Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Sulawesi Tenggara Ekspor 18 Ton Serabut Kelapa ke China

Gubernur Sulawesi Tenggara saat hendak melepas ekspor serabut kelapa ke China. (Foto: Istimewa)

Ekspor komoditas serabut kelapa ini menjadi angin segar bagi ekspor nonmigas Sultra. Sebelumnya Sultra memiliki komoditas ekspor unggulan berupa Cocoa Butter, namun terhenti akibat pandemi Covid-19.

JAKARTA - KABARE.ID: Untuk Pertama kalinya, Kementerian Pertanian melalui karantina Pertanian Kendari, memfasilitasi ekspor serabut kelapa sebanyak 18 ton dari Sulawesi Tenggara (Sultra) ke Wheifang-China. Komoditas senilai Rp52,5 juta ini akan di ekspor melalui Pelabuhan Kendari New Port Bungkutoko.

“Ekspor komoditas serabut kelapa ini menjadi angin segar bagi ekspor nonmigas Sultra. Sebelumnya Sultra memiliki komoditas ekspor unggulan berupa Cocoa Butter, namun adanya pandemi Covid-19 ini membuat produksi komoditas tersebut terhenti,” ujar Kepala Karantina Pertanian Kendari, Prayatno Ginting, Selasa (7/7/2020).

Menurut Ginting, selain Cocoa Butter, wilayah Sultra memiliki beberapa komoditas yang dapat dijadikan komoditas unggulan diantaranya kopra, kakao, beras, jambu mete, cengkeh, jagung, lada, kemiri dan sarang burung walet. “Namun saat ini komoditas dari Sultra ini lebih banyak dikirim di pasar domestik terlebih dahulu dan baru diekspor, contohnya jambu mete,” tambahnya.

Untuk memenuhi persyaratan ekspor dari negara tujuan, serabut kelapa ini telah diperiksa dan dinyatakan bebas organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pemeriksaan fisik dan administrasi juga dilakukan terhadap serabut kelapa ini.

Sampel diperiksa di laboratorium karantina tumbuhan dengan pengujian secara mikroskopis untuk mengetahui adanya OPT pada komoditi serabut kelapa. “Tidak ada serangga spesifik yang dipersyaratkan negara tujuan, kita hanya menjaga komoditas harus bebas dari hama gudang Necrobia rufipes atau Alphitobius spp,” jelas Prayatno.

Sementara itu, Gubernur Sultra, Ali Mazi mendukung penuh ekspor serabut kelapa ini dan siap memberikan dukungan dan mendorong agar ekspor ini terus berkelanjutan. “Kita mengapresiasi capaian ini, dan saya berharap dengan meningkatnya kegiatan-kegiatan ekspor di Sulawesi Tenggara dapat memicu peningkatan investasi,” terang Ali Mazi.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil mengatakan bahwa wilayah Sultra ini butuh banyak dorongan agar bertambah komoditas yang bisa diekspor langsung. “Karantina Pertanian Kendari mencatat hasil pertanian di sini lebih banyak di kirim ke daerah lain dan kemudian di re-ekspor. Sangat disayangkan karena potensi pertanian di Sultra termasuk tinggi,” imbuhnya.

Berdasarkan data IQFAST di Karantina Pertanian Kendari, pada semester awal tahun 2020 tercatat lalu lintas domestik 9 produk pertanian unggulan asal Sultra sebanyak 50.157,4 ton dengan nilai Rp 861,7 miliar.

Komodits tersebut masing-masing Kopra sebanyak 24.282 ton, Kacang Mete sebanyak 4.424 ton, Kakao 1.150 ton, Jagung sebanyak 5.417 ton, Cengkeh sebanyak 6.938 ton, Lada sebanyak 642 ton, pala 68 ton, Kemiri sebanyak 1.431 ton dan beras sebanyak 10.984 ton.

Menurut Jamil, ditiap unit pelaksana Karantia Pertanian termasuk Kendari siap memberikan pendampingan jika ada masyarakat yang ingin melakukan ekspor produk pertanian. Layanan Klinik Ekspor di Pelabuhan Kendari New Port (KNP) akan siap menerima pengguna jasa setiap hari.

“Pendampingan Karantina Pertanian ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian untuk meningkatkan ekspor produk pertanian hingga tiga kali lipat, terlebih di masa pandemi ini sektor pertanian menjadi salah satu andalan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi Indonesia,” tandas Jamil. (*)

 

Sumber: Asiatoday.id

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post