Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Teater Sirat Angkat Masalah Identitas di PTN 2018

Salah satu adegan Teater Sirat saat menggabarkan sebuah benih yang siap melahirkan kehidupan di PTN, GBB, TIM, Jumat (12/10/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien).

Berangkat dari pepatah Jawa: ‘Ajining raga saka busana’, yang artinya kehormatan tubuh (yang tampak) dilihat dari pakaian mereka. Teater Sirat mengangkat cerita tentang pakaian yang tanpa disadari sudah menjadi diri atau pribadi penggunanya.

JAKARTA-KABARE.ID: Tubuh-tubuh itu membelah, menggabarkan sebuah benih yang siap melahirkan kehidupan. Benih-benih itu kemudian menjadi telur yang menciptakan masa: angin, api, air, tanah, sampai menumbuhkan tumbuhan. Setelah itu lahirlah hewan melata pertama, hingga masuk ke zaman purba, dan hadirlah manusia.

Itulah adegan pembuka yang dipentaskan oleh Teater Sirat, Solo di Pekan Teater Nasional (PTN) 2018 yang diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada 7-14 Oktober 2018. Tampil pada Jumat (12/10), Teater Sirat membawakan naskah berjudul “Layak”, sebuah cerita tentang kebutuhan manusia untuk berpakaian yang kini sudah tidak terkontrol.

Teater Sirat menggabarkan adegan di mana manusia telah dikuasai oleh pakaian, di PTN 2018, di GBB, TIM, Jumat (12/10/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Secara tidak sadar manusia seperti terasuki oleh pakaian. Pakaian menjadi sebuah permasalahan antar kelompok atau golongan. Akibatnya pakaian menjadi kehilangan fungsinya, dari yang mulanya berfungsi untuk melindungi tubuh beralih fungsi menjadi pembeda atau pembatas antar golongan.

Untuk mengikuti tren atau mode, manusia bahkan harus membeli pakaian yang tidak dibutuhkan. Seakan dibuat haus oleh pakaian, orang-orang semakin berusaha mengejar kebutuhan untuk berpakaian. Entah pakaian itu nantinya pantas dikenakan atau tidak.    

Fenomena ini digambarkan di atas panggung dengan kehadiran manusia yang bersinergi dengan lingkungan. Dimunculkan eksplorasi kain empat warna: merah, kuning, putih, dan hitam yang punya arti masing-masing. Yustinus Popo, Sutradara Teater Sirat mengatakan bahwa di Jawa ada istilah empat saudara manusia atau sedulur papat limo pancer yang ia gambarkan degan simbol warna tersebut.

Teater Sirat menggabarkan adegan di mana manusia telah dikuasai oleh pakaian, di PTN 2018, di GBB, TIM, Jumat (12/10/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

“Pementasan kemudian masuk ke zaman industri, ketika semuanya dihadirkan untuk mengejar target produksi, sehingga alat-alat produksi termasuk kepompong ditekan untuk menghasilkan sesuatu. Bahwa makhluk hidup kecil pun dipaksa untuk mengejar produksi,” kata Yus ketika ditemui Kabare.id, usai pentas di Graha Bhakti Budaya, Jumat (12/10). Digambarkan pula ketika manusia-manusia semakin tergeser dari sisi kemanusiaannya karena alat-alat produksi.

Untuk menampilkan cerita ini, Yus mengaku harus mengumpulkan ratusan potong baju yang diidentifikasikan melalui warna, simbol institusi, simbol partai, dan lainnya. Simbol-simbol itu tentunya dimanfaatkan untuk mengkritik kondisi saat ini, termasuk masa Pemilu dan Pilpres 2019.

“Politik pakaian atau “fashion” berpindah-pindah partai yang ditampilkan hanya sekedar untuk mengejar kekuasaan. Dalam pementasan ini juga digambarkan sososk misterius, entah itu kapitalis atau industri modern. Lalu pemerintah, partai, dan lembaga-lembaga menyampaikan visi mereka sambil “berpakaian” dan menggeser sisi-sisi manusia,” ujar Yus.

Teater Sirat menggabarkan adegan "sampah" pakaian yang siap untuk dimusnahkan, di PTN 2018, di GBB, TIM, Jumat (12/10/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Bicara soal proses poduksi, Yus mengaku mempersiapkan semuanya dalam waktu tiga bulan, mulai dari penulisan ulang naskah (karya ini pernah dipentaskan pada 2013), sampai diskusi, dan membaca-baca lagi tentang situasi, serta kondisi sekarang supaya ada konteks terbarunya.

Pementasan ini dilakukan tanpa narasi untuk menciptakan suasana yang intim dengan penonton. Menurut Yus, penonton adalah bagian dari pertunjukan yang juga ikut bermain. “Perasaan dan isi kepala mereka (penonton) juga memuat banyak hal. Kita di sini menampilkan teater menjadi satu bacaan alternatif untuk membaca situasi saat ini,” ujarnya. (bas)

Baskoro Dien

KOMENTAR

Popular Post