Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Taman Budaya Kalsel Gelar Seni Budaya Banua

Penampilan Sanggar Ading Bastari, Barikin, pada Gelar Seni Budaya Banua di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Sabtu (14/4) malam. (Foto: Kabare.id/ysh).

Menyajikan kekayaan lokal yang bernuansa tradisi hingga kontemporer, islami hingga kritik sosial dalam satu tarikan nafas.

BANJARMASIN-KABARE.ID : Upaya memacu kreativitas di kalangan pekerja seni di Kalimantan Selatan terus digalakkan. Kali ini Taman Budaya Kalimantan Selatan menggelar seni budaya Banua, dengan menghadirkan 6 grup tari, musik, madihin, hingga teater.

Pergelaran yang berlangsung di panggung Terbuka Bachtiar Sandreta, yang ada di lingkungan Taman Budaya, berlangsung sekitar dua jam, Sabtu (14/4) malam, dihadapan ratusan penonton lokal.

Sebagai pembuka, tampil kelompok John Tralala dengan madihin humornya. Madihin adalah salah satu kesenian tradisional khas Banjarmasin, yang menampilkan papadah, madah atau nasihat, bernuansa pantun, diiringi dengan musik terbang (rebana) yang dipukul secara ritmis, berulang-ulang, oleh John bersama 3 putra-putrinya, didukung vokalis bertubuh kuntet bernama Anang. Dengan alasan itu, John berkelakar bahwa anggota kelompoknya 4,5 orang. Nasihat hingga kritik John, mengalir lancar, menyenggol kanan kiri, menyerupai sketsa sosial, dengan isu personal, lokal maupun nasional.

Disusul Sanggar Lawang Banjarmasin menampilkan teater anak, dengan kekuatan 30 pemain, menampilkan kisah religius "Cinta Rasul". Dilanjutkan Sanggar Nuansa menampilkan sebuah tarian persembahan yang dimainkan para remaja dengan suasana yang ceria. Kostum Sasirangan dan air guci mendominasi suasana panggung.

Panggung terbuka di Taman Budaya ini, lantai dasarnya setinggi 2 meter. Sehingga memerlukan jarak tonton yang lumayan jauh jika ingin melihat para penarinya satu badan utuh.

Pertunjukan yang diresmikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan M.Yusuf Effendi, menemukan titik puncaknya saat sekelompok anak-anak dari desa Barikin, 130-an km dari pusat kota Banjarmasin. Mereka mengusung problem kerusakan lingkungan, gempuran teknologi informasi, hingga permainan anak-anak yang hilang.

Digarap dengan iringan gamelan Banjar, pertunjukan bertajuk "Dimana Rumah Kami?", garapan Upi Gondrong, dari Sanggar Ading Bastari Barikin, mengaduk-aduk perasaan ketika. Adegan demi adegan : dolanan, tarian, ratapan burung Kalahiyang dipuncaki dengan peraga-peraga alat berat yang biasa untuk menghancurkan tanah, pohon, bahkan gunung, dan lain-lain dan keasyikan anak-anak dengan permainan barunya : lap top.

Mahasiswa S2 ISI Surakarta ini, menciptakan karya tersebut karena prihatin dengan lingkungannya yang rusak. "Saya perihatin dengan kerusakan lingkungan di wilayah kami. Juga prihatin melihat anak-anak yang tersandera ponsel, laptop, sehingga tak mengenal lagi permainan tradisional mereka," ujarnya Minggu (15/4/2018) malam, saat Kabare,id bersama beberapa seniman Kalsel, dan staf Direktorat Kesenian,  berkunjung ke sanggar merangkap rumah tinggalnya di Desa Barikin saat hujan.

Penampilan Sanggar Perpekindo Banjarmasin, dengan Tarian Zapin: "Bersujud dan Harapan". (Foto : Kabare.id/ysh).

 

Menjelang akhir pertunjukan tampil Sanggar Perpekindo dengan tarian garapan baru berbasis zapin berjudul "Zapin Bersujud dan Harapan". Sebagai kelompok tari terkemuka di Kalsel, ketujuh penari perempuan yang tampil malam itu, rampak sekali, sehingga berhasil menyajikan tarian yang indah dengan pola lantai yang dinamis.

Sebagai penutup, tampil kelompok musik kontemporer Banjarmasin yang menamakan diri NSA Project Movement yang dimotori oleh Noviandi, lulusan S2 ISI Surakarta. Maksud hati ketujuh musisi ini, mengeksplor alat musik tradisional Kuriding -- alat musik tiup dan tarik khas Banjarmasin yang bersuara lembut -- bersama alat-alat musik Barat dan tradisional Banjar. Sayangnya, eksistensi Kuriding (yang sekalius dijadikan judul pertunjukan) lebih banyak tenggelam oleh bunyi-bunyian lain yang lebih dominan. Penampilan mereka mengingatkan kita pada penampilan I Wayan Sadra -- dosen Novi -- pada festival Internasional Art Summit beberapa puluh tahun lalu di Jakarta. "Saya memang pengagum Sadra hehehe," ujar Novi usai pertunjukan.

NSA Project Movement mengusung musik kontemporer "Kuriding". (Foto: Kabare.id/ysh)

 

Pementasan ini, menurut Kepala Taman Budaya Suhariyanti, merupakan debut pertamanya adalah setelah diangkat memimpin lembaga seni ini. Rencananya, setelah pertunjukan ini, akan disusul puluhan kegiatan seni budaya lainnya, di Taman Budaya Kalimantan Selatan. Dengan harapan Taman Budaya ini kembali diperhitungkan di tingkat nasional.

 

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post