Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Tambrauw, Wisata Favorit Para Pecinta Satwa Langka

Foto: Kemenpar RI

Tambrauw merupakan kabupaten di Papua Barat yang menjadi habitat satwa langka. Selain menjadi habitat burung cendrawasih, wilayah ini juga menjadi habitat penyu belimbing, penyu terbesar di dunia.

PAPUA BARAT-KABARE.ID: Kabupaten Tambrauw di Papua Barat memiliki potensi pariwisata yang besar. Zona pariwisata ini dibagi menjadi dua yakni, Blue Wonder dan Green Wonder.

Blue Wonder merupakan potensi pariwisata yang berada di sekitar pesisir pantai meliputi peninggalan tank perang dunia ke II, habitat burung cendrawasih, pulau dua, serta pantai Jeen Womom yang menjadi habitat terbesar penyu belimbing.

Sementara itu, Green Wonder merupakan potensi pariwisata di sekitar pegunungan yang meliputi Bukit Sontiri dengan fenomena ribuan jaring laba-laba di pagi hari, mata air panas War Aremi, pemandangan matahari terbit di distrik Miyah, panorama air terjun Anenderat, serta pengamatan Cendrawasih dan satwa lainnya.

Baca juga: Mandeh, Raja Ampatnya Sumatera Barat

Bupati Tambrauw Gabriel Asem mengatakan, pihaknya menerapkan strategi pembangunan infrastruktur untuk menjaring wisatawan.

"Yang kami lakukan adalah membangun infrastruktur dulu seperti jalan dan jembatan sebagai akses menuju destinasi,” ujarnya dalam keterangan resmi Kemenpar pada 9 Maret 2019.

Saat ini bandara di Sausapor sudah siap dengan jalan akses menuju bandara selebar 50 meter.

Lebih lanjut, Gabriel menjelaskan aksesibilitas memasuki Tambrauw, dapat melalui dua titik, Manokwari dan Sorong. Wisatawan bisa masuk melalui Manokwari atau Sorong menggunakan direct flight dari Jakarta atau Makassar, kemudian dilanjutkan menggunakan moda transportasi darat, laut, atau udara menuju Tambrauw.

Baca juga: Kopi Indonesia Jadi Primadona di Festival Pariwisata Thailand

Dengan kekayaan flora dan fauna, Tambrauw disebut sebagai Kabupaten konservasi. Istilah ini mulai didengungkan oleh Gabriel, saat terpilih menjadi Bupati Tambrauw pada tahun 2011.

Luas Tambrauw sekitar 1,1 juta hektar, sekitar 80 persennya adalah hutan dengan fungsi lindung dan konservasi. Namun, saat ini Pemda sedang melakukan sinkronisasi dengan Pemerintah pusat mengenai penyediaan ruang untuk pengembangan pariwisata.

"Kita lakukan revisi menjadi 60-40. Jadi, 40 itu adalah ruang yang bisa dikelola, di dalamnya ada pertanian hingga pariwisata," ujar Gabriel Asem.

Baca juga: Menikmati Sensasi "Nomadic Tourism" di Glamping De’Loano

Ia menuturkan, pemberian ruang yang lebih luas untuk diolah ini tidak berarti melupakan pelestarian. Sebagai upaya menjaga pelestarian alam sekaligus sebagai ekowisata baru, Pemerintah Kabupaten Tambrauw meluncurkan Pin Tambrauw untuk pemeliharaan lingkungan kawasan strategis.

Setiap wisatawan yang ingin mengunjungi Tambrauw harus membeli Pin dan dikenakan biaya tarif masuk. Untuk wisatawan domestik dikenai tarif Rp200 ribu, sementara wisatawan asing membayar tarif Rp400 ribu. Pin ini dapat dibeli di bandara Domine Eduard Osok di Sorong Papua Barat.

Tambrauw menargetkan 5.000 wisatawan tahun ini. Walaupun belum terdata secara spesifik, namun Gabriel Asem yakin Tambrauw merupakan pilihan destinasi wisatawan mancanegara asal Eropa seperti Prancis dan Belanda, khususnya para pencinta burung. (rls)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post