Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Tari Sintren, Tarian Mistis dari Pesisir Utara Jawa

Foto: Kemenparekraf RI/ Pesona.travel

Tari Sintren dapat dimainkan oleh siapapun. Namun jika yang menari adalah seorang perawan, maka roh Putri Sulasih akan merasukinya dan membuat sang penari tampil lebih cantik dan anggun saat menari.

JAKARTA - KABARE.ID: Tari Sintren, adalah tarian mistis yang tersebar di daerah pesisir Utara Jawa, mulai dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kuningan, hingga Pekalongan.

Menurut kepercayaan warga, Tari Sintren merupakan kisah cinta antara Raden Sulandono dengan Putri Sulasih.

Raden Sulandono adalah putra dari pasangan Bupati Kendal Ki Bahurekso dan Dewi Rantamsari (Dewi Lanjar), sementara Putri Sulasih merupakan rakyat biasa dari Desa Kalisalak.

Hubungan keduanya tidak mendapatkan restu dari Ki Bahurekso. Akhirnya Sulasih mengabdikan dirinya sebagai penari sedangkan Raden Sulandono pergi bertapa.

Tidak tega melihat anaknya menderita, roh dari Dewi Lanjar lalu merasuki Putri Sulasih dan memanggil Raden Sulandono melalui alam gaib.

Dahulu, Tari Sintren tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Hanya wanita perawan saja yang boleh menjadi seorang penari Sintren. Namun kini tari sintren dapat dipentaskan siapa saja untuk sekedar hiburan dan melestarikan budaya.

Satu hal yang unik adalah si penari utamanya selalu menggunakan kacamata hitam dan terlebih dahulu dimasukkan ke dalam sebuah kurungan ayam dengan posisi sekujur tubuh terikat tambang. 

Setelah si penari berada di dalam kurungan, pawang kesenian Sintren akan mulai melantunkan doa sembari membakar kemenyan. Saat kurungan ayam dibuka, ikatan yang membelit penari sudah terlepas dan si penari pun sudah cantik dengan baju khas penari Jawa.

Keunikan lainnya adalah, jika sang penari adalah seorang perawan maka roh Putri Sulasih akan merasukinya dan membuat si penari tampil lebih cantik dan anggun saat menari. 

Sang penari pun dijamin akan baik - baik saja, karena ada pawang yang akan menuntun jalannya tarian tersebut. (*/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post