Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Teater Ghanta Memvisualkan Ceramah Sultan Takdir Alisjahbana di PTN 2018

Teater Ghanta memvisualkan ceramah Sultan Takdir Alisjahbana di PTN 2018, Selasa (9/10/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Teater Ghanta dari Jakarta mendapatkan tepukan meriah dari penonton di Pekan Teater Nasional 2018, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Selasa (9/10/2018).

JAKARTA-KABARE.ID: Membawakan karya berjudul Partitur 4717 Side B, Teater Ghanta mencoba mempresentasikan ulang rekaman ceramah (arsip audio) Sultan Takdir Alisjahbana tahun 1970 di Taman Ismail Marzuki yang membahas tentang krisis posisi bangsa Indonesia sebagai rumah suatu bangsa pasca kolonial baru di dunia.

Salah satu catatan menarik dari rekaman ceramah Sultan Takdir Alisjahbana ini adalah menjelaskan bagaimana bangsa besar seperti Indonesia ternyata kalah mental dari  Belanda yang jauh lebih kecil dari Indonesia.

Catatan menarik lainnya adalah, semua kata-kata yang tertangkap dalam bentuk rekaman berdurasi 47 menit itu mampu diucapkan ulang (baca: dihafal) oleh empat pemainnya.

Dalam keterangan di katalog yang diterima Kabare.id, proses kerja Teater Ghanta pada pementasan kali ini bergulir dari studi pada dua hal utama, yaitu Ujaran/Ceramah subjek dalam rekaman dan Gangguan/Noise pada rekaman untuk sampai pada penubuhan.

Bunyi dan suara diproduksi ulang melalui logika partitur dengan mendeteksi bahasa dan nafas (subjek dalam rekaman). Sementara ambience dan cacat digital kemudian dinotasi melalui kategori kata-kata, bunyi, diam atau jeda.

Teater Ghanta memvisualkan ceramah Sultan Takdir Alisjahbana di PTN 2018, Selasa (9/10/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Tubuh dan bahasa didorong untuk mengalami jarak pemaknaan sebagai usaha menemukan kembali percakapan atas trauma wacana kebudayaan nasional.

Bertindak sebagai sutradara adalah Yustiansyah Lesmana, sementara Faris As Jaka, Kartika C. Manurung, Diah Lestari, dan Ikke Dirga Santosa bertugas sebagai pemain. Pertunjukan mereka dibantu Ale Utsman (artistik), Zamzam (penata cahaya), Imam Maulana (penata suara), Ipeh Cupachabra (menejer produksi), dan Prasetyo Agung Ginanjar (menejer panggung).

Teater Ghanta sendiri didirikan pada tahun 1995 di Universitas Nasional Jakarta. Namun sejak 2014 mereka memutuskan menjadi independen untuk mengakomodasi perubahan jalan kreatifitas.

Selain Teater Ghanta, beberapa kelompok teater yang sudah dan akan tampil di PTN 2018 antara lain: Komunitas Berkat Yakin, Lampung dan Teater Language, Sumenep-Madura (7 Oktober), Sandiwara Petta Puang, Makassar dan Teater Sakata, Padangpanjang (8 Oktober), Komunitas Polelea, Sigi-Sulawesi Tengah (9 Oktober).

Kemudian Teater Selembayung, Pekanbaru dan Teater Bel, Bandung (10 Oktober), Teater Akar, Tegal dan Teater Yupa, Samarinda (11 Oktober), Teater Sirat, Surakarta dan Akarpohon, Mataram (12 Oktober), Teater Rumahmata, Medan dan Nara Teater, Lewolema, Flores Timur (13 Oktober), Teater Tobong, Surabaya dan Kala Teater, Makassar (14 Oktober 2018). (bas)

 

*tulisan ini pernah direvisi pada 10 Oktober 2018

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post