Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Tato Mentawai, Identitas dan Tanda Kedewasaan Suku Mentawai

Foto: Kemenparekraf RI/ Pesona.travel

Saat datang ke Mentawai, pasti kita akan bertemu penduduk asli Mentawai dengan tubuhnya penuh tato. Konon, tato Mentawai adakah tato tertua di dunia yang dikenal dengan nama Titi.

MENTAWAI – KABARE.ID: Bagi masyarakat Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Di Mentawai, tato juga menunjukkan identitas dan perbedaan status sosial atau profesi.

Sebagai contoh, tato Sikerei, sebutan dukun di Mentawai, berbeda dengan tato pemburu. Tato pemburu biasanya bergambar binatang tangkapan, seperti babi, rusa, monyet, burung, atau buaya. Sedangkan tato Sikerei bergambar bintang “Sibalu-balu”.

Tato pertama kali tercatat oleh peradaban Barat dalam ekspedisi James Cook pada tahun 1769. Menurut beberapa peneliti, tato tertua ditemukan pada mumi Mesir dari abad ke 20. Namun, seni lukis tubuh ini ditemukan di hampir semua bagian dunia dengan berbagai desain dan pola.

Tato Mesir tertua ditemukan pada 1300 SM, sedangkan suku di Mentawai sudah menato tubuh mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada zaman logam, atau sekitar 500 SM - 1500 SM. Mereka merupakan bangsa Proto-Melayu yang berasal dari daratan Asia, Indocina.

Baca juga: 7 Fakta Kapal Pinisi, Kapal Tangguh Karya Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Berdasarkan tradisi Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam tradisi orang Mentawai, objek seperti batu, hewan, dan tumbuhan harus diabadikan di tubuh mereka. Mereka menganggap semua hal memiliki jiwa. Fungsi lain dari tato adalah seni, orang Mentawai menato tubuh mereka sesuai dengan kreativitasnya.

Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, Arat Sabulungan. Istilah ini berasal dari kata “sa” yang artinya koleksi, dan “bulung” berarti daun. Kumpulan daun yang disusun dalam sebuah lingkaran dari kelapa atau pucuk pohon sagu, diyakini memiliki kekuatan magis, yang disebut Kere atau Ketse.

Kekuatan magis ini digunakan sebagai media pemujaan terhadap Tai Kabagat Koat (Dewa Laut), Tai Ka-leleu (Dewa Bumi), dan Tai Ka Manua (Dewa Langit).

Arat Sabulungan digunakan dalam upacara, kelahiran, pernikahan, pengobatan, pindah rumah, dan tato. Ketika anak laki-laki memasuki usia 11-12 tahun, Sikerei dan Rimata (kepala suku) akan bernegosiasi untuk menentukan hari dan bulan pelaksanaan tato. Setelah itu, dipilihlah Sipatiti, orang yang menato. Keahlian Sipatiti harus dibayar dengan seekor babi.

Baca juga: Tana Toraja Tersohor Hingga ke Pelosok Dunia Karena Kekayaan Budayanya

Sebelum menato, diadakan upacara yang dipimpin oleh Sikerei di Puturukat, semacam galeri milik Sipatiti tersebut. Tubuh anak laki-laki yang akan tato digambar dengan tongkat. Sketsa pada tubuh kemudian ditusuk dengan jarum kayu.

Tubuh anak dipukul perlahan-lahan dengan tongkat kayu untuk memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit. Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami, dari campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post