Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Skandal Balai Kota Batavia Diangkat ke Layar Lebar

Gedung Stadhuis van Batavia yang kini dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. (dok. Kabare.id/Dhodi Syailendra)

Balai kota Batavia (bahasa Belanda: "Stadhuis van Batavia") yang kini lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah punya "sejuta” cerita menarik di dalamnya.

JAKARTA-KABARE.ID: Sejarawan Yapi Panda Abdiel Tambayong atau lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado menyebut, gedung Stadhuis punya banyak cerita menarik, salah satunya bahkan melahirkan kosakata hidung belang pada masa penjajahan Belanda.

“Pada masa penjajahan Belanda, perzinahan adalah kejahatan besar, hukumannya diarak keliling dengan hidung pelaku yang diberi warna hitam. Dari situlah muncul istilah hidung belang,” ujar Remy dalam acara peluncuran trailer film “Sara & Fei – Stadhuis Schandaal” di Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Gedung Stadhuis pada masa penjajahan Belanda sering dijadikan lokasi eksekusi agar masyarakat merasa takut melakukan kejahatan. Kemudian, oleh “pribumi” pada saat itu, gedung ini dijuluki gedung pertunjukan.

Sutradara Adisurya Abdi sempat vakum selama 14 tahun, dan kembali membuat film berjudul “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal”. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Cerita menarik tentang gedung Stadhuis membuat sutradara Adisurya Abdi yang sempat vakum selama 14 tahun, kembali tergerak untuk membuat film. Bekerja sama dengan Xela Pictures, dia menyutradarai sebuah film drama misteri berlatar sejarah berjudul “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal” yang akan tayang pada 26 Juli 2018 mendatang.

“Spesialis saya memang di drama, saya tidak akan lari dari itu,” ujarnya.

Adisurya Abdi adalah sutradara kawakan yang telah berkiprah di industri film Tanah Air sejak 1980 dengan karya filmnya antara lain Roman Picisan, Hallo Sayang, Setitik Embun, dll. Ia juga pernah menempuh pendidikan di Advanced School for Film Directing di Los Angeles, Amerika Serikat pada 1986-1987.

Dalam membuat sebuah film, ia mengaku tidak ingin disebut latah atau hanya mengikuti tren yang sudah ada. Ia juga mengaku ingin menggunakan format terbaru, seperti teknologi film computer generated imagery (CGI) untuk menyasar penonton kalangan muda.

“Teknologi film dulu dan sekarang jauh berbeda, bagaimana cara untuk mengetahuinya, ya dengan membuat film,” ujarnya.

Amanda Rigby (kanan) dan Tara Adia (kiri), siap menghibur penonton Indonesia lewat Film “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal”. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Film “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal” bercerita tentang mahasiswi ilmu budaya Indonesia bernama Fei (Amanda Rigby) yang tengah mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia.

Saat mencari bahan riset di kawasan Kota Tua Jakarta, ia bertemu dengan seorang gadis keturunan Belanda (Tara Adia) yang kemudian dikenal sebagai Saartje Specx atau dipanggil Sara.

Singkat cerita, Sara kemudian membawa Fei ke masa lalu Batavia pada 1628, dimana kisah Sara dan kekasihnya, Pieter berakhir tragis. Sara membawa Fei untuk dijadikan media pelurus sejarah yang membersihkan skandal cintanya.

Film “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal” dibintangi artis-artis pendatang baru, seperti Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hawakin, Rency Milano, dan Mikey Lie.

Film ini juga dimeriahkan penampilan artis senior, seperti Volland Volt, George Mustafa Taka, Roweina Umboh, dan Tio Duarte. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post