dua-duanya harus menyambung. Tetapi memang lebih baik lagu yang mengikuti pendengar. Nah, penjual, dalam hal ini perusahaan rekaman, lebih memahami keinginan pendengar. Entah bagaimana mereka bisa tahu lagu-lagu yang diinginkan pendengar. Telinga penjual itu sensitif. Lagu-lagu saya pun kalau tidak dibilang mbak Acin (Indrawati Widjaja, Direktur Utama PT Musica Studio’s) bagus, maka album Duta Cinta tidak akan tercipta. Produser atau penjual diberikan telinga sensitif itu dari Tuhan.

Apakah masih ada mimpi lain yang ingin diwujudkan?

Saya ingin fokus dulu dengan Duta Cinta. Memang sudah ada keinginan-keinginan lain,  misalnya, ingin punya Yayasan Cinta Budaya Titiek Puspa. Saya ingin membuat sekolah budaya dan kesenian untuk anak jalanan.

 

Mengapa anak jalanan?

Saya ingin mengambil anak-anak yang tidak mampu untuk diajarkan dalam urusan seni budaya. Anak-anak jalanan itu juga punya mimpi dan cita-cita. Kita sebagai orang berpunya berkewajiban mewujudkan masa depan lebih baik. Memang bukan memberikan cita-cita tersebut terjadi, tetapi setidaknya memberikan mereka hal yang lebih baik.

Beramallah kalian, jangan terlalu perhitungan. Beramal juga melatih kita untuk menolong orang. Membuat kita bisa lebih peka untuk tidak membiarkan orang lain terperosok ke jurang keterpurukan. Sekecil apa pun, kita tolong orang. Jika tidak menolong, jangan menyusahkan. Jika tak bisa membahagiakan orang, jangan membuat orang lain bersedih. Pegangan hidup saya itu: hormati semua orang, baik miskin atau kaya, tua dan muda. Hormati mereka.

 

Tujuan berkarya, apa sih?

Saya mensyukuri karunia karena diberikan kemampuan ini. Jadi apa yang diberikan Tuhan,  itu yang saya kerjakan dan dijaga semampu saya. Siapa sangka melalui karunia (menyanyi), saya bisa menghidupi keluarga, adik-adikku. Saya bisa membahagiakan satu dua orang. Dan terpenting, saya bisa berbuat sesuatu untuk anak Indonesia.

 

Seberapa besar seni memengaruhi budaya?

Manusia kalau tidak punya seni dan budaya, itu bar bar.

Revolusi mental itu sebenarnya mental kita. Apa yang sudah kita pelajari sebenarnya sudah ada, makanya perlu direvolusi lagi agar hal-hal yang pernah kita ketahui diingat ulang.

 

Baru-baru ini ada teror bom di Jakarta. Bagaimana komentar Eyang Titiek?

Saya berterima kasih dengan sikap tanggap para aparat TNI, Polri dan aparat keamanan lainnya. Mereka berhasil mengatasi teror ketakutan tersebut dengan cepat. Mungkin jebol, tapi mereka cepat mengatasinya sehingga teror tidak menyebar dan menyebabkan Indonesia hidup dalam ketakutan karena tidak aman. Jika kita ingin Indonesia aman dari terorisme, mari kita berdoa agar Tuhan memberikan keamanan dan kedamaian tersebut.

Teks: La Ode Idris; Foto: Istimewa

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post