Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

“Social Entrepreneurship”, Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Khusunya Para Petani

Diskusi investor bertajuk “Social Entrepreneurship: How to Start and Why is it Growing in The Developed Countries?” di Fairmont Hotel, Jakarta, Kamis (28/6/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Pelaku bisnis bisa menerapkan konsep “social entrepreneurship” dengan menggandeng komunitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dilakukan oleh Burgreens dengan menggandeng 200 petani dari sekitar 20 komunitas petani di Indonesia untuk menyediakan bahan dasar untuk bisnis restoran.

JAKARTA-KABARE.ID: Bizcom Indonesia, komunitas pelaku bisnis dan investor kembali menggalar acara diskusi investor ke-16 bertajuk “Social Entrepreneurship: How to Start and Why is it Growing in The Developed Countries?” di Fairmont Hotel, Jakarta, Kamis (28/6/2018).

Diskusi kali ini mefokuskan bagaimana caranya agar para pelaku bisnis dapat mengetahui cara membentuk social entrepreneur sehingga bisa membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani di daerah.

“Acara ini digelar untuk membahas lebih dalam mengenai sosial entrepreneurship di negara maju yang meliputi cara membentuk social entrepreneurship dan tantangannya dalam pasar di Indonesia, termasuk tantangan memperoleh investor,” ujar CEO Bizcom Indonesia, Sendra Wong saat dijumpai Kabare.id di sela acara.

 

Menerapkan konsep “sosial entrepreneurship” di Indonesia

Ada berbagai cara untuk menjadi pelaku bisnis yang menerapkan social entrepreneurship di Indonesia. Salah satunya, bekerja sama dengan komunitas petani, seperti yang dilakukan oleh Burgreens. Helga Angelina, Co-Founder Burgreens menjelaskan, pihaknya menetapkan konsep bisnis social entrepreneurship kepada 200 petani dari sekitar 20 komunitas petani di Indonesia.

Helga mengambil bahan-bahan dasar untuk bisnis restorannya dari para komunitas petani tersebut dari berbagai daerah, mulai dari Cipanans, Bogor, Banyuwangi, Bali, dan lainnya. “Seiring dengan berkembangnya bisnis kami, makin besar pula dampak sosial yang dirasakan oleh komunitas petani,” ujar Helga.

Social entrepreneurship, dikatakan Helga juga dapat memberikan lapangan pekerjaan baru bagi para pelajar. “Para petani merekrut anak-anak SMA di daerah mereka untuk belajar menjadi petani organik,” ujarnya.

Acara diskusi kali ini menghadirkan puluhan pelaku bisnis sosial dan investor. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Potensi dan kearifan lokal Indonesia

Melalui acara ini, Sendra berharap para pelaku bisnis semakin sadar akan potensi dan kearifan lokal yang dimiliki oleh Indonesia. Apalagi Indonesia dikenal dengan jiwa sosial yang tinggi dan semangat gotong royong yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.

“Terus kembangkan kearifan lokal bangsa Indonesia, sehingga kelebihan ini menjadi kekuatan Indonesia untuk menjadi pemimpin di industri digital maupun social entrepreneurship,” ujarnya.

Acara diskusi kali ini menghadirkan puluhan pelaku bisnis sosial dan investor, antara lain: Helga Angelina, Co-Founder Burgreens; Tom Schmittzehe, Business Development Director Uberiscapital.com; Dita Aisyah, Chief Business Development Officer Binar Academy; Indra Cahya Uno, Advisor Perkumpulan Gerakan OK OCE, dan para pelaku bisnis lainnya. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post